Dalam acara dialog "Playboy Indonesia vs MMI" yang ditayangkan SCTV beberapa hari lalu, hadir pula Bapak Ustad Jefri.Pada acara dialog tsb Pak Ustad menganalogikan tindakan anarkis yangdilakukan FPI terhadap kantor Playboy Indonesia beberapa hari sebelumnya., dgn ilustrasi sbb:



Ada orang yg suka menyetel suara musik keras2 sehingga mengganggu
tetangga2 sekitarnya. Orang itu kemudian ditegur para tetangganya. Tetapi
keesokan harinya, dia masih juga menyetel musiknya keras2. Yang menegur
kali ini Pak RT, ternyata keesokan harinya lagi orang ini masih saja
menyetel musiknya keras2. Datang Pak RW menegurnya. Masih saja belum
mengubah kebiasaannya buruknya yg mengganggu para tetangganya itu.
Akhirnya para tetangga ramai-ramai datang mengamuk di rumahnya, dan
memukul orang tsb.

Komentar Pak Ustad hal tsb peristiwa tsb merupakan sesuatu yg manusiawi.
Karena dari sekian banyak orang, mempunyai karakter yg berbeda-beda. Orang
tsb sudah ditegur berkali-kali, tetapi tidak juga mau mengubah perilakunya
yg suka menyetel musik keras2 sehingga mengganggu para tetangganya. Maka
adalah manusiawi kalau sampai ada yg kemudian memukulnya (melakukan
tindakan anarkis). Meskipun pada prinsipnya tidak bisa dibenarkan.

Komentar saya: Apakah iya sesuatu yg tidak bisa dibenarkan (aksi anarkis)
masih dapat dinilai sebagai "manusiawi"? Apakah yang dimaksud dgn
"manusiawi" di sini? Bisa ditoleransi? Bisa dipahami?

Dalam ilustrasi tsb, yg ditonjolkan justru fakta bahwa di negeri ini
memang masih terbiasa orang mengedepankan otot daripada otak dalam
menyelesaikan segala sesuatu masalah. Lebih senang main hakim sendiri,
ketimbang menghormati hukum. Yang ironisnya oleh sebagian besar tokoh2
masyarakat tertentu sering memberi pernyataan yg mengarah pada sikap yg
toleran terhadap aksi2 seperti itu, yg bisa jadi berlandaskan pada
subyektifitas tertentu.

Adanya pernyataan2 dari tokoh masyarakat/agama tertentu, yg dapat di
persepsi sbg sesuatu yg toleran terhadap aksi2 anarkis tsb besar
kemungkinan membuat kelompok massa yg sering melakukan aksi2 anarkis
terhadap pihak2 yg tidak sepaham dgn mereka merasa mendapat dukungan,
justifikasi dari tokoh2 masyarakat/agama tsb.

Bagi saya, yang namanya anarkis, ya, anarkis, tidak bisa ditoleran, tidak
bisa dikatakan "manusiawi" atau istilah lainnya. Aksi anarkis harus segera
ditindak oleh pihak yg berwenang berdasarkan hukum yg berlaku.

Dalam ilustrasi yg diberikan Pak Ustad tsb di atas juga menimbulkan tanya
bagi saya: Kenapa peran polisi dihilangkan dalam ilustrasi tsb? Langsung
"meloncat" ke pemukulan yg katanya "manusiawi" itu? Barangkali Pak Ustad
tidak berpikir sampai ke sana?

Seharusnya 'kan ketika orang tsb (yg memutar musiknya keras2) ditegur
masih belum berubah perilakunya yg mengganggu para tetangganya itu, mereka
-- barangkali bersama Pak RT -- melapor langsung ke polisi. Itulah
tindakan yg beradab. Yang taat hukum, agamis, yg selayaknya diteladankan
oleh tokoh2 masyarakat/agama seperti Pak Ustad. Bukan ramai2 mendatangi
rumah orang tsb, dan menghakiminya di tempat, dipukul... terus ada tokoh
agamanya bilang, "Main hakim sendiri dan main pukul itu masih manusiawi."


Tentang analogi ilustrasi tsb dgn kasus Playboy Indonesia:
Pertanyaannya adalah apakah terbitnya majalah Playboy, tepat bisa
dianalogikan dgn perilaku orang yg suka memutar musik keras2 setiap hari
meskipun sudah ditegur berulang kali itu?

Orang yg suka memutar musik keras2 sehingga mengganggu para tetangganya,
dan tetap tidak perduli meskipun sudah ditegur, memang tak terbantahkan
telah menunjukkan perilaku yg salah. Yang pasti mengganggu semua orang yg
berada di dalam radius suara musik kerasnya itu.

