konMenarik sekali membaca komentar di Newsweek tentang  rencana menaikkan lagi ideologi Confucius di Cina modern ini, apalagi menyusul komentar2 ttg confusius akhir2 ini. ( Can the Sage save China? )potongan artikel diatas: —

"For their part, Hu & Co. are clearly hoping a Confucian revival can help dampen grass-roots challenges to government authority, which are mounting so fast that local officials are being told their promotion prospects depend partly on whether they can keep a lid on unrest. Confucianism not only prizes social harmony, but dictates that citizens should obey the emperor if he, in turn, wields the so-called mandate of heaven in a moral way.

"The government has found that a Leninist method of government is too rigid, while democratic government has an anarchic quality that is too destabilizing,"; says Richard Baum, director of the UCLA Center for Chinese Studies. "The Confucian idea of a 'mandate of heaven,' where the emperor ruled with a virtually absolute mandate, provided he took care of the people, is very close to the modern-day notion of a benevolent despotism." —

Saat ini pemerintahan pusat Cina sangat butuh harmoni – dalam artian yg sama spt pesan Zhang Yimou (aku misspelled nama ini sebelumnya) di film Jetli Hero itu. Karena pembangunan Cina dari negara miskin ke superpower perlu konsentrasi kekuasaan yg kuat, bukan dirongrong oleh semangat anarkis yg timbul dari demokratisasi. Pesan Yimou di film Hero itu jadinya sangat Confucian … (he he .. 'melihat gajah')

Pesan2 sang nabi-cina Confusius ini dulu di puja2 di jaman tradisional, karena memang 'enak jatuhnya' buat penguasa feudal. Lalu dihajar habis di jaman Mao, yg menganggap 'self-critic' lebih penting buat perbaikan moral. (baca disini , aplikasi aprots feudal dan self critic — logika yg juga dipakai oleh ngisfuns walau mereka tidak mengakuinya). Sekarang, jelas bahwa nilai2 Confusius ini yg mau dijual oleh pemerintahan Cina sekarang, atau suatu model yg mirip dengan Confusius modern – Singapore. Idea Confusius ini dijabarkan secara singkat di quotation diatas. Perlu 'mandat surga' bagi pemerintahan pusat, dengan syarat pemerintahan nya berkuasa secara moral — suatu 'transaksi' kekuasaan dengan asumsi bukan kedaulatan rakyat, tetapi jual beli: kekuasaan buatmu, moralitas jaminannya.

Ini kurasa tidak memadai untuk pemerintahan modern. Lihat Singapore – contoh negara yg sangat sukses menerapkannya secara konsisten, secara material maju tetapi secara kebebasan individu / kreatifitas terbelenggu. Tentu saja secara relatif 'deal' spt Singapore ini jauh lebih baik daripada deal2 yg rata2 diterima rakyat negara kere (kayata ngindos!) dunia. Dan fakta bahwa tidak semua masyarakat – atau bahkan individu manusia – bisa memperoleh yg terbaik baginya. Dari pemikiran itulah, maka deal Confusius dari presiden Hu Jintao ini bukanlah suatu deal jelek. Ideal suci murni jelas tidak. Tetapi sebuah start yg bisa bagus.

Tentu saja – jika kaum literal fanatis Confusius yg malah berkuasa — menekankan cara pakaian (ya, sang nabi cina ini concern sekali dengan pakaian dan tatacara, mirip muslim taleban! ) dan unggah-ungguh (termasuk perincian ekspresi muka kalo ketemu boss –> lucu dah!) dan simbolisme total. Selain juga diskri pada wanita –> jika sisi2 ini yg ditekankan hancurlah Cina! Yang kaya cuman kaum 'ulama confucius' (ya aliran ini juga punya scholarships kayak dewan ulama) yg bisa se-mena2 tanpa bisa bener2 mikir. Sebaliknya, jika bisa mengambil yg positif dan mengurangi – setidaknya downplay – yg negatif, maka filsafat yg secara teoritis gombal2an inipun bisa dipakai sebagai 'jembatan keledai' buat nyebrang jadi negara makmur seperti di Singapore (dan mungkin Dubai bagi Islam). Tokh manusia2 awam itu rata2 tidak peduli logika2 kebenaran filsafati.

