kinanti:
Negara perlu 'memaksa' rakyatnya mengeluarkan nilai minimum untuk keperluan sosial, kesehatan, dan pendidikan. Sementara lembaga sosial menampung bentuksumbangan yang lain, selain dari yang minimum ini. Mengambil contoh jerman,negara memotivasi rakyat untuk menyumbang ke lembaga sosial dengan kompensasi
keringanan pajak.

Memang, ternyata negara 'kafir' lebih bisa menerapkan prinsip-prinsip Islami ini. I wonder why!



teewoel:

"Memang, ternyata negara 'kafir' lebih bisa menerapkan prinsip-prinsip Islamiini. I wonder why!". Kalimat ini penting sekali. Dan mestinya dengan rendah hatipara fundamentalis agama diharapkan bisa mengakui bhw prinsip2 agama Islam, krn
sangat partikular artinya mengharuskan kepercayaan agama, orang-orang yg tidak
beragama sama atau tidak peduli agama tidak bisa ambil bagian. Alasan kedua,
pengembangan ilmu2 duniawi sering ditolak atau tidak diintegrasikan, karena
belum2 sudah dicurigai dari Barat. Akibatnya, no need to wonder why,
pengembangan atau proses pemetikan nilai-nilai Islam selalu gagal, karena tidak
mau memakai kaidah-kaidah ilmu sekular sebagai keharusan. Content atau isi dari
tafsiran, sering menjadi berat sebelah atau tidak bisa diuji sahih tidaknya
kecuali oleh bias kelompok yg berkuasa di agama Islam saat itu (bdk fwd artikel
"Why are Muslims so powerless?" oleh ha19wir at Apr 09, 2006 8:27 pm).

Padahal selama ratusan atau ribuan tahun para ahli ilmu2 sekular itu kalau
ditelusuri dan dipelajari ya berusaha keras utk berdialog dgn agama melalui
kaidah-kaidah saintifiknya. Lihat saja, Max Weber misalnya, ahli ilmu sosial ini
berusaha mengekstrak, atau mencari prinsip2 ilmu sosial dari berbagai agama
ketika Indonesia masih berbentuk kerajaan atau masih dijajah Belanda. Begitupun
Emille Durkheim, dan puluhan ahli ilmu sosial lainnya. Penelusuruan ini bisa
dilanjutkan ke ahli-ahli ilmu ekonomi, ahli ilmu politik dan hukum dan
seterusnya.

Kembali ke Max Weber sebagai salah satu contoh. Puluhan tahun lalu Max Weber
sudah mencoba meneliti berbagai agama dan kebudayaan. Misalnya: The Religions of
China (1951), Ancient Judaism (1952), The Religion of India (1958), The City
(1958), dan yg paling komprehensif serta sistematis adalah Wirtschaft und
Geselschaft (1922). Tentu saja yg tak boleh dilupakan adalah karya monumental:
Protestan Ethic (1930), yg sering disalah mengerti. Dalam "Protestan Ethic" Max
Weber bermaksud menjelaskan sebagai salah satu fragmen atau contoh kecil,
bagaimana proses terjadinya kapitalisme (Barat). Tentu, hasil penelitiannya yg
diakui, etika beragama pemeluk protestan dgn ajaran-ajarannya utk berhemat dan
berusaha, membuat Weber menarik kesimpulan bhw ada nilai-nilai yg muncul dari
agama yg menjadi salah satu faktor penting munculnya kapitalisme di Barat.

