suvDalam sejarah industri dunia, industri mobil Amerika paling menonjol dan berpuluh-puluh tahun merupakan industri paling besar , paling banyak menyerap tenaga kerja dan paling banyak menyerap pemakaian baja dan selanjutnya paling banyak menyerap pemakaian energi bahan bakar : BBM , luar biasa besarnya sehingga selalu saja industri mobil atau otomotip dianggap menentukan prestasi dan prestise suatu bangsa.

Tahun lalu dunia industri dikagetkan dengan melejitnya industri otomotip
Jepang dan naik peringkatnya Toyota Motor Company sebagai industri mobil
nomor 2 terbesar didunia dan dalam peringkat keuntungan : industri mobil
Toyota menghasilkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan pesaingnya,
General Motors yang merugi milyaran USD setiap tahunnya. Tampaknya sulit
bagi GM untuk meraup keuntungan dan untuk mencegah lajunya Toyota Motor
Company. Itulah kejadian suatu prestasi yang disebabkan keuletaan
management Jepang dalam mengetrapkan berbagai ilmu management penemuan
terbaru : TQC atau Total Quality Control, TPM atau Total Productive
Maintenance dan yang paling terkenal ialah istilah KAIZEN atau selalu
memperbaiki, bukankah dalam teori yang keluaran lama sekali di Amerika
dalam bidang Method Engineering dikenal “ tak ada sistim terbaik, selalu
ada sistim yang lebih baik “ , itulah terjemahan dalam bahasa Inggris , “
There is always better system instead of no best system “ .

Sayangnya sebagian dari bangsa kita selalu saja mengatakan bahwa sistim
Syariat wajib diperjuangkan karena itu sistim yang terbaik, ini
bertentangan dengan teori-teori management. Agama adalah pengelolaan
sistim, jadi mungkin saja ada benarnya bahwa “ Tak ada Sistim yang
Terbaik  ….. jadi harus mengalami perbaikan pengertian terus menerus,
mengalami berbagai pemikiran modern, sesuatu pemikiran yang ketinggalan
zaman tak akan membawa kemajuan. Ada teman yang mengatakan bahwa agama,
negara, perusahaan, RT, perkotaan, pemerintahan daerah …. semuanya
merupakan suatu sistim , bahkan rumah tangga merupakan sistim yang kecil.
Suatu sistim merupakan subsistim, merupakan bagian dari sistim yang lebih
besar. Kayak jagat raya yang merupakan sistim juga dan bumi merupakan
bagian dari sistim jagat raya. Pendek kata itulah pemikiran bahwa
sistimnyalah yang harus diperbaiki terus menerus, seperti bagaimana
industri Jepang ber – Kaizen, memperbaiki sistim kerjanya terus menerus
berkesinambungan.

Nah, kalau kita sudah berpikir mengenai kemajuan suatu sistim, kita akan
meletakkan prioritas ialah merencanakan : “ Apakah sistim yang harus
diperbaiki lebih dulu ? “ Nah , disini ada kerancuan karena sebagian
masyarakat berprioritas memperjuangkan negara agama, memperjuangkan
pergantian GBHN – Garis Besar Haluan Negara, dari negara pancasila kita
berkutet untuk membentuk negara Syariat Islam dan nyata bahwa perjuangan
ini benar-benar menyita tenaga , waktu dan dana juga. Kegiatan masyarakat
diarahkan kegiatan pembentukan Perda, RUU APP, dan berbagai aksi-aksi ,
demo-demo pendukungnya, berbagai kepentingan yang mengarah terbentuknya
negara agama. Kalau sudah demikian ada kemungkinan hal-hal lain diluar itu
menjadi “bukan prioritas”, sebab itu tadi ketentuan bahwa pembentukan
negara agama merupakan prioritas.

Nah , bagaimana pihak yang nggak setuju dengan negara agama ? Yah, mereka
terpaksa mengajukan argumen-argumen betapa negara agama merupakan hal
paling sulit, paling memungkinkan keterbelakangan dan paling mungkin
menyengsarakan rakyat. Sedangkan mayoritas rakyat kan beragama Islam,
berarti banyak masyarakat yang menderita , banyak masyarakat tenaganya
habis untuk memperjuangkan negara agama.

Kenapa kita tidak mengalihkan prioritas kepada kemajuan ekonomi bangsa ?
Memajukan ekonomi bangsa berarti memperbaiki industri, menciptakan lapangan
kerja, memberdayakan ekonomi bangsa, memperbaiki sistim hukum dan keadilan
serta berjuang terus menerus agar kemajuan ekonomi tercipta terus menerus.
Itu kalau prioritasnya memperbaiki ekonomi bangsa dan bukannya perjuangan
agama. Tak mungkin tanpa prioritas dan mempelajari sejarah adalah
mempelajari fakta-fakta masa lalu, mempelajari bagaimana suatu bangsa
hancur dan bagaimana bangsa lain tumbuh – maju – makmur dan berbagai
kendala dan berbagai sistim perjalanannya.

