Berita NYT  (baca ttg kasusnya, bukan ttg reaksi US) ttg dihukum matinya Rahman yang pindah agama di Afghanistan. Kasus Abdul Rahman di Afghan ini merupakan test case bagi penerapan hukum Islam di negara itu. 

Rahman ternyata telah pindah agama kekristen tahun 1990 (16 tahun yl!), fakta ini baru diketahui sekarang,setelah ada kasus hukum custody 2 anak perempuannya, dan salah satu saksi dalam kasus itu menunjukkan bahwa Rahman memiliki Bible. Rahman kemudian terbukti telah pindah agama sejak 1990, dan hal inimengakibatkan dirinya menjadi terdakwa untuk kasus baru yg lebih gawat, karena menurut syariah islam 'kejahatan' pindah agama diancam hukuman mati (!!).

Hakim dalam sidang Rahman ini jelas2 bukan hakim 'lunak' – dia Sunni keras yg bahkan bersahabat dengan Osama, dan dia acting within 'his'law.Tambah aneh lagi, progres kasus ini – kayaknya Rahman akan melakukan'insanity plea' (ngaku gila) — sehingga diperoleh jalan keluar ad-hoc: Rahman bebas jadi appeasing kaum sekuler(baca US), kaum muslim 'puas'karena orang pindah agama jadi gila (atau hanya orang gila yg akanpindah agama), kaum lawyers fundie puas. Karzai (PM) mungkin jugapuas, tidak kepepet dua posisi kaku (fundies di negerinya, US di luar
negeri)

Tambahan mod: kutipan dari Washington Times

"We think he could be mad. He is not a normal person. He doesn't talk like a normal person," said the prosecutor, Sarinwal Zamari, while the AP also quoted a religious adviser to President Hamid Karzai as saying that Mr. Rahman will have an exam and that if he is deemed unfit, the case against him would be dropped.

Pertanyaan muskil ttg aplikasi syariah jadi nya bisa ditangguhkan,
sampai nanti ada kasus lain, yg lebih muskil lagi.

Ini dengan asumsi bahwa akan berjalan demikian, jaksa penuntut sudah
memberi komentar kearah itu, bahwa jika rahman terbukti gila maka hukum
tidak perlu diberlakukan padanya.

Penyelesaian ad-hoc begini memang bisa2 'memuaskan' awam.
Tentu saja buat mereka yg berpikir lebih panjang akan sangat tidak
puas, dan tentu saja rasa keadilan.

Kerancuan2 semacam inilah yg akan sangat mengganggu aplikasi suatu
aturan purba di jaman yg telah berubah. Seribu tahun yl, bukan hanya
Islam, juga Roma katolik akan membantai seorang citizen yg pindah
agama, bahkan membanting (bersikap kurang ajar) kitab suci. Selain
tentu saja membantai (bukan hanya gorok, bahkan sigar-empat dan siksa2
kejam lainnya) mereka yg dianggap melanggar 'aturan tuhan'.

Dulu.
Ajaran semua agama 1400 tahun yg lalu, di jaman Muhammad juga demikian.
Sehingga aturan praktis Islam ttg bagi2 hasil rampokan, membatasi
istri 4 orang, perlakuan pada budak, itu semua 'revolusioner' di saat
itu. Dibandingkan kebiasaan2 yg masih jalan di Eropa maupun Asia di
jaman itu. Itu dulu.

Dulu.
Sekarang kita melihat pertentangan yg sangat muskil di kasus rahman
Afghan ini.
Mungkin solusi ad-hoc insanity plea itu meloloskan mereka pada kasus
ini, tapi sebentar lagi akan ada kasus saeed atau siddiq yg juga sama
absurd nya (kalau kasus2 yg menyangkut perempuan terjadi terus absurd2
spt honor killing, spouse beating — tapi kurang bergaung!)

Negara2 yg masih menghadapi urusan2 'tuhan' spt ini, sepele tapi
emosional — benar2 wasting time money and resources. Pendapat awam
rakyat jadi terpecah – pandangan internasional ambyar — dan semua ini
hanya karena suatu 'meme' (idea) yg sudah kadaluwarsa. Juga highly
debatable apakah syariah spt itu benar2 spt yg dimaksudkan oleh
Muhammad dari awalnya.

Satu2nya penyebab meme kuno ini bertahan – adalah karena hal itu
memberi kekuasaan nyata saat ini kepada sekelompok ulama yg vested
interested. Sama spt aturan2 korupsi yg kebanyakan lemah, karena
sekelompok kecil penguasa sangat berkepentingan agar aturan2 yg
merugikan mereka itu tidak populer.
Lalu karena rata2 awam masyarakat luas tidak mengetahui perdebatan ini
secara objektif, dan hanya mendapat propaganda emosional dari satu
pihak, sang ulama vested interested.

Sampai disini, kurasa perbandingan ini sudah sangat clear.
Kecuali anda2 sudah kadhung jadi ulama yg vested interested pada
kekuasaan itu – tidak ada perlunya sama sekali 'memperjuangkan' aturan
yg akan menyengsarakan diri anda sendiri, atau setidaknya kaum
perempuan anda.

Dan lagi, ada banyak hal lain yg menunggu untuk dipikirkan, yg terakhir
ini mungkin adalah alasan paling kuat.

Lalu untuk kita semua yg tidak setuju hal2 ini, menyebar luaskan
diskusi ttg hal2 ini – memperluas wawasan awam — adalah hal yg penting
dilakukan. Sekalipun kaum ulama vested interested itu tetap ada,
kekuasaan mereka terhadap awam akan semakin lemah jika awam mulai
empowered.

Itulah role yg bisa dimainkan bloggers di milis2 — baik muslim maupun
non-muslim. Karena sesungguhnya masalah kenyataan dan kemanusiaan ini
tidaklah bertentangan dengan spiritualitas sejati – inti dari beragama
dan iman.

b@b
24/03/06