Tetapi idea2 yg gamblang2 bodo (spt baju krudung arab – maka baju kebesaran confusius juga njlimet! lalu peran wanita juga mirip2 ..) sangat mudah disalah-fahami. Diskon pikiran purba spt ide Wafa Sultan itu harus selalu diingat. Apa yg bagus buat engkongmu tidak selalu bagus buat dirimu, dan juga mungkin sangat jelek buat anak cucumu (terutama ide2 yg dulu membuat engkongmu kaya – seperti aturan 'adil' bagi2 hasil rampogan – biasanya sangat jelek di jaman kini!). Dengan analogi yg sama — maka kasus confusius di Cina ini mirip dengan aplikasi idea islami pada pemerintahan negara2 yg majoritas muslim. Bisa literal dan gagal total, bisa di adopsi ke modernitas dan menjadi jembatan suatu bangsa menuju modernitas secara penuh dignity. In a major way, Islam lebih parah daripada confusius di Cina, karena sampai saat ini belum ada yg menjitak kepala mullah2 goblog itu. Confusius pernah digunduli Mao – jadi kurasa drajat penyembahan massa nya bisa ditahan – gambar nabi nya kurasa di kencingi juga tidak apa2, spt seharusnya sebuah gambar :P.

Islam perlu mengalami humiliation besar2an (bukan dalam artian sempit spt yg sekarang digembor ngisfuns pada kasus gambar kartun – justru kasus ini membuktikan sisi sebaliknya, bahwa Islam samasekali belum siap, perlu dijitakin sampai botak dulu) — di nyatakan gagal total oleh majoritas pengikutnya sendiri — lalu mengalami renaisans secara rendah hati (dan ini justru spt watak Muhammad sesungguhnya). Kurasa Islam saat ini sedang dalam proses kesana, kegoblogan2 mullah di dunia yg sekarang di-pamer2kan (dari sejak rushdie, taleban, 911, gorok2an, bom2an sampai geger kartun kemarin, itu sebabnya yg terakhir ini kukatakan yg paling ringan) — maka akan bangkit rasa muak besar2an (yg memang patut dilakukan) pada kegoblogan2 palsu ini — bangkit pahlawan2 pemikir lurus spt Wafa Sultan dan JIL — dan mullah2 ngisfuns literal itu digunduli habis dipermalukan di publik oleh rakyatnya sendiri. Baru Islam dapat berperan di dunia secara pantas, tidak lagi merupakan ideologi primitif beduin, interpretasi (ya kaum literal muslim saat ini sunni salafi maupun syiah ekstrim – adalah sekedar interpretasi, yg jelas2 salah dari Islam) Sisi sebaliknya – mengharapkan bahwa Islam akan 'hilang' begitu saja dari pentas dunia karena alasan2 apapun – adalah tidak sesuai kenyataan. Sama saja spt mengharapkan bahwa idea tao & confusius hilang begitu saja dari pentas kaum cina. Tidak mungkin. Berubah mungkin, hilang tidak mungkin. Dan, pada dasarnya – memang semua orang berhak atas dunia ini — apapun spiritualitas mereka. Lihat saja, dunia sedang dalam suatu arus besar yg akan menentukan masa depan. RUU APP itu – memang seharusnya sesuai kenyataannya — juga merupakan 'alat revolusi' untuk memperjelas kegoblogan pemikiran mullah2 ngisfuns. Jadi, demi masa depan Islam – kaum ngisfuns ini harus dipermalukan sebagaimana kenyataan.

b@b 13/03/06