htPembahasan mengenai RUU Pornografi dan Pornoaksi yang sedang digodok  di parlemen serta ramai dibicarakan di  media  suratkabar dan media  elektronik pada akhir2 ini memancing  suatu perdebatan yang ramai  antara  yang  pro dan kontra dengan RUU tersebut. Banyak masyarakat Indonesia dari golongan non-Muslim menginterpretasikan dan mengkhawatirkan bahwa RUU ini dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih dekat lagi dengan konsep negara yang berlandaskan cita2 atau nilai2 Islam atau yang lebih eksplisit lagi ialah bahwa RUU ini bernuansa proses Islamisasi yang subtil, walaupun mereka setuju dan sepakat bahwa pornografi harus dilarang demi melindungi masa depan generasi muda negara ini.

Sebaliknya ada orang yang berpendapat bahwa kalau ini diinterpretasikan sebagai proses Islamisasi maka hal ini adalah proses yang berjalan alamiah dan wajar2 saja , karena mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, dan proses ini bukan baru hadir sekarang melainkan suatu proses yang telah berlanjut sejak abad ke 13 (sejak masuknya Islam ke Indonesia).

Akhir2 ini beberapa media internasional banyak mengulas tentang kemenangan Hamas di Palestina dan naiknya Ahmad Dinejad menjadi presiden Iran yang baru , dan mereka ini dipilih oleh rakyatnya melalui proses yang demokratis. Kemenangan ini mengejutkan pihak barat, karena sebelumnya mereka kategorikan sebagai golongan Islam garis keras dan militan. Banyak yang menginterpretasikan bahwa kemenangan ini sebagai salah satu pendorong kebangkitan dunia Islam lebih lanjut dan peristiwa ini telah membangkitkan kepercayaan diri dari negara2 yang mayoritas masyarakatnya pemeluk agama Islam untuk merebut dan menggantikan kekuasaan dari penguasa2 sekuler yang tidak populer atau yang tidak sesuai dengan ajaran2 atau nilai2 Islam murni melalui proses pemilihan yang demokratis.

Peristiwa yang hampir serupa yaitu kemenangan melalui jalur pemilihan yang demokratis telah terjadi di Aljazair pada tahun 1997, partai Front Penyelamat Islam (Front Islamique on Salut) disingkat FIS telah memenangkan pemilu tetapi militer Aljazair mengintervensi dan membatalkan kemenangan itu, serta menangkap para pemimpinnya. Visi dan cita2 untuk mendirikan suatu negara yang berlandaskan nilai2 moral, hukum dan spiritual agama Islam bukanlah hanya hak monopoli atau klaim dari golongan Fundamentalis saja, melainkan adalah suatu langkah konsekwensi yang logis dari penerapan ajaran agama yang konsekwen dan murni.

Sebagai salah satu dasar legitimasi penegakkan Syariat Islam adalah pendapat yang mengatakan bahwa Islam adalah suatu agama monoteis yang sekaligus juga suatu Ideologi, karena ajaran dan doktrinnya bukan hanya mengatur kehidupan manusia di akhirat melainkan juga didunia yang mencakupi seluruh aspek kehidupan manusia secara lengkap, contohnya adalah tidak ada perbedaan hukum gereja dan hukum negara seperti dalam sejarah kristen, yang ada hanya satu hukum, yaitu Syariat yang diterima oleh kaum Muslimin sebagai sumber hukum tertinggi, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, seperti masalah sipil, perdagangan, kriminal, konstitusional dll. serta tidak ada hukum yang lebih tinggi daripada Syariat Islam.

Banyak kalangan dari golongan non-Muslim (seperti di Bali) dan golongan Kristen khususnya merasa tidak nyaman dan khawatir dengan tendensi ini (penerapan Syariat Islam) , karena mereka menilai tendensi ini dapat melunturkan prinsip pluralisme yang selalu diagung-agungkan dan diidialkan selama ini oleh kalangan non- Muslim serta mempertanyakan apakah Indonesia yang dikenal sebagai negara Islam yang paling moderat didunia dan bertoleransi tinggi hanyalah sebuah “Mitos”

Timbul pertanyaan lagi digolongan mereka apakah “Syariat Islam”. yang dipersepsikan sebagai kebangkitan Islam di Indonesia ini sungguh akan diterapkan , disebarluaskan dan dilaksanakan pada kabupaten2 lainnya di Indonesia? (yang berarti hampir seluruh Indonesia) seperti apa yang sudah dilaksanakan di beberapa kabupaten dan propinsi seperti di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, serta timbul keraguan lebih lanjut akan sikap dan keadilan Pemerintah pusat serta lokal dalam kebijaksanaan yang akomodatif dan konsensi yang luas yang diberikan atas tuntutan , aspirasi dan kepentingan dari pihak Islam politik.

Kalau demikian yang akan terjadi, bagaimana dengan posisi dan status golongan non-Muslim dan Kristen di Indonesia yang akan datang ?

Apakah masa depannya akan sama seperti yang telah terjadi dengan nasib golongan Kristen di negara Timur Tengah?

Sebelum abad ke 7 negara2 Timur Tengah yang kita kenal sekarang seperti di negara2 Afrika Utara (Maghreb), Mesir, Syria, Irak, Palestina , Jordania dan Libanon mayoritas masyarakatnya adalah penganut agama Kristen yang hidup dibawah kekaisaran Byzantium yang dikenal sebagai kekaisaran Romawi Timur. Pada abad ke 7 ini pasukan2 Islam mulai meluaskan sayapnya dan merebut daerah2 yang sebelumnya dikuasai oleh kekaisaran Byzantium dan Sasanian (Persia) hingga sampai ke Andalusia (Spanyol).

