riceKunjungan menteri luar negeri (Secretary of State) Condoleezza Rice ke Jakarta pada hari Selasa ini adalah kunjungan yang pertamanya ke Indonesia yang merupakan bagian dari program kunjungannya ke empat negara (Australia, Indonesia, Peru dan Chili).
Tentu semua masyarakat ingin mengetahui agenda pertemuan dan pembicaraan antara pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat ini, Condoleezza akan membicarakan berbagai masalah mulai dari pembangunan demokrasi , kunjungan ke sekolah2 Islam, sampai dengan masalah blok Cepu, tetapi agenda pokoknya adalah masalah perang melawan terorisme dan membendung pengaruh China.AS menilai bahwa Indonesia adalah negara yang vital dan penting dalam rangka kampanyenya perang melawan terorisme (War on Terror), karena Indonesia mempunyai penduduk Muslim yang terbesar didunia serta anggauta OKI (Organisasi Konferensi Islam) serta dianggap negara Islam yang moderat dan dapat diajak berkerja sama. Hubungan dan kerjasama antara kedua negara ini sudah berjalan sejak berdirinya republik ini dan hubungan ini tidak selalu berjalan mulus secara linier, kadang naik dan kadang turun sampai seperti pada waktu jamannya Sukarno dahulu.

Pada waktu awal berdirinya Indonesia, AS telah memberikan tekanan kepada pemerintahan Belanda untuk melepaskan Indonesia dari belenggu kekuasaannya dan memberikan Indonesia haknya untuk merdeka, ini karena jasa Indonesia dalam menumpas PKI di Madiun dan ambisi Amerika untuk menggantikan kedudukan kekuatan kolonial lama dengan dirinya sendiri dalam bentuk yang lain serta dimulainya era perang dingin.

Pada jaman Sukarno hubungan Indonesia dengan AS telah mencapai titik yang terendah, karena Sukarno berusaha bersikap netral (non blok) didalam konflik "perang dingin" pada waktu itu, pendirian Sukarno ini dianggap sebagai sikap yang pro komunis, apalagi Sukarno lebih condong berkerja sama dengan negara2 blok Sosialis pada waktu itu yang bersedia memberikan bantuan persenjataan dalam rangka merebut Irian Barat.

Pemerintah AS ketika itu merencanakan untuk menjatuhkan pemerintahan Sukarno dengan memberikan dukungan/sponsor politik, pendanaan dan militer kepada kelompok subversif dan para pemberontak PRRI/Permesta tetapi usaha itu telah gagal, baru pada tahun 1965 impian AS untuk menjatuhkan Sukarno telah berhasil dengan sukses dan sejak saat itu Indonesia dengan pemerintahan Orba berpihak ke kubu Barat dan menjadi salah satu negara yang anti komunis serta membekukuan hubungan diplomatik dengan China.

Didalam konstelasi perang dingin itu AS telah berhasil memenangkan dan menarik Indonesia kepihaknya dan menjadi sahabatnya yang setia setelah kegagalannya di Vietnam.

Selama periode itu AS telah memberikan dukungan yang penuh kepada pemerintahan Suharto seperti dalam pembangunan ekonominya melalui IMF, World Bank atau bantuan bilateral dll. Tim ekonominya dipersiapkan dan dididik di Universitas2 Amerika yang terkenal dengan " konsep pasar bebas" nya (Free Market Economy) yang diperkenalkan ke Indonesia melalui tim ekonominya yang dikenal dengan nama "Berkeley Mafia". Dukungan AS ini termasuk juga dukungan militer ketika Indonesia mengintervensi Timor Timur.

Indonesia telah menjadi anak manis dunia Barat atau "dunia bebas" (Free World), yang akan menjadi benteng untuk membendung komunisme serta loyal terhadap kepentingan Barat , pembangunan ekonominya telah dijadikan model bagi pembangunan negara2 berkembang lainnya, sehingga Indonesia disebut sebagai salah satu negara macan Asia yang baru.

