Ada ribuan cara untuk ngomong tentang Taoisme — FILSAFAT taois dan BUKAN agama taois. Tergantung si audiens yang diajak ngomong plus yang ngomong, subyek dan topiknya bisa dari ngomong tentang 'perbandingan filsafat', tentang 'metafisika taois' versus 'metafisika Barat', tentang 'filsafat bahasa plus linguistik' versus 'bahasa taois', dst sampai 'Heidegger/Nietzche & Taoisme', atau pun 'taoisme & seni'.

--- In apakabar@yahoogroups.com, "b@..." <bgongso@...> wrote:
>
> Aku nggak bingung sih, cuman bemused ... Bisa kebayang confucius
> ketemu lao-tze itu seperti pedagang klontong ketemu filsuf ....
> mungkin JD mau crita lebih panjang lao-tze itu kayak apa ? Aku yakin
> JD qualified untuk ini ... (kalo mau that is)
 Taoisme itu filsafat dan tidak pernah punya niatan jadi agama.
Otomatis, taoisme berkaitan sama 'cara memandang dan mencerna' realitas.

Taoisme adalah filsafat dan sebagaimana filsafat dari mana saja,
pertama-tama kali sekali Taoisme itu adalah hasil REAKSI-nya si Laozi
terhadap lingkungan sekitarnya. Lingkungannya si Laozi itu adalah
sejarah Cina juga, yaitu di masa-masa perang saudara di antara ratusan
kerajaan-kerajaan kecil. Di Cina jaman ini juga disebut jamannya
'ratusan isme filsafat' ... baik si Confusius maupun Laozi semuanya
ber-REAKSI terhadap situasi itu. Tujuannya yach jelas, yaitu agar
situasi itu segera berakhir dan orang bisa hidup damai lagi.

Situasi ini mirip dengan Indonesia yang lagi kacau. Di Indonesia
sekarang juga sedang ada ratusan isme bertebaran yang semuanya saling
jalan sendiri-sendiri MESKIPUN tujuannya yach sama saja, yaitu untuk
mengakhiri nasib buruknya si Indonesia sendiri (secara hankam sosbud)
Kayak di Indonesia juga, versi-versi isme sebagai REAKSI atas sikon
Indo saat ini pun macam-macam. Ada yang anarkis (amblasin saja), ada
yang primordial agamis model para bajingan Islam, ada yang nasionalis
pancasilais, ada yang rajin kampanye impor ideologi (si pro-demokrasi
sampai si Islamis-Taleban), dst.

Cina jamannya Laozi pun sama saja. Satu pertanyaan sentral jaman itu
ialah pertanyaan klasik 'manusia itu pada dasarnya baik atau jahat?'
Kelak pertanyaan yang sama pun menghantui filsuf Eropa setelah PD 2.

Terhadap pertanyaan itu, Confusius (mirip si John Locke) bilang bahwa
baik-jahatnya manusia itu 100% tergantung pendidikan alias 'nurture'.
Dengan keberangkatan yang begini, Confusius lantas menganjurkan agar
semua pegawai pemerintah itu HARUS berpendidikan dan jadi 'junzi'
semua. KALAU semua mandarin itu sudah jadi junzi (atau gentleman)
semua, maka BARU-lah situasi yang ada bisa diperbaiki.

Terus ada lagi si Mois (Mozi) yang (mirip si Freud) bilang manusia itu
100% pada dasarnya baik tapi kebaikan itu pelan-pelan dirusak seiring
dengan pertumbuhannya menjadi 'manusia'. Si Mozi ini sering dikutip
bilang bahwa 'buktinya manusia itu baik' kelihatan waktu dia 'melihat
bayi yang mau mati' ... maka secara otomatis setiap manusia pasti
bakal langsung merasa kasihan dan berusaha menolong. Well, buat jaman
kita sekarang yang sainsnya sudah maju kita tahu bahwa altruisme model
'bukti'-nya si Mozi itu pun juga eksis di kalangan monyet, dan murni
cuman merupakan mekanisme pertahanan yang eksis di alam. Eniwe, karena
Mozi ini pada dasarnya adalah etisis (filsuf tentang etika), maka dia
pun terus menyimpulkan bahwa HANYA KALAU si pemerintah sudah mulai
beretika lah MAKA situasi yang ada bisa membaik.

Terus ada lagi si Hanfei yang disebut si Legalis yang mirip dengan
Shariahnya si muslim atau pun hukum Mosaiknya si Yahudi. Hanfei bilang
bahwa manusia itu pada dasarnya 'jahat', hatinya itu egois, cuman mau
enaknya toq, dan selalu saja niatan merugikan orang lain. Karena
itulah, hukum harus ditegakan di atas semua manusia yang 'jahat' ini.
Eksistensi hukum harus disupremasikan di atas SEMUA golongan yang ada.

