Setelah sejak minggu pertama Desember 2005 yl terus menerus memulung di Batam akhirnya aku mulai merasa kelelahan.Memulung di perkotaan Nagoya-sei jodoh membutuhkan konsentrasi tinggi.Setiap hari saya bangun rata-rata jam 5 atau jam 6 pagi sejak itu hingga malam saya harus selalu bersiaga terhadap apa saja.



Namanya hidup di jalanan...kewaspadaan adalah nomor
satu...itu sebabnya saya seolah terkondisi untuk
selalu "aware" terhadap apa dan dengan siapapun saya
sedang berhadapan.

Mungkin karena terlalu lama dalam kondisi seperti itu
sehingga sering sekali sulit membedakan antara waspada
dan curiga.Setiap bertemu dengan orang entah dia
pemulung, toke, pemilik barang,tukang semir, teman
tukang parkir, pendeta atau siapa saja...pertanyaan
yang otomatis muncul dibenak saya adalah "siapa, apa,
bagaimana , apa maksud dan tujuannya".

Setiap bertemu orang -secara naluri- dalam waktu 5
detik ,situasi menuntut untuk saya untuk bisa
menjawab pertanyaan itu.

Kalau pertanyaan itu terjawab dengan waktu lebih dari
5 detik saya merasa saya sudah boros waktu dan tidak
efektif.Dalam situasi tertentu(ketika menawar atau
membeli barang misalnya )kelambanan itu bisa
mengakibatkan hilangnya suatu peluang.

Setelah "ngelmu" selama hampir 8 bulan di Jombang
jatim Akhir November 2005 saya berangkat ke batam
setelah sebelumnya mampir selama seminggu di
bekasi.Sejak itu sepertinya tidak ada waktu istirahat
buat saya.

setiba di batam saya 3 minggu tinggal di rukonya
Gintingdi komplek eksekutif centre sei panas.Tapi
dasar pemulung yang selalu ingin bebas...saya koq
malah nggak betah walau disuruh menempati kamar
ber-AC.

Akhirnya saya putuskan untuk memulung saja di
perkotaan Nagoya sei Jodoh Batam ...kembali ke habitat
semula meskipun resikonya saya harus tinggal di rumah
liar yang saya bayar 150 ribu sebulan.

ktika itu saya ber-toke ke Herman Surbakti di lokasi
Ginting dulu disamping Oasis ..setelah 2 bulan saya
putuskan untuk jadi pemulung independent saja.Tidak
terikat sana-sini yang penting segala hutang aku
lunasi.

Kini setelah 5 bulan berlalu...tanda2 kejenuhan karena
tiap hari memulung mulai terasa.
Ada beberapa kemajuan dalam karier kepemulungan ku
selama 5 bulan terakhir tapi ada juga beberapa rencana
dan usaha yang gagal yang membuat hati dan pikiran
menjadi ;lebih capek.

Ada beberapa tanda kelelahan rohani yang saya
kenali...klo sdh jenuh memulung biasanya saya mulai
gampang marah-marah sama teman2 pemulung di jalanan.
dalam keadaan capek jangankan pemulung pendeta-pun
kadang saya marahi...alias saya "tatar"

Tanda-tanda lainnya adalah saya mulai
mengkhayal/mengimajinasikan sesuatu yang sebenarnya
diluar jangkauan nalar saya sebagai seorang "pemulung
full time"....

Sekitar 2 minggu terakhir entah knapa saya mulai
mengkhayal dan mengkalkulasi berapa modal yang
dibutuhkan untuk menguasai, merebut/meng-kup perbesi
tuaan di batam yang selama ini dikuasai oleh A-Hok
dari PT.Karya Sumber Daya di Bukit abdullah.

Saya kalkulasi dan coba tanya beberapa teman akhirnya
kami berkesimpulan bahwa hanya butuh 15 milyar untuk
merebut pasar yang selama ini dikuasai oleh A-hok.Itu
sudah cukup untuk mengumpulkan 5-8 ribu ton besi dan
lantas menjual langsung ke pabrik peleburan entahkah
itu di dalam or di luar negeri.

Untuk menguasai barang2 pemulung di seluruh jodoh
Nagoya hanya membutuhkan modal 200-300 juta dan itu
artinya menguasai setengah dari total jumlah barang
pemulung di Batam.

Untuk menguasai barang-barang dari seluruh pemulung di
Batam sebenarnya hanya membutuhkan modal antara
800-1000 juta.

Kalkulasi itu terjadi begitu saja ...biasanya
menjelang tidur siang atau malam.

kadang saya merasa aneh dengan diri sendiri koq bisa
yach saya mengkhayal setinggi itu ...padahal ketika
itu uang di kantong saya hanya 7 ribu
rupiah....:-).Tapi rasa aneh itu akhirnya hilang
ketika perhitungan tersebut saya bandingkan dgn
perhitungan teman...ternyata kalkulasi kami tidak jauh
berbeda.

