Pembaca yang budiman,
Nenek moyang kita orang pelaut. Begitu judul sebuah lagu. Karena HANYA nenek moyang kita saja yang bangsa pelaut, maka yang datang mengambil ikan ke perairan Indonesia adalah orang asing sedang nelayan Indonesia banyak merugi karena mahalnya BBM katanya.

Ribuan pulau terluar pun belum kita beri nama. Bunaken kawasan wisata bahari di lepas pantai Manado itu saja bukan ditemukan oleh bangsa sendiri, tapi oleh orang Amerika. Pagi ini editorial Media Indonesia melontarkan bomb shell terheran-heran mengapa pulau Mengkudu di NTT dibeli orang Australia dan dua pulau lainnya dibeli oleh orang Malaysia dan New Zealand. Kakek kita mungkin masih ingat, bahwa pada jaman penjajahan Belanda, KPM secara teratur melayani pelayaran antara Jawa dengan pulau-pulau lain dengan kapal-kapal yang terjaga kebersihannya, sekarang setelah KPM diambil oleh Pelni keadaannya bagaimana?

Secara nasional bangsa ini memang bangsa memble yang tidak mampu memisahkan antara mitos dan realita seperti dibahas oleh Poltak Hotradero (Bung PH). Horas, bah. Mungkin kita kuwalat orang Belanda yang kita caci maki habis-habisan. Masak sih, Cornelis de Houtman baru menjejakkan kaki di Banten saja sudah kita katakan sejak itu (1603) mulai penjajahan Belanda selama 350 tahun. Sejarah kita lupa mengakui bahwa sesungguhnya Belandalah yang mempersatukan Indonesia dibawah Hindia Belanda.

Indonesia ini kaya raya, itu adalah fakta. Tapi banyak kesempatan emas yang kita sia-siakan. Banyak missed opportunities. Missed opportunity politik: Putuskan (decouple) kerjasama dengan fasis Jepang (waktu itu) begitu para pendiri republik mendengar Jepang kalah. Tapi tidak. Kok sempat sempatnya Sukarno-Hatta-Yamin sowan dulu menghadap panglima Jepang di Saigon. Dan naskah asli Proklamasi kok pakai tahun Jepang. Ya jelas saja Sekutu menganggap republik ini republik boneka fasis Jepang. Karena itu pengakuan kedaulatan merupakan perjuangan diplomasi yang alot. Kalau saja nasehat Syahrir didengar oleh Bung Besar. Kalau saja pengakuan kedaulatan bisa terjadi pada bulan Agustus tahun 1945, tidak perlu terjadi pertempuran heroik di Surabaya November 1945. Belanda tidak akan berani berbuat neko-neko, karena mereka membutuhkan Marshal Plan. Tidak perlu pula terjadi Peristiwa Madiun. Karena kita menyia-nyiakan peluang politik, akibat selanjutnya adalah kita menyia-nyiakan peluang ekonomi.

Missed opportunity ekonomi: kita sia-siakan kesempatan emas membangun setelah berakhirnya PD II sampai tahun 1950an. Mengapa begitu? Pada waktu itu Dunia Ketiga banyak yang belum merdeka, terutama negara-negara Afrika. Jadi kita dapat dianak-emaskan dunia. Asal mau membangun, uang tidak masalah dan bunganya pun teramat kecil (sekitar 1-2%). Kalau saja pada kurun waktu itu terjadi pembangunan infrastruktur besar-besaran. Jangan kuwatir korupsi, karena waktu itu mental orang Indonesia masih baik.

Missed opportunity ekonomi: kita sia-siakan infrastruktur peninggalan Belanda kendatipun tidak seberapa. Jalur pantura (pantai utara Jawa) yang tak lain adalah peninggalan Daendels, kok tidak kita permodern dan perlebar, padahal waktu itu masalah terlalu besar dengan pembebasan tanah. Jalur keretaapi Tanjung Enim tidak kita apa-apakan dan mati. Tanah sekitar jalur KA di Jawa adalah milik PT KIA (dulu NIS), jadi tidak masalah kalau kita tambah single track menjadi double track. Sampai sekarang kok relnya masih itu-itu juga, mengapa tidak kita perlebar sehingga sesuai untuk kecepatan tinggi seperti yang di India. Trem listrik di Surabaya dan Jakarta bukannya kita tambah, tapi malah dihapuskan.

Missed opportunity ekonomi: perkebunan peninggalan Belanda bukannya kita kembangkan, malah kita hancurkan. Hindia Belanda adalah produsen gula terbesar didunia, tapi begitu perkebunan tebu kita ambil alih, stasiun percobaan tidak ada yang menangani, management hancur-hancuran dan mesin pabrik gula tidak diganti. Akibatnya seperti sekarang. Mengapa orang Amerika menyebut kopi itu Java, ya karena kopi dari Jawa dulu terkenal. Sekarang orang Amerika minum Java dari Brazil atau Afrika. Sekarang candy coklat Javanaise di Israel biji coklatnya didatangkan dari Afrika.

Missed opportunity ekonomi: perminyakan dan perkayuan etc ceritanya bisa panjang. Sudah, ah.

Salam, RM