kkgMembaca berbagai tulisan di kolom Kwik Kian Gie di Rakyat Merdeka (http://rakyatmerdeka.co.id), terutama yang berjudul ExxonMobil,  Cepu dan Logika Gombal, yang dimuat tanggal 7 Maret 2006, membuat saya mengelus dada. Beliau mungkin terlalu banyak baca buku ekonomi, ditambah sakit hati yang menumpuk, sehingga menjadi kasar,  dan kehilangan "rasa". Mestinya bapak mantan menteri yang terhormat itu, membaca Serat Wedhatama karangan Mangkunegoro IV,  lalu membaca dan meresapi arti dari beberapa tembang berikut :

[Jinejer neng Wedhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi, mangka  nadyan tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi asepa lir sepah  samun, samangsane pekumpulan, gonyak-ganyuk nglilingsemi – Pangkur  2]   [Nggugu karsane priyangga, nora nganggo peparah lamun angling, lumuh  ingaran balilu, uger guru aleman, nangin janma ingkang wus waspadeng  semu, sinamun ing samudana, sasadon ingadu manis – Pangkur 3]  Disusunnya kitab Wedhatama memiliki tujuan agar sang pembaca dapat  mengembangkan budi pekerti dan "rasa" yang ada dalam diri.  Tanpa "rasa", walau sudah tua pikun, ia akan menjadi pribadi hampa  dan akan mempermalukan diri sendiri ketika berada di tengah  masyarakat. Ibarat ampas tebu, hilang manisnya tiada berguna. Orang  yang sudah kehilangan rasa, akan selalu omong besar, bertindak  lancang dan tidak berfikir matang, ketika berteriak mengatas namakan  rakyat dimedia masa.   Orang yang telah kehilangan "rasa", hanya menurut pemikiran, ego dan  mengutak atik logikanya sendiri atau  benere dewe, sehingga acapkali  alur pikirannya membingungkan. Kalau berdebat jadi ngotot, mata  melotot, mulut berbusa dan urat leher menegang. Kalau dikaji secara  mendalam, orang seperti ini, bicara lantang bukan untuk "karyenak  tyasing sasami" berkarya untuk kesejahteraan orang banyak, akan  tetapi, hanya untuk mengumbar ego pribadi bahkan celakanya, mereka  sudah berumur cukup tua, tetapi masih dalam taraf mengais kembali  harga diri yang telah hilang.   Akan tetapi, sahabatku, kalau jiwa telah dewasa, kepandaian tak akan  diumbar untuk digunakan melecehkan orang lain. Kepandaian menjadikan  sang pribadi menjadi eling dan waspada, sehingga setiap kata,  terlontar dengan santun dan disajikan dalam bahasa yang manis dan  enak didengar. - - -  Orang yang telah kehilangan "rasa", selalu akan merasa bisa tapi  tidak bisa merasa. Menjadi komentator lebih gampang daripada menjadi  regulator. Ulasan tajam, mencaci maki para menteri orde baru,  terkait dengan konglomerat hitam memang gampang. Tetapi ketika  berkuasa, sang pakar, yang telah memiliki segenap kuasa, hanya mampu  berwacana, tanpa hasil yang nyata. Benar-benar pakar alias tanpa  karya – tidak mengerjakan apa-apa. Watak seperti ini, ketika masuk  ke dunia kerja, kancah "perang bharatayudha" yang sesungguhnya,  hanya bisa berperan sebagai Sangkuni bukan Sang Ksatria pembela  rakyat.   Dengan bicara, Sangkuni menyebar fitnah. Dan dengan adu dombanya,  Sangkuni membuat bingung satu keluarga hingga terpecah dua, pandawa  dan kurawa. Sangkuni sang mulut besar, bisanya ngasi komentar, tapi  ketika perang berkobar, diapun langsung gemetar.    Dasar watak pengkhianat, disaat akhir bharatayudha, malah berkilah,  meninggalkan tuannya tergopoh-gopoh mencari cantolan baru. Tapi  semua orang sudah waspada, dengan mulut tajam dan akal liciknya.   Berkoar sok pintar, jadi pembantu raja, tak pernah berkarya. Dia tak  sadar kalau karakternya sudah "tamat",  walau berceloteh tak akan  ada yang mengangkat, sampai hari kiamat.   Sangkuni akhirnya mati dengan mulut robek dan dubur sowek. Itulah  Sangkuni yang sampai akhir hayatnya, selalu merasa bisa dan tak  pernah bisa merasa. Bapak Kwik Kian Gie, Bekas Menteri yang saya  hormati, apakah di masa tua, anda mau seperti Sangkuni, selalu  merasa bisa tetapi tidak bisa merasa ? Berhentilah mengatas namakan  rakyat, karena ketika anda menjabat, tak ada perubahan yang anda  perbuat, hanya dikenang sebagai pengkhianat. Diam ! Hentikan celoteh  busukmu ! Agar kau tidak menjadi Sangkuni, yang akhirnya "mati"  tanpa harga diri.  ---oOo--- Desa Bambang Lipura Ki Jero Martani