ikra(catatan singkat ikranagara).  Ada tidaknya unsur sensual dalam sesuatu karya seni tidak ada kaitannya dengan masalah pornografi dan sex, baik yang kadar sensualitasnya tinggi maupun rendah. Sensualitas ini ada kaitan langsung dengan yang inderawi (sense=indera). Kalau dalam film, maka penekannya pada gambar dan warna-warninya. Misalnya  film-film Akira Kurosawa, dia selalu menekankan kepada gambarnya itu untuk mencapai nilai estetika yang maksimal. Kerja kamera dan tata artistik, termasuk tata pakaian, asesori, handprop, semua haruslah indah dipandang mata. Pemilihannya atas lokasi cerita juga menekankan kepada sesualitas ini, sehingga formasi awan pun haruslah seperti yang dikehendakinya untuk adegan tertentu. Dia bisa berjam-jam untuk memulai berkata "Kamera!" kepada kameramannya. Jadi, tujuannya adalah untuk menpatkan kadar tinggi kenikmatan yang inderawi. Demikian juga musiknya, sangatlah cermat pilihannya dan penggunaannya. Dia sutradara yang cerewet dalam hal-hal yang sensual ini.

Di Barat kemudian muncul sutradara Zefferelly (? tulisannya betul atau salah? help!) yang melahirkan film "Rome and Juliet" yang indah tata gambar, busana, handprops dan lokasinya itu!

Film "The Thin Red Line" yang versi baru juga demikian!

Dalam film kita, yang baru, saya temukan keindahan yang tinggi sensualitasnya ini pada film "Pasir Berbisik" itu. Salut!

Tapi, kalau kita hanya menekankan kepada yang sensual saja dalam berkarya, maka kita akan kehilangan bobot intelektualitasnya, kedalaman jiwanya, dan semacamnya nanti.

Kalau film "Romeo and Juliet" itu jelas imbangan kadar intelektualitasnya juga tinggi, karena ceritanya adalah hasil karya drama yang agung nilainya! Demikian juga cerita-cerita dalam karya Kurosawa, tinggi nilainya. Jadi, sensualitas haruslah diimbangi dengan kadar intelektualitas yang tinggi pula agar tidak sekedar sebuah karya yang tergolong eksotis belaka.

Jadi, pada dasarnya tidak ada kaitannya dengan masalah ada atau tidaknya sex di dalam karya yang sensualitasnya tinggi itu.

Film "Pasir Berbisik" juga tinggi kadar intelektualitasnya, terutama bobot prikhologi dan aspek keterlibatan sosialnya, selain mentransendensikan masalah kekerasan yang menghantui kesadaran hati nurani kita lewat cara yang halus puitis. Ya, film ini bagi saya sebuah puisi naratif yang indah!

Ada banyak karya-karya sastra yang tinggi sensualitasnya tetapi tidak ada sama sekali urusan sex di dalamnya, seperti dalam karya-karya Yasunari Kawabata, Pemenang Hadiah Nobel dari Jepang itu.

Jadi, secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa sensualitas ini menekankan kepada "rasa", sehingga bisalah dikatakan lawan dari kata sensualitas adalah "intelek". Nah, di dalam karya seni apa pun, kedua unsur ini (sensualitas dan intelektualitas) itu selalu ada saling imbang mengimbangi. Unsur utama dalam sensualitas adalah perasaan/sentimentalitas.

Sebagai sebuah contoh, karya seni tradisional kita yang tinggi kadar sensualitasnya adalah Tarian Jawa Kraton yang lembut dan lamban kental dengan perasaan itu. Karya musik klasik Barat yang tinggi nilai estetisnya dan popularitasnya yang juga tinggi sensualitasnya adalah "Bolero" karya Raffael.

Di luar masalah seni, istilah ini bisa juga digunakan, misalnya saja untuk tata makanan. Bukankah sudah lumrah sekarang, bahwa makanan pun dihidangkan dengan selera seni rupa yang tinggi. Ada patung es, ada makanan yang disusun berdasarkan warnanya, bentuknya, juga hiasan-hiasan lainnya, sehingga bukan hanya menawarkan "sedap untuk dimakan" melainkan juga "sedap untuk dipandang," bukan?

Etalase toko pun dipajang dengan selera seni rupa yang harus mampu menawan mata! Wajah (umumnya wanita) pun ditata-rias agar "lebih cantik dari aselinya."

Upacara mempersandingkan penganten pun ditata dengan sensualitas yang setinggi mungkin, dengan mengerahkan segala hiasan tradisional yang warna-warni meriah, bukan?

Semuanya itulah ranah sensualitas.

Twinbrook, 2006