Lantas bagaimana jawabannya si Taois? Sangat menarik!

Tapi sebelum itu kita harus sadar bahwa SIFAT SPEKULATIFNYA semua
jawaban di atas terhadap pertanyaan sentral itu (manusia itu baik atau
jahat?). Mereka semua menggunakan referensi dari hasil abstraksi
belaka. Si Kongzi (Confusius) memulai abstraksi referensial isi
pikirannya dari glorifikasi atas si Zhou; sementara si Mozi dan si
Hanfei memulai abstraksi referensial isi pikirannya dengan cara yang
diskriminatif -- alias dari awal sudah secara selektif memilih hal-hal
yang bisa mendukung isi pikirannya dan secara selektif juga membuang
yang bertentangan. Mozi tentu saja BENAR waktu bilang kita manusia
langsung merasa kasihan melihat bayi mau mati; dan Hanfei tentu saja
juga BENAR waktu dia bilang manusia itu egois -- semua orang yang
sudah punya anak atau guru-guru TK pun pasti sudah sadar dan sering
kaget sendiri melihat bahwa anak kecil pun bisa 'soooo evil'!

So, referensi Taois dalam menformulasikan isi pikirannya TIDAK
melihatnya dari hasil abstraksi selektif atas manusia itu sendiri;
tapi Taois melihat serta menggunakan referensi dari langsung alam.
Analogi yang dipakai oleh si Taois ini langsung datang dari alam
sendiri. Misalnya, Taois bakal bertanya begini: "waktu anjing
ngejar-ngejar si kucing yang ketakutan dan terus begitu si kucing
mampus si anjing itu pun cuman mempermainkan si mayat kucing itu ...
apa kita BISA bilang bahwa si anjing itu jahat dan si kucing itu
baik?" (saya nggak pernah lihat anjing MAKAN kucing -- anda pernah?);
atau lagi, yang begini "waktu kita melihat si kucing ngejar-ngejar
tikus untuk dibunuh dan mayatnya si tikus dibuat mainan oleh si kucing
(saya nggak pernah lihat kucing MAKAN tikus -- anda pernah?), apa kita
bisa bilang si kucing itu jahat"?

Nonsense! Karena, jawabannya si Taois, si kucing si anjing dan si
tikus itu semuanya hanya MENJALANI tao atau jalan hidupnya
sendiri-sendiri. Mereka itu semua hanyalah AKTOR dan sama sekali
bukanlah si DIREKTOR. Direktornya sendiri yach adalah si alam. Alamlah
yang MENENTUKAN perilakunya si AKTOR! Semua isi filsafat taois ini
disteno jadi 'tianxia' -- maksudnya, segala sesuatu yang ada di bawah
langit ini punya tao-nya sendiri-sendiri. Tao itu bukannya bagus atau
jelek, tapi alamiah. Dan satu-satunya 'dosa' (istilah tidak eksis di
semua pikiran Timur) buat Taois adalah waktu orang TIDAK mengikuti
taoinya. 'Dosa' justru adalah waktu si kucing tidak kejam dan brutal
terhadap si tikus; atau pun waktu si anjing tidak kejam dan brutal
terhadap si kucing.

Di jaman sekarang kita yang sudah tahu tentang rantai makanan atau pun
sistem predatorial yach jelas jadi kagum sama si Taois! Atau juga
kayak di film Hero yang sangat Taois itu, lihat (1) si Jet Lee
membatalkan niat untuk balas dendam setelah dikasih tahu 'tianxia';
(2) setelah membatalkan pun si Jet Lee harus tetap dihukum mati dan
dihujani panah; (3) si Qin-shi-Wang-nya sendiri 'nangis' waktu harus
menghukum mati si Jet Lee, yang kemudian dikubur sebagai 'pahlawan';
dan (4) dari dialog Taoistik di antara si Jet Lee dengan si
Qin-shi-wang itu kelihatan bahwa si Qin-shi-wang itu TAHU PERSIS
tao-nya itu apa.

Film itu terlalu taois dan terlalu dalam buat pikirannya si Semit atau
pun si bule yang rada-rada sederhana. Satu-satunya keterangan yang
bisa menjelaskan semua 'irrasionalitas' itu memang yach hanya konsep
'tianxia' itu -- alias semua orang PUNYA dan HARUS menjalani taonya
sendiri-sendiri.

