Dari tulisan2 Ulil (JIL) yg dimuat belakangan ini, kita melihat satu sisi sudut pandang ttg beragama Islam yg sangat jelas. Islam yg membebaskan, Islam untuk kemanusiaan, bukan Islam untuk 'tuhan'. Ada nuansa dalam beragama. Dari ujung kiri (anggap saja begitu sebagai contoh bukan kiri = sosialis) yg sangat literalis total dan keras (contoh sunni : IM, osama), sedikit kekanan ( wahabi ) , bergerak ke kanan keras ideologis tetapi tidak beringas (muhammadiyah), ke kanan lagi yg agak sinkretis (NU), kekanan lagi yg lebih liberal (JIL ini) dan masih kekanan lagi.

Hal yg sama bisa juga diterapkan di syiah, bahkan agama2 lain.

Masing2 sudut pandang bisa dikeraskan dan dijadikan 'full system' — sebuah memeplex istilah memetic nya. Suatu memeplex adalah suatu kompleks meme yg saling berkaitan, saling mendukung secara berkait2. Agama dan ideologi adalah contoh memeplex.

Sebuah 'full system' adalah sudut pandang yg dibuat lengkap, berusaha menjawab semua pertanyaan / masalah. Key point nya adalah 'berusaha menjawab' bukan secara benar atau tepat.

Jadi misalnya dari sudut pandang wahabi, kitab itu literal penuh, interpretasi dilakukan oleh ulama. Seg. sudah. Dari sudut ekstrim begini semua jawaban juga 'tersedia' — yaitu jawaban yg dikeluarkan oleh fatwa2. Interpretasi kitab adalah literal dan sesuai sudut pandang ulama yg patriakis feudal (tradisional). Maka interpretasi dari sini, misalnya perempuan adalah kelas dua, bahkan nasib setelah mati pun kelas dua. Walau interpretasi ini bertentangan total dengan hak asasi manusia, harus tegak. Mau tidak mau. Dalam hal ini pula Syariah harus tegak, mau tidak mau. Ketaatan literal ini diinterpretasikan sebagai 'menyembah tuhan' — dalam artian yg sangat mirip dengan penyembah berhala (tuhan bisa ngamuk tiap saat, harus di sembah2). Indikator tindakan 'baik' adalah acceptance dari ulama / fatwa.

Keuntungan dari aprots ini adalah simpel – hampir2 reptilian — sehingga rata2 manusia awam yg bodoh2 pun (atau dijaga agar tetap bodoh, dengan menghapal kitab suci bukan memahaminya) bisa 'mengerti'. Sistem ini tidak membutuhkan interpretasi apa2 dari kitab2 – bahkan bisa dikatakan semakin simple (berarti ngawur) semakin 'tepat' karena mudah dipahami massa tidak berpikir. Yg lain adalah sistem ini tradisional, artinya sudah ada, bahkan populer sejak dulu, jadi 'memasarkan'nya lebih mudah.

Inheren dalam sistem ini adalah massa pengikut yg buta, emosional, tidak terdidik, dan diharapkan tidak banyak berpikir apalagi mengkritik. Menciptakan massa spt ini jelas suatu usaha yg relatif lebih mudah, massa spt ini juga typical di sistem2 otoriter berdasar ideologi apapun (komunis, fasisme nazi, diktator militer). Kestabilan masyarakat yg dikejar adalah kestabilan statis, artinya stabil seperti tembok itu stabil – tidak boleh ada kritik, tidak boleh ada perubahan. Keuntungan2 ini jelas2 sepihak untuk penguasa.

Kerugian sudut pandang ini jelas2 sangat banyak, karena secara nyata hanya kaum ulama / pemimpin itulah yg akan makmur, bukan rakyat banyak = spt yg di stated Ulil.

Sedangkan pandangan dari sisi yg lebih kekanan, spt Ulil ini misalnya — sangat berbeda. Berangkat dari kenyataan bahwa manusia itu sama haknya (bukan sama bentuknya !) – baik lelaki perempuan — jadi surga untuk perempuan itu juga sama perlu nya spt surga untuk lelaki. Maka berangkat dari sini banyak hal harus dipikirkan. Membesarkan nama tuhan adalah dengan membesarkan sesama manusia. Interpretasi kitab tidak literal. Indikator tindakan baik adalah kemaslahatan umat manusia. Keuntungan dari pendekatan ini adalah sistem yg manusiawi, membuat masyarakat yg bermartabat, lebih sejalan (tergantung seberapa jauh ke'kanan' nya) dengan modernisasi sistem pemerintahan maupun etika.

Kerugiannya sangat besar, sistem ini memerlukan dukungan pendidikan, pemahaman beragama, yg jauh lebih tinggi daripada sekedar instink2 reptilian untuk menghapal dan mengikuti pemimpin (follow the leader). Perlu suatu infrastruktur bermasyarakat yg dalam, sistem pendidikan yg efektif, sistem pemerintahan yg manusiawi (berarti didukung oleh sistem hukum yg jelas, sistem penerapan hukum yg adil ..) dan banyak lagi. Untungnya, semua hal2 ini selaras dengan perkembangan teknologi dan idea di masyarakat2 modern, bukan hanya 'barat' tetapi juga timur yg maju (jepang, korsel, singapore ). Dengan sudut pandang ini ada masalah besar spt yg dihadapi oleh negara2 modern: bagaimana menciptakan masyarakat yg mandiri dan berpikir. Bukan menurut tetapi beridea. Dan dengan sendirinya menciptakan kestabilan dinamis dari sistem merdeka ini: masyarakat yg berpikir harus bisa mengkritik penguasa. Kestabilan yg tercipta tidak bisa statis.

