Setelah banyak tulisan yg memuji India dan Cina, minggu ini mulai muncul
tulisan2 di Time dan Newsweek ttg kondisi yg masih parah baik di Cina maupun
India.

Yaitu perlakuan pada rakyat kecil yg sangat jauh dari fair. Di Cina, kebijakan pemerintah pusat yg sangat buru2 membuat penguasa2 lokal mempunyai kekuasaan luas (mirip spt daerah2 ngindo). Time meng expose soal ganti rugi tanah desa yg diserahkan ke industry. Pengusaha swasta itu membayar USD3300 lahan, dibayarkan ke petani hanya USD100, padahal (ex) petani itu sudah kehilangan lahan mereka. Ketika mereka protes, dihajar tentara. Ini semua sangat standar ngindo (!) Lalu masalah jaminan kesehatan yg sangat rendah (ada foto seorang nenek lagi dicabut gigi nya memakai tang!). Plus polusi yg kadarnya gargantuan. Sifat2 feudal orang2 cina – yg secara ekslusif sangat 'baik' pada kelompok sendiri, tanpa peduli sama sekali dengan kelompok2 diluar dirinya. Sikap spt itu juga nampak di India. Tulisan2 yg mengatakan ada 2 India. India yg glamour di tampilan turis dan industrialis, dan India yg menggelepar dalam kemiskinan total. Jadi melihat hal2 spt itu perlu suatu kearifan. Mengatakan bahwa Cina dan India itu hopeless karena kekejaman2 individuil yg masih saja terus terjadi — adalah satu sisi. Mengatakan kedua negara ini 'sangat sukses' dengan perkembangan variable2 makro ekonomi nya adalah sisi lain. Seseorang individu yg hidup di salah satu dunia itu – mengikuti impuls tradisionalnya – sangat mudah mengatakan generalisasi bahwa negara2 itu 'gagal' atau 'sukses'. Jika perlu dicantumkan dalam brosur / khotbah atau dijadikan slogan perang atau demo — maka pengkotakan harus dibuat ketat, dan 'gagal' atau 'sukses' itu dipaksakan. Kenyataan ada diantara keduanya. Mengatakan gagal salah, sukses total juga salah. Mengatakan Irlandia sukses jauh lebih akurat, karena kesuksesan pembangunan ekonomi di negara itu sudah mencapai hampir semua orang. Seperti halnya mengatakan Sudan itu gagal juga jelas, karena yg kaya hanya segelintir sangat kecil, dan 90% rakyatnya menderita dalam level yg sangat tidak umum di tempat lain. Membaca kenyataan jauh lebih sulit daripada slogan. Perlu knowledge, perlu sains. Setelah membaca kenyataan2 itu, perlu kearifan untuk membentuk opini atau pendapat. Perlu 'point of view' — agar tidak terjadi gejala pada beberapa milis yg sampai mengatakan 'indonesia sukses karena aku bisa punya banyak babu, mobilku mewah2'. Pandangan pribadi itu tentu saja selalu ada — dan bagi banyak sekali manusia itulah satu2nya pandangan yg sah. Tetapi secara fair tidak bisa demikian. Tidak bisa anda katakan bahwa semua sangat bagus karena anda kaya raya, punya 4 istri cantik2 yg 'selalu siap melayani', budak2 dan istana serta mobil mewah. Sederhana saja, bagaimana point-of view budak2 itu? (revolusi anti budak di eropa dulu sangat sulit menelan pil pahit ini – sekarang di Asia dan arab malah masih sangat relevan!). Malah juga, bagus buat anda bisa ngencuki 4 istri — tetapi bagaimana buat masing2 istri itu ? berebut pengencukan dari anda agar tetap jadi favorit / dapat makan ? Jangan mengatakan bahwa mereka 'sudah untung' daripada jika tidak kukawini bakal jadi lonte jalanan.

 

Urutan logika kasar diatas menjelaskan betapa tidak sulitnya berpikir fair. Lebih tidak sulit lagi karena idea2 semacam itu sudah sangat luas di pemikiran modern, tinggal baca saja buku2 ttg subjek ini sangat banyak tersedia. Dan disitulah kita menghadapi tantangan kita masing2. Untuk tidak terlalu pesimis melihat semua kejahatan yg terjadi di dunia, tetapi juga tidak silau pada claim2 sepihak. Dan terutama tetap mampu menimbang dan melihat kenyataan sebagaimana adanya. Selalu mempunyai empati pada kehidupan, kemanusiaan (dan juga lebih luas ke semua kehidupan, jika mampu — metta bhawana ) Ini semua tidak mudah, tetapi juga tidak susah. Karena banyak sekali contoh dalam kehidupan ini memberikan kesimpulan yg sama – spt perkembangan ekonomi Cina dan India pun membawa alur pemikiran kesini. Untuk semua kebaikan, selalu ada konvergensi — semua alur pemikiran jernih bermuara ke lautan kebijakan yg sama. Semua kejahatan mempunyai kekhas-an nya masing2 ibarat gua perampok selalu individuil. Ada banyak sekali cara mencapai kebaikan. Dan dari semuanya yg terpenting adalah diri anda sendiri, mengajarkan kebaikan pada orang lain tidak jelek, tetapi tidak utama — terutama jika anda sendiri belum tahu apa itu kebaikan. – Masa depan Indonesia? tidak sebaik India atau Cina, tetapi sampai saat ini kurasa masih jauh lebih baik dari Sudan. Tentu saja akan sangat beda jika kaum janjaweed (mujahidin berkuda di sudan) mulai ngetoprak di kota2 Indonesia —> semakin mirip ke Sudan!

Sebaliknya, jika industri FPI (investasi asing) makin ramai di sentra2 industri, maka sebagian kemajuan Cina akan ikut2 mampir. Jika sentra2 enjiniring dan komputasi ngindo mulai memproduksi anak2 muda yg mampu mendisain secara individu –> mulai lah sebagian kemajuan India akan mampir. As simple as that. Itu pula – secara simplisistis — cara menilai apa yg seharusnya dilakukan pemerintahan. Dan itulah sebabnya aku selalu nggembor: Fuck Qaedah! Disisi lain terkadang tidak direct, RUU APP itu misalnya, akan menggembosi turisme, mencoreng muka ngindo dimata asing (termasuk investor2) secara tidak perlu, dan menguntungkan kaum underbow Qaedah! Padahal keuntungan yg mau diraih tidak jelas apa, atau tidak sepadan dengan kerugian2 diatas. Maka jelas posisi kita harusnya dimana, anti RUU APP spt yg ada sekarang. Mempunyai point of view yg benar, itulah kunci nya – siapapun anda (ya, tidak ada bedanya muslim atau non-muslim!) b@b