Tetapi sejak berakhirnya perang dingin dan AS sebagai pemenang, keluar menjadi satu2nya negara adidaya (Superpower) didunia, peranan Indonesia sudah mulai diabaikan oleh AS dan Indonesia tidak lagi menduduki prioritas utama dalam geopolitknya (hampir sama seperti hubungan antara AS dengan Osama bin Laden) Indonesia ditekan untuk keluar dari Timor Timur serta menuntut Indonesia untuk bertanggung jawab atas pelanggaran2 hak asasi manusia di Timtim yang dilakukan oleh para Jendralnya dan hal ini menjadi alasan pemberlakuan embargo dan pembekuan kerjasama militer dengan Indonesia, walaupun pelanggaran2 atas kemanusiaan di Timtim itu menggunakan senjata2 yang berasal dari bantuan AS.

Sesudah peristiwa 9/11 (penghancuran gedung World Trade Centre), situasi berubah secara drastis, AS merasa terancam oleh aksi2 teror yang dilaksanakan oleh golongan Islam fundamentalis dan radikal, perang melawan terorisme (War on Terorr) telah dimulai dan dengan alasan yang palsu AS menyerbu dan menduduki Iraq, tindakan ini serta perlakuan yang brutal dari tentara AS terhadap para tawanannya di penjara Guantanamo dan Abu Ghraib telah membangkitkan protes dan kemarahan masyarakat Muslim (dan masyarakat cinta damai lainnya) sedunia dan AS dinilai telah menjalankan politik standar ganda (double standard), yang selalu mengeritik dan menuduh negara lain melanggar hak asasi manusia.

Bersamaan dengan berakhirnya perang dingin, China telah mulai bangkit menjadi satu kekuatan ekonomi yang baru didunia , China telah menjadi saingan utama AS dan diperkirakan pada tahun 2020 sekiranya pertumbuhan ekonominya seperti sekarang ini maka produk domestik brutonya (GDP) akan menyamai atau melampaui AS, walaupun per kapitanya masih sangat rendah. Kebangkitan China ini mencemaskan AS, statusnya merasa terancam dan konsep dunia " Uni Polar" dimana AS menjadi satu2nya kekuatan dunia akan digantikan dengan konsep dunia "Multi Polar", karena China dan India (disebut juga Chindia) juga akan mencapai status negara adidaya (Super Power) yang baru dimasa depan.

Kenyataan baru ini sangat mencemaskan AS,"China dan ancaman teror" dilihat sebagai musuh ganda kepentingan AS (Twin Enemy), dibidang energi (minyak) AS bersaing dengan China untuk mendapatkan akses langsung ke sumbernya, karena China telah menjadi negara pengimpor minyak nomor dua terbesar didunia sesudah AS. China meluaskan hubungan dagang dan diplomatiknya hampir ke seluruh dunia, ke Afrika, Amerika Latin (halaman belakang Amerika), EU dan Timur Tengah (seperti kunjungan raja Abdullah dari Saudi Arabia bulan lalu ke China), dari segi militer China telah memulai memodernisasi angkatan bersenjatanya sesuai dengan dengan kemampuan ekonominya, dan ini dilihat oleh AS sebagai ancaman atas kepentingan nasionalnya, serta China dipandang sebagai sesuatu "kekuatan negatif" (negative force).

Kunjungan Condoleezza Rice ke Indonesia tidak terlepas dari konstelasi politik atau kenyataan baru ini. Indonesia seakan telah diketemukan kembali oleh AS, Indonesia dipandang sebagai negara yang penting dalam kampanye perang melawan teror (War on Terorr) karena berpenduduk Muslim yang terbesar didunia dan Indonesia dinilai telah memberikan kontribusi yang positif dalam menangkapi gembong2 pelaku teror seperti dari kelompok Jemaah Islamiah dll. Ganjalan dan halangan2 politik lama telah dilupakan seperti pelanggaran2 hak asasi kemanusiaan di Timtim oleh para Jendral, penembakan warga Amerika di Timika, Indonesia dipuji dan disanjung kembali dengan sebutan negara demokrasi ketiga terbesar didunia , datang usulan untuk memberikan hadiah Nobel perdamaian ke presiden SBY, memberikan predikat sebagai negara berpenduduk Islam yang moderat, pencabutan embargo militer serta pemulihan kejasama militer kembali seperti program IMET (International Military Education Training), kerjasama dan latihan dengan tentara Australia dll serta bantuan terhadap korban bencana Tsunami di Aceh.