Dan ini bisa sangat sulit di terapkan, karena kemajuan berpikir berkait erat dengan skala kepentingan manusia (Maslow) yg meningkat, bukan hanya harus cukup makan, juga cukup papan dan aman. Menciptakan kemakmuran skala luas jelas sangat beda dengan menciptakan kemakmuran untuk satu keluarga raja spt sistem kuno.

Perbandingan diatas memang kontras. Tetapi itulah yg kumaksud. Kedua sistem berpikir diatas adalah memeplex. Artinya, jika anda percaya salah satu – maka selalu ada 'jawaban' untuk semua pertanyaan. Walau nilai jawaban itu bisa sangat rendah (salah).

Sebagian orang akan mengatakan :relatifisme budaya, semua jawaban sama saja benar salahnya. (seperti aprots agama orang2 eropa). Apakah memang demikian?

Apakah dari dua sudut pandang diatas tidak ada cara untuk membandingkan mana yg lebih benar? Untuk membuat perbandingan spt itu anda tidak boleh berdiri 'didalam' – karena dilihat dari dalam sebuah memeplex – dunia tampak 'utuh'. Otak manusia begitu programmable, dan selalu berusaha membuat generalisasi, bukan logika (logika murni harus diusahakan secara sadar). Jika anda tetap berada didalam memeplex, tidak ada jawaban lain selain 'jawaban standar', dan debat harus diselesaikan dengan salah satu kalah – kalau perlu dengan pedang.

Aku melihat bahwa sejauh ini memeplex super-kiri spt osama itu mempunyai banyak keuntungan: rata2 muslim tidak paham kitab mereka, rata2 muslim miskin2, rata2 pemerintahan mereka korup dan kejam. Bagaikan suatu marketing strategy, banyak faktor tepat jatuhnya. Ideologi super-kiri itu jauh lebih mudah di'jual'. Pada tataran pribadi pun jualan nya lebih mudah. Seperti yg dilakukan di universitas2 (dan diceritakan di sini oleh beberapa milis), mereka cukup di'cerahkan' bahwa mereka 'dipilih untuk memimpin'. Bisa mengharukan. Dan sistem kelas dimana pemimpin mendapat jauh lebih banyak ini juga mudah diterapkan untuk menarik massa, dengan penyogokan pribadi2 yg memang bisa diharapkan untuk memimpin (plus retorik: berkorbanlah .. ).

Mereka juga perlu disctinctive behaviours, yg membedakan mereka dari yg lain secara sangat keras. Baju, tindak tanduk. Dijual di masyarakat2 miskin spt Mesir atau Ethiopia dan Jakarta bisa mudah laku.

— Sebaliknya, aprots yg 'kekanan' spt Ulil itu – mempunyai banyak kendala untuk dipasarkan meluas di masyarakat miskin dan bodoh. Tetapi tidak untuk masyarakat yg maju berpikir dan rasional (ini yg kuharap merupakan ciri masyarakat milis). Mana yg benar? Ada cara mengukur kenyataan yg sangat objective: empiris sains. Mana yg lebih mencerahkan? mana yg lebih kedepan? mana yg lebih fair?

'Bahaya' dari aprots kekanan ini adalah terbukanya ijtihad. Memang ada suatu keterkaitan antara tauhid dengan ijtihad. Tergantung pada individu nya, bergerak kekanan memang bisa beresiko menjadi 'terlalu liberal' dalam artian tidak lagi beragama dalam arti tradisional. Sebaliknya bergerak terlalu kekiri juga mengandung resiko besar tidak lagi beragama sama sekali, tetapi menjadi 'tentara ulama' — di bumi ber-teriak2 aloabar setelah mati langsung ke neraka karena bertindak bertentangan dengan agama itu sendiri.

Jadi itulah, di ujungnya memang keputusan pribadi2. Tetapi ada dua hal disini: pertama keputusan pribadi itu tidak berarti bahwa 'semua benar' spt diatas. Anda perlu berpikir – dan jika perlu berdebat spt di milis2 ini. Kedua, implikasi dari tindakan2 pribadi2 anda bisa berpengaruh pada kemaslahatan umum – terutama jika anda saat ini memegang jabatan publik. Di level pribadi bebas.

Di level publik sama sekali tidak. Jika ajaran ulama anda menyuruh anda untuk nggebukin bulai atau menelanjangi cewek — jika anda terapkan begitu saja, anda akan melanggar hukum, melanggar hak asasi manusia dan ini semua bisa berakibat sangat luas pada tatanegara. (sebaliknya, ulama2 anda memang menghendaki anarkisme dan chaos itu — untuk melemahkan sendi2 negara, dan sekaligus memamerkan kekuatan sosial mereka — pure ly political).

Maka kesimpulan akhirnya, untuk hal2 yg menyangkut publik, itu bukan lagi masalah pribadi2. Orang2 yg mempunyai andil / stakeholder di negara Indonesia misalnya, tentu mempunyai hak dan suara untuk hal2 yg berkaitan dengan masa depan negara Indonesia. Lepas dari fakta bahwa secara pribadi2 mempunyai pandangan yg beda2 itu.

Kesamaan hak di mata hukum. Ini ciri negara modern lagi (di negara tradisional hukum tidak sama bagi penguasa dan rakyat)

Begitulah. Memahami sesuatu tidak mudah.

b@b
050406