hBelakangan ini pro kontra RUU APP kian gencar, suara penolakan kian keras, budayawan, seniman, non muslim, cendikiawan atau yg tidak sefaham dg pejuang SI rame-rame lantang menyuarakan keberatan mereka, lengkap dgn segala argumentasinya, Bali malah sempat menagncam untuk memisahkan diri dari NKRI bila RUU tadi sampai di syahkan (benarkah? saya pribadi ragu akan komitment Bali tersebut lepas dari betapa ´buruknya´ RUU tersebut). Satu hal yg menarik buat saya tapi saya yakin tidak banyak menarik perhatian sebagian besar orang entah karena faktor ini dianggap mengada ada atau bahkan malah ada yg menganggap ini sebuah provokasi semata, yaitu soal sinyalement saya bahawa RUU APP adalam merupakan ´jawaban real´ umat islam (politisi islam lebih tepatnya) pada sebuah ´tantangan´ terbuka terhadap penganut ajaran islam dgn cara MENGHINA dan MENGOBOK-OBOK akhidah dan kaidah (sendi-sendi ajaran islam), entah obokan itu berasal dari non islam dalam arti mereka kristen, budha, atau agama lain, atau juga obokan dari para yg tidak beragama dgn cara menyebar tulisan yg kontra dgn ´realita islam´ (memutar balikan fakta sesuai logika dan pemahaman literalis mereka), atau bahkan obokan dari para muslim liberal (bukan saja ISLIB dalam hal ini, tapi juga para ´free thinker´ muslim yg belakangan marak menjadi trend dalam dunia islam).

Sinyalemen saya bahwa umat islam saat ini benar2 lagi dalam persimpangan pasca Al Qaeda ngetop dan JI menjadi fenomena di Indonesia semakin jelas, islam di Indonesia telah menemukan ´jati diri´ dan ´harga diri´mereka pasca tragedy maraknya aksi terroris radikal islam lewat bom2 bunuh diri mereka, reaksi yg ´salah´ dari umat non islam atas maraknya aksi terroris radikal islam telah membangkitkan semangat brotherhood dalam islam, bahkan lebih dari itu, semangat militanisme dalam islam garis di Indonesia, ketika saya membawa ancaman MMI terhadap Bali, menjadi semakin jelas bahwa gerakan islam garis keras di Indonsia guna menuju negara Islam Indonesia kian gencar dan kian kuat, strategy angkat senjata macam gerakan DI/TII telah mereka tinggalkan, mereka telah putar haluan dgn cara konstitusional, lewat politik praktis dgn PKS sebagai kendaraan politik mereka, plus lewat jalan ´belakang´ lewat organísasi2 islam macam MMI atau juga MUI yg terus memberikan tekanan secara moral.

NU atau MUhammadiyah sebagai basis muslim moderat atau setidaknya NU sebagai penyokong utama Pancasila dari kalangan islam rasanya juga sudah mulai terbelah,desakan dan tekanan mental yg kuat terhadap islam lewat generalisasi agama tersebut (pelecehan dan penghinaan terhadap ajaran agama) telah memecah suara muslim dalam menyikapi maraknya gerakan menuju SI, mereka diujung pilihan antara cinta bangsa/negara (NKRI) atau cinta agama dgn ´jaminan´ agama mereka akan ´berekuasa´ atas minoritas dan akan ´menentukan´ warna negeri ini kedepannya, buat mereka, masih dalam kesatuan NKRI atau tidak bukanlah menjadi hal prinsip, sebab agenda utama mereka adalah ; daerah teritorial dimana syariah islam bisa diterapkan.

Kalau kita cermati proses menuju SI ini, kita bisa mulai dari PERDA diberbagai daerah yg jelas2 telah menjadikan SI sebagai hukum positif dalam kehiduoan sosial mereka, Aceh misalnya, kemudian menyusul beberapa daerah lain, bahkan Tangerang yg notabene adalah tetangga dekat Jakarta ada rencana mau menjadikan Jumát sebagai hari ´hari libur´mreka, adanya otonomi daerah lebih memungkinkan ruang gerak mereka semakin leluasa, dan kalau gerakan ini tidak dibendung atau diantisipasi dgn cerdas (pakai otak lewat strategy juga) maka -dilihat dari kecenderungan yg ada- gerakan mereka akan semakin melebar dan membesar.