TAO-nya si Qin-shi-wang adalah untuk mempersatukan Cina dengan segala
cara -- termasuk, tragisnya, membunuh bapaknya si Jet Lee sendiri
(dalam cerita film itu). Tao-nya si Jet Lee sebagai calon pembunuh
raja yach harus mati dihukum -- meskipun si Qin-shi-wangnya sendiri
tahu itu rada unfair, maka dia pun menangis. Tapi apa tao-nya si Jet
Lee sendiri? Ini menarik karena tao-nya si Jet Lee yang mau balas
dendam itu sebetulnya masuk ke konsep 'hao' (filial piety)-nya si
Confusius. Tapi, paling tidak di film itu, si Jet Leenya sendiri boleh
dibilang menganggap 'filial piety'-nya itu TIDAK ALAMIAH dan tidak
melayani kebutuhan yang lebih besar dari 'tianxia' yang HARUS dicapai
-- yaitu 'kesatuan Cina'. Bukankah tujuan Confusius pun adalah untuk
reunifikasi Cina lagi sebagaimana di zamannya Zhou? Bukankah sudah
jelas bahwa hanya si Qin-shi-wang lah yang bisa menjadikan reunifikasi
itu jadi kenyataan?

Ini sangat relevan juga buat jaman kita sekarang! Apa Bush itu 'jahat
dan bajingan'? Sama sekali tidak (paling nggak saya tahu persis bahwa
kalau saya ini Bush, Mekkah pusat berhalanya Islam itu sudah 'tak
nuklir dari tahun 2002 lalu)! Bush yach cuman menjalani tao-nya saja,
karena itulah dia sebagai bossnya negara yang diserang oleh para
bajingan muslim pun yach harus membalas. Apa Bin Laden itu 'jahat' ...
sekali lagi yach juga TIDAK! Bin Laden itu sudah 'subscribe' ke Islam
yang memang mengajarkan premanisme, sekaligus dia itu juga Arab yang
secara rasional punya alasan untuk menghabisi si Amerika ... maka
tindakan si Bin Laden pun yach nggak bisa disalahkan.

Saudara ... Taoisme nggak peduli SIFAT tindakanmu itu sendiri baik
buruk jahat mulia. SIFAT tindakan itu sendiri ditentukan oleh alam dan
kita pun yach cuman aktor. Karena itulah, yang brengsek di dalam
Taoisme JUSTRU adalah mereka yang pake segala macam rasio MENGHINDAR
dari taonya. Pandangan ini jadi benih anti-intelektualisme di dalam
Taoisme karena nyata mereka para intelektual itu seringkali memang
cuman para penakut toq yang tidak berani MENJALANI taonya.

So, buat Taois, yang SALAH itu justru model-model si Yenny si JIL atau
pun si Darwin Bahar itu. Kayak si JIL itu, sudah TAHU dan bahkan bikin
statemen bahwa Islam itu problem, tapi masih saja ngotot ngaku Islam
dan nggak mau ikut-ikutan menghabisi si Islam. Atau kayak si Yenny dan
si Darwin Bahar yang pake segala macam model omongan mau
menutup-nutupi kebengisan sifatnya Islam -- buat Taois mereka itu yach
persis kayak kucing mau coba-coba jadi monyet.

Dalam sejarah Cina sendiri, filsafat taoisme merasuki pemerintahan
segera setelah Qin rusak gara-gara menerapkan legalisme. Sebagaimana
si goblog Arab dengan Shariahnya, si Qin yang mengadopsi legalisme itu
pun kejamnya bukan main! Salah sedikit orang dihukum! Tapi ANEHNYA --
sebagaimana di semua negara mayoritas Islam juga -- semakin banyak
orang dihukum, semakin banyak pula orang yang jadi bajingan dan
semakin bobrok juga negaranya!

Alias legalisme di Cina, shariahisme Islam maupun hukum-hukum Mosaik
goblognya si Yahudi ... itu sudah pasti gagal!

Nah, di Cina tahun 400-an setelah legalisme nyata-nyata gagal mereka
pun lantas menerapkan Taoisme. Hasilnya menarik ... dan persis kayak
prediksinya Laozi: 'waktu orang betul-betul mengenal hukum, bajingan
pun bertebaran'.

Buat konteks Indonesia, si SBY ini kelihatannya juga menerapkan Taois.
Pilihan kebijakannya itu kayaknya adalah 'lakukan saja sesukamu'!
Hasilnya pun menarik ... di permukaan memang bajingan Islam pun
bengisnya kelihatan di mana-mana; tapi secara bersamaan REAKSI melawan
itupun eksis dan bertebaran juga sehinga si Islamis pun jadi sangat
insecure. Budaya Indonesia pun bukan malah jadi munafik kayak di jaman
Suharto, tapi malah jadi berani terbuka!

Iya khan!


JD

Klik:
Tentang Mozi http://www.angelfire.com/md2/timewarp/mozi.html
Tentang Hanfei http://www.as.miami.edu/phi/bio/Buddha/hanfei.htm