Topik India – dan Cina – rising ini adalah platform yg sangat bagus untuk menganalisa perkembangan ekonomi global, dan patokan apa yg semestinya dilakukan Indonesia (dan negara2 lain sejenis). Thanks to RM, memang jutawan steel itu adalah Mittal, yg belum lama ini jadi cover story di Time, ditulis disana bahwa dia dulu di Indonesia, ternyata dagang besi tua di Surabaya? Wah bagus juga. Tentu saja role Indonesia disitu hanyalah sebagai 'kesed wong sugih' — he he ..Lalu komentar Poltak / PH ttg Lenovo dan IBM, tentu saja deal2 M&A (merger & akuisisi) itu ada detail2 nya, berapa harga dibayar dan caranya bagaimana. Jelas pula bahwa deal semacam itu harus fair dalam harga, bukan hanya dalam bentuk chip cash / uang, tetapi juga future profits, future possibilities dan intangibles. Bahwa deal IBM-lenovo itu juga berkaitan dengan saham lenovo sama sekali tidak mengurangi nilainya (bagi Lenovo, maupun IBM). Itu hanya menunjukkan bahwa dengan caranya Cina berhasil bermain di liga utama.

Deal antara Pixar – Disney yg baru diteken, Disney mengambil alih Pixar, tetapi juga mengakibatkan Jobs si pemilik Pixar dan Apple menjadi biggest shareholder of Disney (dan seat di board) juga mirip2. Apakah Pixar/Jobs 'kalah' ? tentu nya tidak. Sebaliknya apakah Disney 'rugi'? kurasa sama sekali tidak.

Mittal yg mencoba bid ke konsorsium baja eropa Arcelor membuat geger karena banyak 'noblemen' Eropa merasa risi – bagaimana industri baja mereka, yg sudah di gabung2 beberapa negara — mau dicaplok 'bloody asian' (he he.. kata bloody tidak benar2 diucapkan, tetapi sangat terasa ..). In a similar way juga gegeran Dubai port authority yg mengambil alih P&O milik inggris dan berakibat mereka mengontrol 7 major US ports, menciptakan geger di Amrik: "pelabuhan2 kita dikontrol arabs!"

Jadi, masih ada banyak perasaan rasis against 'bloody asians' – yg kurasa ya normal2 saja, semua bangsa mempunyai kecenderungan spt itu. Malah tidak perlu mem-besar2kannya.

Yang penting kemampuan. Kemampuan untuk bermain di 'liga utama' bukan di liga junior terus2an. Perusahaan2 Jepang dulu yg menerobos dominasi eropa / US dengan kontrol penuh pada industri mobil, electronic, electrical yg melaju terus. Jepang kemudian transformasi menjadi masyarakat dunia kesatu. Disusul Korsel, Taiwan. Ada susul2an urut sepur waktu itu, dengan Indonesia ikut2an cawe2 …. macan2 kecil .. yg nggembos semua. Sekarang dua raksasa Asia bangkit, India dan Cina, dengan game plan yg totally berbeda – bahkan diametral.

Juga sangat berbeda dari game-plan Jepang (dan Korsel) yg rata2 masih berbasis nasionalisme kesukuan sempit. Game-plan Cina sangat terbuka, investasi swast yg membesarkan Cina bukan chinese. CIna adalah kombinasi state entrepreneurship dan foreign investments. Suate game yg sangat sulit indeed. Bahkan kata2 "state entrepreneurship" itupun mungkin dikatakan oxymoron. Tetapi they pull it off! Walaupun middle government masih korup dan minta dilayani seperti 'layaknya' third world Asians, Cina bisa pull it off.

That's amazing. Sohartons nggak ada nempilnya dibanding pejabat2 Cina ini. Tentu saja, jangan bersikap idealistik mimpi, bahwa 'sistem Cina ini ideal' — tetapi jelas sistem Cina ini jauh lebih baik dari sistem di negara2 (ketiga) lain.