Pada hemat saya, ada beberapa cara untuk meredam kian meluasnya gerakan menuju SI tersebut, syaratnya adalah; masing2 dari kita harus bersedia mengalah dan ada iktikad baik untuk memperbaiki diri dan keadaan yg sedang dan -akan terjadi, yaitu antar lain;

1. Mengadakan ´aliansi global´ di tingkat masyarakat, aliansi ini harus benar2 didukung dan disokong oleh SEMUA kalangan tanpa melihat RAS,SUKU atau AGAMA. Aliansi ini harus memiliki kekuatan moral setara dgn kekuatan MUI.

2. Bersama-sama mulai MENGHENTIKAN aksi cemooh antar penganut agama, termasuk didalamnya tidak mudah TERPROVOKASI oleh pihak2 yg non agamis tapi selalu ingin memojokkan agama tertentu ang mengakibatkan satu kelompok agama merasa ´teraniaya´ secara moral dan mental dan di pihak lain, kelompok agama lain merasa ´lebih unggul´ karena penilaian oleh pihak ´netral´ non agamis yg pada hemat saya sebenarnya tujuan mereka justru adalah terciptanya rasa saling syak wasyangka dan curiga antar penganut agama.

3. Kita tunjukkan sikap kritis kita yg KERAS kepada para PELANGGAR HUKUM atau HAM sekalipun mereka mengatasnamakan agama, apapun agama mereka, khusus untuk umat islam, kritikan dan hujatan yg lebih keras lagi HARUS kita suarakan kepada para pelanggar hukum dan HAM yg MENGATASNAMAKAN Islam. Disini, yg jadi POINT kritik dan hujatan kita adalah INDIVIDU atau KELOMPOK atau ORGANISASI (agama) yg telah jelas2 telah terbukti (disinyalir) telah melakukan pelanggaran hukum atau HAM (macam FPI misalnya).

4. Pancasila sbg dasar dan falsafah negara yg sempat dilecehkan karena ulah Orde Baru harus kita hidupkan dan kita jadikan alat pemersatu bangsa kita lagi, tunjukkan bahwa Pancasial memang ´SAKTI´ sebagaimana dia telah lolos dari ´pengkhianatan´ PKI, kita tunjukkan sekali lagi kalau Pancasila juga sanggup lolos dari jebakan gerilyawan SI, dan sekalian dari gerilyawan sekluer sejati yg ingin mematikan semangat Pancasila bagi bangsa kita, sekalgus kita tunjukan bahwa kita adalah bangsa yg besar, yaitu bangsa yg bisa dan mau menghargai jasa para pahlawan yg telah mengorbankan nyawa dan harta mereka demi kedaulatan dan keutuhan NKRI.

Terakhir, pesan yg selalu saya tegaskan; jangan terus dan terus mengulang-ulang menghina dan melecehkan satu ajaran agama APAPUN karena hal itu sangat sensitif, berkaitan dgn tulisan ini, maka tentunya segalka hinaan dan cacian terhadap ajaran islamlah yg jadi titik pandang saya, bukan karena saya muslim lantas saya ´menuntut´ hal tersebut, tapi lebih karena alasan melihat REALITA dan FENOMENA yang ada maka saya bisa katakan hal tersebut.

Mungkin banyak yg tidak tahu, melihat ´rengekan´, hujatan, cacian dan beberapa keluh kesah ketidak berdayaan atas RUU APP tersebut dari para ´minoritas´ (kalau saya ambil sample lewat agama saja), maka TANGISAN tersebut justru adalah TAWA bagi para muslim (islam garis keras) yg selama ini terus menerus merasa ´teraniaya´ karena opini2 dari kalangan non islam yg suka mengolok-olok ajaran agama islam padahal bagi mereka ajaran agama mereka tidak seperti apa yg didegung2kan dan terus dikabarkan lewat dunia internet, jangan lupa, era sekarang adalah era informasi, sejak ada internet maka segala berita bisa sampai ketelinga siapapun hanya dalam hitungan detik tanpa yg kasih informasi harus berhadapan muka.

Kritik terhadap dunia islam memang perlu dan harus, tapi generalisasi terhadap ajaran islam hanya akan mendatangkan bencana bagi kehidupan, khususnya untuk rakyat RI yg MAYORITAS adalah muslim, bisa anda bayangkan, bila yang mayoritas sudah mulai merasa TERHINA oleh yg minoritas, maka akibat apa yg akan mereka (mayoritas) lakukan terhadap mereka? Salam satu jawaban konkrit mereka adalah modelRUU APP tersebut, ini baru babak awal, kalau ´perang´ ini tidak segera kita hentikan dan kita tidak cepat2 bergandengan tangan, maka akibat yg buruk sangat mungkin akan terjadi di Indonesia.

VH