Ambisi liar lainnya yang muncul akibat kejenuhan dalam
memulung dalam 2 minggu terakhir ini adalah timbulnya
ide untuk memulung dari dasar laut.

ide ini timbul karena sulitnya saat ini mendapatkan
barang khususnya di perkotaan nagoya dan umumnya di
seluruh batam.

Sebenarnya hal ini sdh dilakukan beberapa penyelam
tradisional...sejak 2 tahun terakhir...tapi sekarang
ini semakin intensif dilakukan.

Caranya adalah dengan mengerahkan penyelam2
tradisional/amatir untuk mengangkat setiap
scrap/besitua yang tenggelam di laut di sekitar pulau
batam.

Dibutuhkan biaya operasi dan peralatan yang tinggi
untuk mendapatkan besi dari bawah laut...tapi hasilnya
juga cukup menjanjikan.

Hingga saat ini baru sekitar 5 persen dari seluruh
besi yang tenggelam di perairan Batam(terutama di
Selat Philiph S'pore)yang bisa diangkat.

kalau saya lihat di gudang A-bi besi yang terangkat
melalui penyelaman tersebut nilainya sangat
menggiurkan.
Bayangkan jangkar kapal seberat 5-10 ton yang diangkat
dari laut dan laku dijual seharga 4 ribu
perkilo...belum lagi hasil lain berupa tembaga,
kuningan dan alumunium yang beratnya ratusan
kilo...ccek...ccek..

Akhirnya saya terjerumus dalam khayalan khas pemulung
..andaikan saya bertemu seorang investor yang siap
mendanai penyelaman besi di perairan sekitar
Batam(terutama di selat Philips S'pre) sebentar saja
saya bisa kaya mendadak...dan tidakakan seperti skrg
ini tinggal di rumah liar dan memulung dengan memakai
motor butut plus keranjang...

saya mulai mengkhayal bagaimana mengerahkan 60
penyelam tradisional dari pulau-pulau disekitar Batam
untuk mensurvey di kedalaman laut mana yang ada
besinya...

saya mulai mengkhayal tentang mengurus perijinan-nya
sampai ke Jakarta.Karena jelas sekali tertulis dalam
konstitusi Indonesia bahwa Bumi, air, dan kekayaan
alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai oleh negara
dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat---bukan untuk kepentingan pemulung semata.

Saya mulai mengkhayal ttg perijinan...mungkin
tercapainya rencana itu saya harus menemui
panglima--entahkah itu panglima polim, panglima laskar
jihad, panglima laskar melayu bersatu(LMB) atau
panglima lainnya:)

Itulah khayalan2 saya, ambisi liar seorang pemulung
yang kecapeqan dan jenuh memulung di perkotaan nagoya
sei jodoh Batam.

Seingat saya imajinasi itu mengalir begitu saja ketika
saya sedang termenung sendiri...mungkin karena
kecapekaan kerja karena baru saja nge-loading 2 ton
besi ke gudang A-hok...., mungkin juga karena gagal
menawar barang disuatu bengkel, atau mungkin karena
saya kalah dalam tawar menawar harga suatu barang.

yang mengerikan kadang saya berpikir untuk memakai
satelit sebagai alat bantu untuk melacak barang besi
tua yang ada di perairan sekitar Batam dan yang ada di
daratan Batam.Namanya juga satelit...pasti canggih
donk...

itulah imajinasi liar saya 2 minggu terakhir...yang
timbul hanya karena jenuh dan capeq memulung.

Tetapi dalam kondisi pikiran yang insyaf, sadar dan
eling...saya teringat akan apa yang pernah dikatakan
Budiman Ginting bahwa idea tau ideologi yang dipimping
oleh ego ketika berhadapan dengan realitas yang
bertolak belakang akan membuat seseorang menjadi gila
alias "sedeng"

Tapi ketika ide/ideologi memimpin ego berhadapan
dengan realitas akan membuat orang itu menjadi
bijaksana.

Akhirnya saya memutuskan untuk cuti dulu sekitar
seminggu dari memulung di pulau batam...daripada ego
saya yang memimpin ide liar tersebut.

Akhirnya saya pinjam credit card-nya Ginting....saya
gesek and saya beli tiket Batam-jakarta pp .Karena
saya adalah "pemulung full time" maka setiap biaya
perjalanan haruslah pihak "kongregasi" yang
menanggungnya... Gitu aja koq repot....:)

Karena daripada "sedeng" lebih baik cuti aja....




dari batam bandar dunia madani
by:siregar, erwin --081372175929
04 Mei 2006 pkl 05:05






























__________________________