Yang pertama disebut ialah negara-negara maju macam Amerika, Inggris ,
German dan beberapa negara di benua barat, mereka memiliki ciri yang sama ,
ialah negara sekuler dan tak mementingkan agama. Agama dan pemerintahan
dibedakan dalam garis penyekat. Kalau demikian bagaimana dengan pendidikan
moral ? Negara tersebut juga memiliki etika moral dan memiliki hukum-hukum
yang tak ada hubungannya dengan ayat-ayat agama. Jepang yang pada tahun
1945 kalah perang, kemudian dibantu AS (catatan Mod: tulisan asli penulis:dengan

"Marshall Plan" -ini kurang tepat krn Plan ini hanya untuk negara Eropa) dan karena
prioritas tak ada pada agama, maju pesat dalam semua bidang industri –
pendidikan – ekonomi dan berbagai hal yang ujungnya ialah penciptaan
lapangan kerja dan sinergi ekonomi bangsa.

Bagaimana 2 negara besar yang dulunya negara melarat dengan jumlah penduduk
milyaran jiwa dengan alamnya yang miskin akan sumber alam dan bagaimana
bangsa tersebut dimungkinkan maju , terciptanya berbagai industri dan
perdagangan, terciptanya lapangan kerja dan bagaimana pengangguran
berkurang . Ciri-ciri dari kedua negara raksasa dengan persoalan raksasa
juga ialah keduanya negara yang tak meletakkan agama sebagai pusat
perjuangan dan prioritas bukannya kepada perjuangan agama, tetapi mengatasi
kesulitan karena kemiskinan, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi ,
penegakan hukum dan kedaulatan negaranya. Cina berhasil sebagai negara
bermartabad, disegani oleh negara besar macam Amerika – Inggris – Jepang –
dan negara-negara industri lainnya. Cina telah menyumbangkan berbagai
produk konsumen dunia dan sampai saat ini menyaingi potensi ekonomi Amerika
dan merupakan mitra dagang banyak negara. Begitulah Cina berusaha mengatasi
kemiskinan, mengatasi kemajuan kesejahteraan rakyatnya dan mengatasi
berbagai kesulitan lainnya. Dalam bidang pendidikan, luar biasa kemajuan
mutu pendidikan segala lapisan, dalam bidang kesehatan luar biasa kemajuan
menyediakan fasilitas kesehatan : pabrik obat – rumah sakit dan berbagai
prasarana kesehatan lainnya. Akan halnya India, sama dengan negeri Cina
dengan prioritas memajukan industri, pendidikan dan penciptaan lapangan kerja.

Kedua negara yang maju tersebut melakukan Kaizen dan prioritas nomor satu
ialah bukan agama, agama tak disebut sebagai prioritas dan terserah kepada
rakyatnya. Dengan tidak mengemukakan prioritas memajukan agama, sudah
berarti meredam salah satu masalah besar, bukankah pertikaian agama
merupakan persoalan besar dan dapat disebut hal-hal yang bakal menciptakan
kekisruhan, menciptakan disharmoni, menciptakan perpecahan bangsa dan
hal-hal sangat negatip. Itu merupakan argumen yang paling logis bahwa
berjuang membentuk negara agama selalu memakan tenaga, memakan korban jiwa,
membuat ketertekanan dan perjuangan yang tak akan berakhir damai.
Perjuangan yang tak menghasilkan Win Win Solution, malah dapat disebut
sebagai Zero Sum Game. Sejarah berbagai negara agama menunjukkan bahwa tak
ada negara agama yang kekuatan ekonomi dan kekuatan SDM-nya terbukti
terbagus didunia. Bahkan negara-negara yang kaya sumber alam, menjadi
negara yang terbebani dan menjadi negara yang paling tidak stabil. Agama
adalah hal yang bagus, tetapi seringkali pengertiannya berubah dan terbukti
akhirnya kefanatikan men jadikan belenggu, menjadikan ketidak majuan bahkan
keterbelakangan yang amat sangat.

Sayangnya keterbelakangan disebabkan agama menjadikan keterbelakangan
disegala bidang : hukum , ekonomi, pendidikan , sumber daya manusia dan
berbagai aspek yang saling bertentangan. Kita saksikan saja bahwa berdebat
urusan agama menyebabkan beberapa apakabrian muter-muter, mencari-cari
alasan untuk menganggap bahwa debat agama yang menang-menangan sebagai
sesuatu kemutlakan. Kalau saja kita insyafi bahwa banyak persoalan belum
dipecahkan, persoalan yang nyata membawa pemecahan agar kita maju dalam
menciptakan lapangan kerja, agar kita maju dalam menegakan hukum , dan
dalam berbagai aspek hidup rukun dan damai, semuanya terabaikan hanya
karena kita tak menghormati keberagaman, hanya kita memiliki semangat untuk
menegakan negara agama dimana agama memiliki pokok tujuan. Dan segala
sesuatu yang berbeda agama, menjadikan sesuatu yang mustahil akan diakui
.Sayang sekali, kita tak memiliki prioritas yang memungkinkan kemajuan
dibidang diluar agama…. yang kita tetap miliki ialah sejarah ambur adul !

22 Maret 2006