Dalam debat2 soal SI, komentar prof Azumardi (AA) ttg khalifah Islam dan menyambung komentarku sebelum ini, ada banyak faktor. Ada faktor yg berkaitan dengan Islam itu sendiri, dan ada yg dari luar, dan interaksi antar keduanya.Dalam debat2 soal SI, komentar prof Azumardi (AA) ttg khalifah Islam dan menyambung komentarku sebelum ini, ada banyak faktor. Ada faktor yg berkaitan dengan Islam itu sendiri, dan ada yg dari luar, dan interaksi antar keduanya.

Pertama, terhentinya pemikiran2 nalar dalam Islam dan matinya progresi ilmu. Ini sudah terjadi sejak debat al-ghazzali di Bagdhad, sudah lewat part of history

.Kedua, terhentinya pemikiran kekuasaan publik akibat kembalinya sistem kekuasaan Islam ke kerajaan purba, sehingga kita tidak bisa lagi membicarakan sistem majlis brotherhood egalitarian yg jelas2 diajukan oleh Muhammad dulu. Note disini, idea majlis islami ini jelas belum matang untuk aplikasi pemerintahan modern, sama halnya dengan ide2 kedaulatan rakyat revolusi perancis juga diawalnya tidak matang. Perlu banyak adaptasi dan klarifikasi untuk bisa menjadi sistem yg siap pakai. Tetapi juga jelas bahwa ada sumbangan yg bisa dilakukan oleh sistem majlis Islami ini (hal yg sama dari sistem hirarkis konfusionis bisa dibentuk menjadi pemerintahan bersih spt di Singapore dan sekarang diusahakan di Cina setelah ber-abad2 hanya mendukung rejim feudal). Aku merasa – spt statement AA – bahwa sistem majlis islami bisa saja memberi sumbangan besar pada sistem pemerintahan masa depan yg inheren didalamnya ada sistem etika individu. Bagaimana bentuknya aku tidak tahu kini, yg jelas sama sekali berbalikan dari sistem2 yg ada spt talebanisme.

Ketiga, perkembangan sejarah modern kaum muslim sekarang telah menjadi identik dengan 'kaum tertindas'. Ini sesungguhnya sekedar proses sejarah, sejak ambruknya dinasti ottoman (yg memang sepatutnya ambruk, karena basisnya yg feudal sangat lemah). Kaum muslim saat ini merasa dirinya kaum tertindas, spt kaum marxis di abad 19 dan awal 20. Rasa ketertindasan yg bisa dikatakan 'struktural' itu menimbulkan banyak sekali reaksi letupan2 emosi – sama spt rasa ketertindasan dimanapun. Perasaan ini relatif terkubur dibawah permukaan pada masa2 perang dingin, dan meledak kini post 911 dan perang teror US. Saat ini adalah masa2 panas mudah meledak untuk ajaran Islam. Saat2 emosional – mirip2 spt gerakan komunisme di awal 60an. Masa2 tidak rasional dan masa2 tidak berpikir. Ini berakibat jelek pada dua sisi, ya muslim nya ya non-muslim nya.

Reaksi2 spt tulisan2 VH (di thread2 lain) yg membela SI atas basis 'bela diri' itu adalah wajar dalam masa2 spt sekarang, sama spt dulu kader PKI selalu mengeluaran insinuasi ancaman pada lawan2 politiknya: nanti jika kita menang …..

Secara keseluruhan, malah bisa dikatakan VH lebih restraining diri dibanding yg lain. Walau juga jelas semangat machismo nya sangat kuat. Setidaknya dia jujur, menuliskan apa yg dia pikir, dalam konteks yg dia tahu. Di banyak situasi, semangat machismo 'panas' itu memang muncul spt isi tulisannya: Tunggu saja saat nya …. Awal 60 an.

– Apa artinya ini semua? Melihat situasi manusia harus dengan kacamata kemanusiaan. Artinya, pemahaman bahwa memang wajar manusia mempunyai watak emosional, rasio dan irrasionalitas, semangat balas dendam, short term dll selain juga empati, long term, penolakan pada kekerasan dll. Kita tidak bisa – kenyataannya tidak bisa – mengasumsikan manusia full rational lepas dari konteks kesehariannya.

Lalu, saat ini bangunan SI tidak siap sama sekali tetapi tidak ada alternatif jelas. Jutaan anak muda yg tertindas ber-teriak2 (tampak pada kasus kartun denmark kemarin) membenci rasa ketertindasan itu. Tetapi mereka tidak mempunyai kerangka pemikiran yg memadai. 'Terpaksa' banyak yg mengambil apa yg ada – syariah islamiyah. Sama spt kaum marxist dulu, apapun yg terjadi jangan kapitalisme, bentuk sosialisme yg spt apa itu pertanyaan sekunder.

