ht Dari segi pragmatis, aksi-aksi pemaksaan kehendak dari kelompok yang dipimpin Habib Rizieq dan kelompok-kelompok segaris lainnya sudah jelas kontraproduktif,menjelekkan nama Islam, dan jauh dari kesan para muslim yang cerdas. Tindakanseperti maklumat perang, memusuhi umat non muslim, mensweeping media-media, danmendatangi tempat-tempat tertentu hanya dapat lahir dari pikiran-pikiran pendek yang hanya mementingkan golongan. Hal yang paling memalukan adalah merekamengatasnamakan Islam

. Saya adalah seorang penganut agama Islam, dan saya malu,
teramat amat sangat malu dengan ulah mereka. Di tangan sekelompok pandir-pandir
ngeyel itu, Islam menjadi sebuah konsep yang bodoh, terbelakang, dan frustrasi
terhadap perkembangan zaman. Sejak kapan mereka punya legitimasi untuk membawa
nama Islam dan berlagak sok berkuasa di negara yang bukan berlandaskan agama
ini? Sungguh bodoh dan memuakkan.

Masih banyak rakyat yang hidup di bawah 2USD sehari, kasus gizi buruk kian
hari kian meluas, dan Indonesia makin tertinggal dalam hal standar hidup. Ini
seharusnya yang menjadi pokok pemikiran kita bersama dan bukannya malah sweeping
sana sweeping sini (sweeping majalah-majalah yang kalau ditilik dari sudut
pandang yang lebih luas sebenarnya jauh, amat sangat jauh dari pornografi.
Sungguh tidka cerdas) seakan-akan mereka adalah penguasa Indonesia.Seakan-akan
Islam seradikal yang mereka yakini itu adalah satu-satunya keyakinan yang ada di
Nusantara. Sikap yang sama sekali tidak melibatkan pemikiran yang cerdas kalau
tidak bisa dikatakan goblok.

Dalam jangka waktu ke depan, pemikiran sempit seperti ini sangat berbahaya.
Dunia bergerak ke arah di mana semua pemikiran, nilai-nilai, dan budaya bertemu
dan bersinggungan dalam waktu yang sangat cepat. Solusinya hanya satu, kita
sebagai bangsa harus mampu berpikiran terbuka, menerima perbedaan, dan hidup
berdampingan. Kalau ini gagal dicapai, bukan hanya rakyat lapar yang semakin
banyak, tetapi kita akan terus tenggelam dalam pertengkaran goblok yang rendah
dan menjijikkan secara intelektual.

Bagi saya, Habib Rizieq dan aksi-aksinya adalah sebuah pembantaian untuk
keberagaman, untuk kebebasan berpikir, untuk masa depan hidup berdampingan yang
ideal. Karenanya, ia dan kelompoknya sebenarnya adalah kelompok fascist
diktatoriat tak ubahnya Gestapo, Khmer Rouge, dll yang sebaiknya tidak pernah
ada. FPI dan kawan-kawan tidak penting sama sekali peranannya dalam kehidupan
berbangsa-dan bernegara saat ini. Mereka adalah hal terakhir yang sebaiknya ada
di bumi Pancasila ini.

Hal yang harus dieksplorasi oleh pemerintah adalah bagaimana supaya di
Indonesia yang sangat beragam ini, tidak akan terjadi diktator mayoritas maupun
tirani minoritas.

Semoga kita dapat hidup berdampingan dalam pikiran yang lebih terbuka,
Nugroho Nurarifin