Tetapi apakah bijak apabila kehadiran majalah Playboy Indonesia disamakan
dgn perilaku tsb? Jelas tidak. Karena tidak semua orang mempunyai
perspektif yg sama tentang kehadiran Playboy Indonesia tsb. Apalagi
Playboy Indonesia terbit dgn karakteristik yg berbeda dgn Playboy
induknya. Karena lebih sopan dan tidak mengobral gambar2 telanjang. Tidak
semua orang merasa bahwa kehadiran Playboy Indonesia merupakan sesuatu yg
sangat mengganggu moral dan wajar mendapat perlakuan anarkis seperti yg
sudah terjadi selama ini.

Perilaku orang yg suka menyetel musik keras2 tanpa memperdulikan para
tetangganya bisa dikatakan MUTLAK tidak akan disenangi oleh SIAPAPUN JUGA.
Sebaliknya, dalam kasus Playboy Indonesia. "Perilaku" Playboy Indonesia
RELATIF menganggu banyak orang. Tetapi pasti TIDAK BISA DIKATAKAN
MENGGANGGU SEMUA ORANG. Apalagi kemudian sebagian orang yang merasa
terganggu itu memaksakan kehendaknya kepada pihak lain dgn menghalalkan
cara2 anarkis. Padahal di saat yg bersamaan mereka mengusung nama agama.

Kalau memang tidak senang, ya, jangan dibeli, jangan dibaca. Tetapi jangan
memaksa orang lain juga untuk tidak membelinya dan tidak membacanya. Ini
berbeda dgn perkara suara musik keras dalam ilustrasi Pak Ustad. Suara
musik keras jelas mengganggu semua tetangga. Dan tidak mungkin tetangganya
dibilang kalau tidak senang dengar musik kerasnya, ya, tutup telinganya!
Jelas ini berbeda! Dan, kalau ditegur, tidak juga mau dengar, lapor saja
polisi. Biar polisi yg menanganinya. Bukan main pukul, merusak, apalagi
mengatasnamakan agama.

Ilustrasi dalam analogi tsb bisa diterima dalam batas2 tertentu, tetapi
tidak tepat jika dikaitkan dgn kasus Playboy Indonesia. Ilustrasi dalam
analogi tsb tidak bisa dipakai u/ "memanusiawikan" perilaku anarkis FPI
terhadap Playboy Indonesia.

Dengan mengemukakan analogi ilustrasi tsb, apakah bisa kita katakan
"manusiawi" juga -- istilah yg dipakai Pak Ustad -- aksi2 anarkis yg
selama ini begitu banyak dipertunjukkan oleh kelompok FPI dan kelompok
radikal lain yg sejenis menutup secara paksa, merusak tempat2 hiburan,
penutupan secara paksa tempat2 ibadah umat Kristen, dst-nya?

Bagaimana kalau kita melebarkan ilustrasi dan analogi Pak Ustad tsb, sbb:

Pada ilustrasi tsb, selain ada orang yg perilakunya suka memutar musik
keras2 tanpa memperdulikan para tetangganya yg sangat terganggu.
Sebenarnya masih ada orang lain yg berperilaku kurang-lebih sama. Orang
ini bahkan sudah berperilaku seperti ini jauh hari sebelumnya. Tetapi,
'aneh'-nya orang ini tidak pernah ditegur, apalagi dihakimi para
tetangganya. Sedangkan orang yg baru itu langsung mendapat ancaman,
teguran dan akhirnya dihakimi dan dipukuli.

Selain itu, ada juga pejabat kampung situ, yg tinggalnya tidak jauh dari
situ, yg perilakunya suka mengkorupsi dana2 kampung. Sehingga kampung yg
seharusnya bisa ditata apik, asri, bersih, dgn jalan2 kampung yg mulus,
plus penerangannya, penduduknya bisa hidup sejahtera, dst-nya, tetapi yg
terjadi sebaliknya. Pemukiman terlihat kumuh tdk terpelihara, jalan2
kampung yg becek dan gelap karena tanpa penerang di malam hari, dst-nya,
Karena tidak ada dana yg cukup u/ semuanya itu, sebab sudah sebagian besar
dikorupsi oleh pejabat kampung tsb. Anehnya yg diberi peringatan dan
kemudian dipukul hanya orang yg suka putar musik keras itu saja. Sedangkan
pejabat kampung korup itu tidak pernah diusik.

Bagaimana komentar Anda?