Lalu India, negara raksasa juga – yg mempunyai background yg sangat2 berbeda dari Cina, dan juga berhasil – dengan caranya sendiri. Melalui bottom-up processes. Melalui sheer intellects, mathematical programming prowess. Sangat beda dari Cina. RM menyumbangkan informasi bahwa orang2 terkaya di India banyak yg muslim – bukan muslim sunni spt di Arabia, tetapi muslim syiah yg sangat praktikal dan ahli dagang! Ini jelas2 another face of Islam lagi. Tidak perlu Islam itu identik dengan suku2 beduin sunni atau pashto. Tidak ada dorongan sama sekali untuk membentuk diri menjadi beduin dan akan lebih maju. Ini juga message yg sangat kuat. Pemenang nobel malah ahmadiyah.

Dan revolusi di India ini juga terjadi 'despite the govenments actions' artinya pejabat2 nya 'standard asia' maling korup minta dilayani — sama spt di Cina (dan ngindo of course!). Tetapi mereka melahirkan bukan hanya Tata dan Mittal yg di industri 'traditional' tetapi juga Wipro yg hi-tech. Juga farmasi. Industri2 yg kreatif inovatif. Bukan sekedar rutin repertitif (seperti banyak di Cina).

Kedua negara ini – India dan Cina – secara sangat mengejutkan bisa melejit against all odds penduduk yg milyardan miskin2 pejabat korup feudal dan bentrokan2 internal. Indonesia kehilangan semua 'alasan untuk gagal' jika dibandingkan mereka — alasan2 yg dulu laku dipakai waktu Jepang sukses –> mereka homogen seeeh, mereka kecil2 seeh.

Dan yg truly amazing, kedua negara ini sukses melalui jalur yg sama sekali diametral. Yang satu berbasis top-down (Cina) dengan sistem rigid dan 'pemaksaan kebaikan' spt cita2 orang2 bijak Cina klasik dari Huangti sampai Confucius: rakyat bodoh2, harus dibimbing – kalau perlu dipaksa, untuk melakukan hal2 yg baik bagi mereka dan tidak mereka ketahui. Semangat Cina utara. Ini yg membuatku selalu ingat – dan amazed – message di film jetli Hero itu interpretasi bebas dari sejarah Huangti — zhimou benar2 jiancuk! (kalau dia sampai di hire osama bener2 gahwats!) he he …

Yang satunya melalui narrow hard road bener2! Entrepreneurship individu! Ini mirip semangat orang cina selatan, yaitu giat ngotots menekuni detail2 business dan ngotot menjadi besar dari ngumpulin upils! Seperti sejarah Mittal ex-suroboyo itu … dan sejarah industrialis2 India lainnya. Tetapi yg dahsyat adalah kombinasi semangat ngupils ini dengan strength mereka sebagai bangsa yg memiliki banyak pemikir eksak, dan dididik secara british. Terjun ke dunia services, programming, farmasi. Dan membangun personal wealth yg tidak kurang2. Cerita2 RM yg 'cinta India' itu selalu menarik. Ini adalah bangsa yg memiliki ratusan juta orang miskin, tetapi mulai mempunyai beberapa ratus juta kelas menengah. Pejabat2 sama saja tetap korup, partai2 agama (BJP – hindu fundies) tetap usaha ala PKS … Tetapi ditengah chaos ini, bangkit kelas menengah yg semakin powerful. Progres India ini uga sangat amazing – kalau tidak dikatakan malah lebih improbable lagi daripada Cina. Kunci nya adalah bangkitnya kelas menengah — jika jumlah kelas menengah ini meningkat terus (spt yg terjadi sekarang) maka India akan masuk 'point of no return' spt yg dialami negara2 Eropa beberapa dekade yl. Jumlah manusia2 terpelajar yg independen menjadi dominan, dan negara berkedaulatan rakyat tidak bisa ditolak lagi. Semua aturan negara bukan lagi untuk membesarkan suatu keluarga atau nama purba atau ideologi sebarangan — tetapi harus untuk kepentingan rakyat banyak, kepentingan kaum menengah.