Ini reaksi wajar. Bukan berarti benar, tetapi sangat bisa diduga. Pertanyaan ttg kewajaran SI dianggap menjadi pernyataan serangan terhadap paham keislaman. Sikat dulu. Dalam term spt ini, maka tulisan2 VH bisa dikatakan 'ringan'. Dibanding pengawuran2 dari adisatya misalnya (si mbahmu-sempal yg sangat tendensius 😛 ).

Ingat bahwa ini bukan urusan benar atau tidak. Beberapa kantong2 masyarakat yg 'stewing on their own juices' – artinya hanya diskusi diantara mereka sendiri – yg akhirnya membuat mereka jadi super-radikal; ini sudah masuk teritori perang.

Apa yg seharusnya terjadi? Komentar AA itu suatu start. Secara ideal seharusnya mulai ada pemikiran sintesa yg menjawab pertanyaan2 hakiki ttg islam modern. Yang di diskusi kan dan dijawab oleh mereka2 yg berkompeten, tidak emosional, dan berniat baik. Semua kultur mempunyai banyak sisi. Kultur yg pernah 'menang' artinya pernah menjadikan suatu bangsa menjadi besar dalam waktu lama, pasti mempunyai banyak sisi positif. Selain tentu saja sisi2 negatif. Masalahnya adalah sisi mana yg diberi emphasis.

Sebagai ilustrasi adalah menyambung komentarku ttg confusius Cina. Sistem tata negara confusius adalah hirarkis rigid mandarinisme yg menekankan simbol dan ritual2 lebih daripada kenyataan, dengan ajaran yg berbasis pada arogansi suatu idealisme ttg 'penguasa yg bermoral'. Sistem ini membantu membuat kekaisaran cina menjadi mandarinisme (birokrasi kejam) selama ratusan tahun. Jika mau menekankan sisi negatif sistem ini sangat banyak bisa dilakukan. Tetapi tokh di jaman modern ini suatu sintesa modern bisa diciptakan: pemerintahan meritokrasi (dan semi xenophobic) Singapura! Malah sekarang sedang di implementasi dalam skala sangat besar di Cina. Jika sisi positif2 nya (meritokrasi, moral) yg menang, jelas confusius akan menyumbang sangat besar pada jaman modern.

Dengan cara pikir yg sama, mengapa Islam tidak bisa? Saat ini bahkan model Singapore untuk Islam sudah ada: Dubai, yang port-authority (perusahaan pengurus pelabuhan)nya baru saja mencaplok P&O dan sekarang menjadi perusahaan terbesar ketiga setelah Hutchison Li-kashing Hongkong dan PSA Temasek Singapore. Konsorsium Dubai ini yg sekarang sedang di tengah2 gegeran karena akan mengontrol 6 pelabuhan di US (Dubai masuk, Dubya mumets!)

Dubai adalah eksperimen Singaporean confusius untuk Islam. Mungkin pemikir2 yg bisa merumuskan sintesa modern Islam belum muncul — mungkin juga tidak bakalan segera muncul – menunggu badai emosional juvenile muslim ini lewat (10 tahunan lagi, dengan asumsi al-qaeda tidak sukses, jika bajingan2 itu sukses ya jauh lebih lama lagi).

Itulah sisi positif melihat badai ini — termasuk didalamnya taufan SI ngindo ini. Ngindo ada di tengah2 badai Islam ini, akan menjadi salah satu negara yg paling hancur jika things go wrong, tetapi sebaliknya mungkin bisa jadi negara yg memetik keuntungan terbesar jika things go right.

In the meantime, kurasa tidak ada jeleknya sama sekali airing debates spt yg sekarang di milis2 ini. Setidaknya airing the debates membuka katup diskusi agar tidak tertutup menjadi diskusi antar radikal yg saling memanaskan emosi tanpa masukan baru apa2.

Dan ingat juga, sama spt halnya paham komunisme, hal yg paling besar mengurangi radikalisme adalah kemakmuran rakyat banyak. Itu sebabnya short term Malaysia mungkin akan lebih beruntung daripada Indonesia. Fanatisme besar2an muncul jika perut lapar dan mata merah.

Aku really suggest kalian2 yg tidak benar2 dalam kategori 'perut lapar' tidak perlu pura2 lapar untuk justifikasi ngamuk. Jujur saja. Tulis apa yg benar2 kalian pikir tanpa retorika sloganistis yg keterlaluan. Bagi kalian2 yg benar2 kelaparan, dengan sedih harus dinyatakan bahwa tidak banyak yg bisa kulakukan untuk membantu kalian — mungkin nasehat bagaimana jika mengurangi akses ke milis2 debat dan lebih ke job-hunting? biarkan hal2 makro itu lewat. Sekedar nasehat saja. Secara prinsip semua orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri2.

b@b
5/03/06