Kata kunci dari semua usaha pencarian Max Weber adalah RASIONALISASI. Weber
melihat melaui berbagai penelitian sosialnya, bagaimana agama Barat sendiri
berusaha mematahkan kekuatan "magic" dari agama itu (the power of MAGIC).
Setelah terbebaskan dari kekuatan magic, kekuatan yg tidak rasional dan
mendasarkan semata pada perintah Allah (yg bisa ditafsirkan berat sebelah
tergantung pada siapa yg berkuasa di kelompok agama itu), Weber melihat
bagaimana masyarakat mengusahakan hidup bermasyarakat melalui pengaruh-pengaruh
pasti dalam rasionalisasi utk menata hidup ekonomi dan hidup bermasyarakat. Para
ahli ilmu politik dilihat oleh Weber meletakkan dasar-dasar struktur politik dlm
masyarakat dengan berlandaskan hukum Roma (Roman Law). Roman Law jangan
dihubungkan dgn kekristenan, karena yg dimaksud Roman Law adalah sebelum Roma
dipengaruhi kekristenan. Perkembangan sistem politik dan sistem kemasyarkatan yg
semakin rasional ini menciptakan kondisi untuk perkembangan hak-hak individu dan
sistem administrasi (pemerintahan, masyarakat) yg rasional. Pada prosesnya
perkembangan inilah yg diperlukan oleh sistem kapitalis utk tumbuh dan
berkemang.

Ditengah semakin terpisah-pisahnya masyarakat oleh pembagian kerja (divisions of
labor), birokrasi yg semakin kompleks, dan spesialisasi, masyarakat seperti
terpenjara oleh karyanya (iron cage) yang secara teliti ditulis oleh Max Weber
apa dan bagamana semua itu terjadi. Semua hasil karya penelitian Max Weber
bertujuan:

* meletakkan dasar-dasar metodologi ilmu sosial yg menjawab tantangan jaman
* meletakkan batas-batas dalam rasa hormat pada relevansi nilai-nilai dlm
masyarakat dan isu2 kebijaksanaan sosial
* menyediakan dan melengkapi rentang generalisasi dan konsep utk diaplikasi pada
studi problem2 penting masy.
* menyumbang pada studi ttg masalah-masalah sosial, khususnya bagaimana apa dan
bagaimana masyarkat industri semakin berkembang, dan proses rasionalisasi yg
menjelaskan perkembangan itu.

Belajar dari contoh kecil Max Weber, mungkin bisa dikatakan dgn agak sembrono
dalam garis besar, Indonesia ini boleh dibilang masih dalam periode "pre
industrial stage" dimana "magic" menurut istilah Weber atau prinsip-prinsip yg
tidak rasional, yaitu perintah Allah menurut tafsir sepihak kelompok tertentu
sedang berebutan atau memaksakan diri melawan prinsip-prinsip rasional
bermasyarakat. Kekuatan magic masih sangat dominan entah dari agama atau dari
prinsip asal kuasa (politik, mliter) dgn tak segan2 memakai cara kekerasan dan
cara licik lainnya. Kalau sudah begini, memang sangat sulit Indonesia
membebaskan diri dari keterpurukan ekonomi.

Nah, I wonder why ini, moga-moga juga dengan jujur dicari oleh para pemimpin
fundamentalis dan dengan tanpa ragu mau belajar ilmu-ilmu lainnya, tak
terkecuali ilmu-ilmu Barat. Hanya dengan demikian lalu muncul civilian society,
dengan civilian laws, civilian social conduct tanpa harus ribut2 terus dan main
kekerasan, bunuh sana, rusak sini. Kalau tidak mau, ya para intelektual dan para
nasionalis sejati harus bergerak bersama dan bekerja keras, sehingga agenda para
fundamentalis menjadi tidak relevan lagi.

Sayangnya, ahli-ahli ilmu sosial dan ilmu politik, karena "gaji kurang" tidak
mau mengkonsentrasikan diri utk mengembangkan dan mengaplikasikan ilmunya dalam
sinergi yg masif. Mungkin mereka sibuk atau tergoda oleh nasehat van Helsing,
mencari usaha sampingan hanya sekedar utk hidup agar tidak dituduh merengek dan
menetek. Akibatnya so what kalau negeri ini amburadul dan dedel duwel (yg
terakhir sekedar guyon).

Sekali lagi saya setuju dgn sinyalemen Siti: semakin fundamentalis negeri kita,
semakin ekonomi negeri ini terpuruk. Tidak ada kemungkinan lain, negara-negara
lain sudah jelas2 menjunjuk pada fakta ini, apapun latar belakang agamanya. Hayo
para ilmuwan, para pengusaha dan para politikus, kerja lebih keras agar tidak
semakin tenggelam dalam kejumudan dominasi para fundamentalis agama. Dan semakin
hancur negeri ini.

*** teewoel