Dalam kerjasama kampanye perang melawan terorisme ini Amerika membutuhkan dukungan dari Indonesia , diharapkan oleh AS bahwa SBY dapat berperan seperti presiden Pakistan Pervez Musharraf , ini suatu bentuk politik standar ganda lagi dari AS, karena sebelum peristiwa 9/11, Pervez Musharraf dianggap sebagi diktaktor (tin pot dictator) yang mengkudeta Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif pada tahun 1999, sekarang ia menjadi sekutu AS dalam perang di Afghanistan, dukungan Pervez Musharraf terhadap AS mendapat kritik dan oposisi dari kalangan rakyatnya sendiri terutama dari kelompok fundamentalis.

Karena Indonesia sendiri telah beberapa kali menjadi sasaran korban aksi teror yang mengatasnamakan Islam , tak ada alasan untuk tidak bekerjasama dengan AS dalam kampanye melawan terorisme ini demi kepentingan dan keamanan nasional, tetapi bagaimana bentuk kerjasamanya antara Indonesia dengan AS nantinya dalam " War on Terror", yaitu seberapa jauh perbedaan atau benturan kepentingan antara AS dan kepentingan Nasional/Islam akan menentukan hubungan SBY dimasa depan dengan golongan Islam yang bukan hanya datang dari kelompok garis keras saja, melainkan juga dari kelompok Islam moderat.

Indonesia juga diharapkan dapat berperan menjadi penengah atau jembatan dalam menangani beberapa permasalahan Internasional, seperti masalah Palestina dan krisis program nuklir Iran, didalam krisis program nuklir Iran, AS menjalankan politik standar ganda, dimana dengan India, AS membuat pakta nuklir dan berkerjasama membagi informasi (India dibutuhkan sebagai counter balance kekuatan China) sedangkan dengan Iran, AS mengancam akan mengembargo Iran atau melakukan langkah yang drastis yaitu menyerang instalasi nuklir Iran (Surgical Strike) kalau Iran tidak mau mengikuti keinginan AS untuk membatalkan program pengayaan Uraniumnya.

Sebagai salah satu negara anggauta OKI (Organisasi Konferensi Islam) , Indonesia dituntut untuk bertindak sensitif dan hati2 dalam menjalin kerjasama dengan AS dalam perang melawan teror, banyak orang Muslim yang menginterpretasikan bahwa kampanye pemerintahan AS "War on Terror" ini mengarah ke "War on Islam" sendiri, dan mencurigai bahwa langkah2 (manuver) diplomatik AS dengan mendekati Indonesia ini adalah usaha yang halus untuk menanam benih perpecahan diantara negara2 OKI, hubungan antara AS dengan Malaysia sendiri sebagai ketua OKI tidaklah harmonis, terutama sejak jamannya perdana menteri Mahatir Muhammad berkuasa, karena Mahatir selalu vokal menentang upaya dominasi Amerika terhadap negara2 anggauta OKI.lainnya.

Sasaran manuver diplomatik AS lainnya pada kunjungan Condoleezza Rize ini adalah merangkul Indonesia untuk menjadi sekutu AS dalam membendung perkembangan China (containtment policy) seperti yang telah dilakukan pada jaman Orba sebelumnya. Hubungan dengan negara China yang telah pulih, berkembang ,dirintis dan dipelihara dengan baik selama ini terlalu berharga nilainya hanya untuk dikorbankan demi kepentingan AS, dan disini AS berusaha menanam benih perpecahan antara negara Asia dengan tetangganya, rupanya mentalitas perang dingin dan ambisi untuk mendominasi dunia masih eksis dalam agenda politiknya.

Kerjasama RI dengan AS ini akan merupakan batu ujian bagi kelincahan diplomatis dan kenegarawanan SBY dalam mempertahankan dan mendahulukan kepentingan nasional tanpa merugikan kepentingan atau reaksi negatif dari pihak ketiga ataupun membangkitkan sikap oposisi dari dalam negeri sendiri.