Ketika pasukan Muslim datang menduduki daerah tersebut, banyak kaum Kristen menyambutnya sebagai pembebas, karena mereka sebelumnya menderita dibawah kekuasaan kekaisaran Byzantium. Para penguasa Muslim yang baru ini memanfaatkan kepandaian dan keahlian mereka untuk menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan ekonomi serta beberapa diangkat dan menjabat didalam lembaga2 ilmu pengetahuan..

Didalam Islam ada ajaran yang mengatakan “Tidak ada paksaan dalam beragama”;, maka mereka dari golongan Al-kitab (kristen dan Yahudi) ini diperbolehkan beribadat sesuai dengan agama mereka dan menjalankan urusan sendiri, namun tak diberikan hak2 tertentu namun kaum non-Muslim ini dikenakan beberapa larangan seperti dilarang membawa senjata, menunggang kuda, memiliki budak Muslim, mendirikan bangunan yang lebih tinggi daripada bangunan Muslim serta harus memakai tanda dan pakaian yang berbeda serta dikenakan pajak (Jizyah), golongan ini juga disebut Dhimmi (sebutan untuk non Muslim) Sikap dan kebijaksanaan para penguasa Muslim terhadap golongan Dhimmi ini kerap berubah-ubah tergantung pada kebutuhan, kepentingan, situasi politik atau kondisi psikologi daripada penguasa yang sedang berkuasa, kadang bersikap toleran dan kadang tidak atau bersikap tirani.

Salah satu pahlawan Islam yang terkenal dalam perang Salib yaitu Saladin (1137-1605) bersikap sangat toleran dan berjiwa besar terhadap lawannya, dan di India, raja Akbar (1556-1605) dari Dinasti Moghul yang Islam , dikenal sebagai seorang penguasa yang bijaksana dan toleran terhadap pengikut agama lain, malah dia menyelenggarakan dialog antar umat beragama, sebaliknya keturunannya yang menjadi penguasa Dinasti Moghul yang terakhir yaitu Aurangzeb (1658-1707) bersikap tirani dan tidak toleran terhadap pengikut agama lain (Hindu).

Penduduk golongan Kristen di Timur Tengah pada saat kini berjumlah sekitar 12 -14 juta jiwa dan hampir separuhnya bermukim di Mesir. Pada umumnya penduduk Kristen dinegara Timur Tengah itu berjumlah kurang dari 10% dari total penduduk negara itu. Pada saat kini populasi penduduk golongan Kristen di Timur Tengah berkurang dengan signifikan, karena banyak yang eksodus ke negara lainnya seperti Amerika dan Kanada, penyebabnya adalah karena mereka merasakan bahwa masa depan mereka suram, merasa diperlakukan tidak adil ( persecution), diskriminasi sosial dan hukum, ruang gerak yang dibatasi serta sikap yang tidak toleransi dari beberapa penguasa atau terjadinya friksi2 dengan golongan fundamentalis, terjadinya konflik bersenjata yang berkepanjangan, selain itu juga angka kelahiran dari golongan Kristen ini juga makin hari makin mengecil atau berpindah ke agama Islam seperti yang telah dilakukan oleh pendahulu2nya berabad-abad sebelumnya

Selama 20 tahun terakhir ini diperkirakan sekitar 2 juta orang Kristen asal Timur Tengah telah meninggalkan negaranya karena alasan yang telah disebutkan diatas dan karena juga sedikit pilihan atau opsi yang tersedia , kecuali bergabung (convert) dengan mayoritas pemeluk agama Islam lainnya. (if you can’t fight them, join them).

Beberapa orang Kristen Timur Tengah (Arab) terkenal yang pernah menduduki posisi jabatan penting dalam pemerintahan , lembaga Internasional atau tokoh masyarakat lainnya seperti :

Buthros Buthros Ghali, mantan sekjen PBB dari Mesir

Tariq Azis, mantan menteri luar negeri dan wakil perdana menteri Iraq

Dr.Hanan Ashrawi, juru bicara dan negosiator PLO (Palestinian Liberation Organization)

Dr.George Habash, mantan pemimpin PFLP (Popular Front for the Liberaton of Palestine)

Nayef Hawatmeh, mantan pemimpin PDFLP (Popular Democratic Front for the Liberation of Palestine)

Michel Aflaq, pendiri partai Baath yang merupakan pelopor gerakan Nasionalisme Arab dari Syria

Khalil Gibran, penulis, penyair dan ahli filsafat dari Libanon

; Philip K. Hitti, ahli dan peneliti sejarah Timur Tengah yang terkenal dari Libanon.

Walaupun dari golongan Kristen Arab ini telah banyak memberikan kontribusi dan sumbangan yang besar terhadap perkembangan politik, kebudayaan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan kehidupan intelektual dunia Arab, namun status sosial dan hukum mereka secara umum dibeberapa negara Timur Tengah relatif masih tidak berubah dan mereka masih tetap merasa diperlakukan sebagai warganegara kelas dua.

Apakah pengalaman sejarah golongan Kristen di Timur Tengah ini akan berulang kembali di Indonesia? entahlah, karena pertanyaan , kekawatiran atau prediksi ini masih bersifat spekulatif dan hipotetis.

Seperti orang sering mengatakan bahwa didalam dunia politik segala sesuatu dapat terjadi (Politic is" The Art of Possibility"), dan "tidak ada yang abadi didunia ini, kecuali perubahan itu sendiri". Apakah Indonesia dengan Pancasilanya dapat tetap bertahan dan abadi (survive) seperti pada saat sekarang dan yang selalu diagung-agungkan selama ini? ataukah akan mengalami perubahan, transformasi, mutasi atau menghadapi kenyataan baru dimasa depannya? (atau dalam waktu dekat?) sekali lagi entahlah, sejarah dan waktulah yang akan menjawabnya nanti!