Malam Minggu tanggal 29 April dikota Tuban[kota pesisir pantura]diberlakukan jam malam untuk menentramkan masyarakat yang "KESETANAN"melakukan amuk massa saatdilakukan perhitungan suara hasil PILKADA untuk memilih bupati Tuban.

Amuk massa tersebut terjadi karena"ada isue"temuan terjadi kecurangan
penggelembungan suara yang dilakukan oleh pasangan bupati lama[ibu Haeny] yang
dijagokan GOLKAR bertarung merebut jabatan Bupati Tuban periode 2006-201,
sedangkan saingannya pasangan H Noor dan Go Tjong Ping dijagokan PKB -PDIP.

Setelah kurang lebih 5 Jam mendapat KESEMPATAN MENUMPAHKAN akumulasi kemarahan
yang diekpresikan lewat tindakan AMUK MASSA[memang HANYA SATU2NYA "forum"ini
yang dimiliki akar rumput di Indonesia untuk menyuarakan ketidak puasannya atas
ketidak adilan penguasa],rakyat kembali menjalankan rutinitas hidup sehari2,
roda kehidupan kembali normal,kecuali beberapa rakyat yang bernasib
"SIAL"kejaring sweping aparat keamanan.
Memang mengagetkan terjadinya amuk massa tersebut karena Tuban yang selama ini
mendapat julukan kota WALI;secara umum kehidupan sosial rakyatnya adem ayem saja
dan penuh toleransi,meskipun sangat jomplang kondisi taraf hidup rakyat kecil
yang mayoritas berprofesi sebagai buruh, nelayan dan petani dibanding taraf
hidup para elite2 birokratnya yang terlihat WAH banget,apalagi setelah harga BBM
naik.

Terlalu"sederhana" bila beranggapan bahwa Amuk Massa tersebut terjadi MURNI
sebagai reaksi spontan pendukung calon H NOOR;karena bila hal tersebut terjadi,
bu bupati lama tidak mungkin diam saja,dengan duitnya yang berlimpah2 pasti bisa
menggerakan massa tandingan sehingga terjadi bentrokan horizontal, atau dengan
kekuasannya pasti bisa memerintah aparat keamanan untuk bertindak.
Mulusnya amuk massa Tuban tersebut justru menimbulkan TEKA TEKI bagi awam, kok
sedemikian mulus dan begitu gampang,sepertinya tidak masuk akal.

Dengan nalar normal,harta ratusan Milyard yang mampu dikumpulkan ibu Bupati
dari kota sebesar Tuban adalah PRESTASI YANG LUAR BIASA,sangat kontradiksi
dibandingkan dengan mayoritas kehidupan rakyatnya yang tergolong miskin.
Melihat target2 sasaran amuk adalah harta pribadi keluarga ibu Bupati dan
asset Pemda,terkesan bahwa rakyat Tuban sudah"GERAH"dipimpin oleh ibu milyoner
ini.
Mungkin saja kegerahan tersebut dimanfaatkan oleh sang ibu dan Golkar untuk
MENJEBAK RAKYAT DAN LAWAN2 POLITIK GOLKAR melakukan tindakan anarkis agar bisa
DILIBAS melalui hukum,apalagi berdasarkan pengakuan bu Haeny ternyata seluruh
harta bendanya yang dirusak dicover asuransi.
[Sebagai pengulangan strategi yang pernah dilakukan Golkar ketika Akbar
Tanjung "ketangkep basah" Korupsi sebesar 42 Milyard,dibeberapa kota rakyat
terprovokasi merusak kantor Golkar,akibatnya elite Golkar bisa"membuktikan"bahwa
meskipun Golkar diperlakukan tidak adil tetapi tetap mengalah;strategi untuk
mencuri simpati rakyat agar resistensinya menurun].

Sudah menjadi rahasia umum bahwa yang paling mempunyai KEPENTINGAN pada setiap
pilkada adalah"ELITE" POLITIK PUSAT sebagai persiapan PEMENANGAN pemilu 2009.
Setelah DIKECEWAKAN berkali2 dengan janji2 palsu elite2 politik dalam pemilu2
yang lalu,saat ini hampir langka pendukung"fanatik"parpol,yang ada adalah MASSA
MENGAMBANG, sehingga untuk memenangkan pemilu kedepan dibutuhkan dana besar
untuk "membeli"suara para pemilih.
Oleh karena itulah dalam setiap PILKADA elite2 parpol akan allout untuk
memenangkan jagonya agar dalam pemilu 2009 bisa diperas sebagai penyandang dana.
Setelah berlakunya otonomi daerah,Konsentrasi elite2 parpol justru pada
pemilihan bupati bukan pemilihan Gubernur,karena Bupatilah yang menguasai duit.

Mengumpulkan dan menggerakan 5000 lebih massa untuk menyerang sasaran pilihan
yang letaknya tersebar bukanlah pekerjaan yang mudah untuk provokator lokal di
kota sebesar Tuban,sebab gerakan tersebut akan cepat terdeteksi oleh aparat
keamanan.
Gawe sebesar itu hanya bisa berjalan mulus bila ada KEKUASAAN SANGAT KUAT yang
menekan aparat keamanan lokal untuk memuluskan"amuk massa" tersebut.
Kalau kita lihat dalam tayangan televisi cara mereka membobol pintu gerbang
yang dijaga puluhan aparat kepolisian dengan menabrakan truck tronton,rasanya
sungguh MUSKIL bisa terjadi di kota sebesar TUBAN,karena bisa dipastikan setiap
sopir di Tuban kenal dengan petugas polisi begitu sebaliknya.
Jadi hanya sopir yang sudah TIDAK MAU HIDUP di Tuban saja yang berani
melakukan hal tersebut.
Rasanya kejanggalan tersebut bisa terjadi karena sudah ada kompromi sebelumnya
untuk bersama2 melakonkan drama"amuk massa"satu babak.
Padahal reporter radio Elsinta bisa melaporkan sasaran2 berikutnya ketika
massa masih repot membakar kantor KPUD,jadi mustahil aparat keamanan tidak tahu
sasaran2 amuk berikutnya dan membendung gerakan tersebut agar tidak meluas.

Realitanya parpol besar yang sedang"bertarung"di Tuban adalah Golkar melawan
aliansi PDIP-PKB yang merupakan parpol2 terbesar saat ini di Indonesia yang
sangat berambisi memenangkan pemilu 2009 untuk merebut kursi Presiden[ketiga2nya
sudah merasakan manisnya menjadi presiden RI]tentunya CARA HARAM APAPUN akan
dilakukan mereka.
Bisa diramalkan semua akan kecele bila beranggapan aparat keamanan akan mampu
MENGUNGKAP OTAK DAN DALANG kerusuhan Tuban tersebut,paling2 rakyat lapar yang
terprovokasi duit receh yang akan menjadi tersangka utama,tidak beda dengan
penyelesaian kerusuhan2 sebelumnya.
Justru "elite politik" YANG BERTERIAK PALING KENCENG DAN PALING LINCAH
MENGHUJAT AMUK TUBAN YANG HARUS DICURIGAI,karena strategi MALING TERIAK MALING
masih menjadi favorite politikus2 maling di Indonesia!.

nuwun sewu.

singo.