Tidak mudah, sama sekali tidak mudah berangkat melalui jalur ini – dengan beban manusia kere ratusan juta orang spt India. Yang sangat amazing adalah tampaknya mereka bisa!

– Aku tidak tahu mana yg lebih menakjubkan dari India dan Cina ini. Mana yg lebih berhasil. Atau even mana yg akan bertahan. Ya, perjuangan spt India dan Cina ini sangat mudah dikobok oleh setan2 ngawur yg tidak mau atau tidak bisa berpikir. Lihat saja pemboman Al-Askari – mesjid suci kaum Syiah di Irak (sangat suci karena merupakan kuburan keluarga Imam Mahdi) — dilakukan oleh segelintir orang gila zarkawi osama — sangat berhasil mengacaukan Irak, 'sukses'. Hal yg sama, pemboman di tempat2 suci Hindu di India, atau pemboman sebarang saja di pusat kekuasaan Cina — akan menghasilkan reaksi balik dan reaksi terhadap reaksi itu – yg sangat destruktif. Jelas kaum teroris sangat ngiler bisa melakukan "hal2 hebat" spt itu — sama spt pemburu tradisional ngiler nembak macan hanya biar beken bisa mbacot: siapa yg nembak macan tuh…. mbahmu ini!

Jadi, kedua negara itu harus luarbiasa hati2. India apalagi. Para pimpinan puncak negara2 ini merupakan orang2 yg tercerahkan – mereka harus bekerja menggunakan machinery birokrasi pemerintahan kelas bawah yg tetap saja korup feudal. Tetapi harus tetap jalan. India memiliki pemimpin2 yg arif, Cina memiliki pemimpin2 yg managerially very strong. Mereka juga harus mempunyai usus yg panjang, sabar dan tidak emosian spt habib-brisig.

Jika mereka bisa mempertahankan momentum ini selama 10 – 20 tahun lagi, jelas negara2 mereka akan melejit masuk ke dunia kesatu spt Jepang 20 tahun yl. Kita tidak tahu apakah itu akan terjadi.

Lebih tidak tahu lagi ttg Indonesia. Itu semua dimulai dengan adanya orang2 yg berpikir kedepan, orang2 yg lalu memiliki kesempatan untuk menerapkannya, dan ngotot perseverance. Mulai dari orang2 yg memikirkannya.

Adakah orang2 yg memikirkan hal2 ini di Indonesia? (Faisal basri / Christianto Wibisono comes to mind – washwatch nya tutup ..) Apakah orang2 itu memiliki kesempatan untuk menerapkannya? (kwikkiangie comes to mind — blong ketakutan sendiri). Apakah ada orang ngotot (gusdur & amien rais comes to mind – sayang mereka banyakan ngotot kepentingan sendiri saja, selain knowledge ttg ekonomi yg kurang! it is the economy, stupids!)

Pada akhirnya, memang dalam game besar kehidupan ada pemenang dan yg kalah. Tidak semua bisa bermain sebagai pemenang. Setelah eropa, amrika, Jepang, Korsel Taiwan, sekarang Cina dan India. Ngantri dibelakang adalah negara2 Asia lainnya Thailand, vietnam, lalu negara2 arab progresif mungkin, sebagian afrika ….. Majoritas negara didunia akan tetap berada di deretan yg gagal (coba cek di deretan huruf "I" …)

Walaupun gagal, melihat bagaimana juara2 itu menang adalah langkah pertama untuk menjadi juara di next round. Jika anda ingin tahu main golf yg bagus pelajarilah drive Tiger Woods, untuk tenis lihat groundstroke Federer …. sampai reinkarnasi berikutnya (kalau ada!) pun mungkin anda tidak bakalan punya move2 spt itu … well, tetapi saja amazing moves are amazing moves …

b@b
7/03/06