Ada penafsiran yang rumit ialah pembentukan berbagai macam UU yang hasilnya tak pernah jelas. Apakah sebabnya ? Inilah yang perlu ditelaah dan dicermati. Dulu setelah Indonesia merdeka, ada beberapa perguruan tinggi yang mutunya bagus dan bisa diketengahkan didunia, misalnya Universitas Airlangga di Surabaya yang lulusan kedokterannya banyak bertebaran dinegeri Belanda dan manca negara dan menjadi dokter spesialis cukup handai. Ada beberapa dokter tua yang baru saya ditemui di Jakarta, Belanda , Jerman dan Australia , umur sekitar 60 – 75  tahun dan salah satunyan  ialah mantan dokter di National University of Singapore, ia alumni Universitas Airlangga  dan meneruskan spesialisasinya di Amerika dan kemudian bekerja di Singapore. Dua orang anaknya juga bekerja sebagai Cardioloog di National University of Singapore dengan pendidikan di luar negeri karena kesulitan masuk fakultas kedokteran di Indonesia.

Dinegeri Belanda kita bisa jumpai banyak sekali alumni dari Surabaya maupun dari Universitas Indonesia.

Beberapa alumni ITB seperti Aboek atau Peter Budiardjo alumni ITB angkatan
1961 ( tamat SMA Kristen Jakarta 1961 ), menyelesaikan Ph.D di Amerika dan
sekarang masih aktip sebagai salah satu Director bidang research. Prof Mak
yang menetap di Illinois adalah salah seorang yang berhasil di Chicago
adalah alumni ITB , Ir Usulluddin Ph.D adalah dosen ITB ditahun
1963-an  dan imigrasi ke Amerika karena kekecewaan sistim pengiriman dosen
ITB yang kurang berkenan , pada waktu ia akan menyelesaikan Ph.D-nya malah
dipanggil pulang ke Indonesia. Ia menetap di Amerika dan menemukan beberapa
patent yang menjadikannya hidup cukup bagus disana. Jadi banyak sekali
alumni dari Indonesia yang hebat-hebat disana dan sekarang berusia antara
60 tahun – 75 tahun , dokter-dokter, sarjana-sarjana teknik : kesemuanya
meneruskan studi kejenjang yang lebih tinggi disana, kebanyakan ialah
mereka yang tak puas dengan sistim di Indonesia . Ini membuktikan bahwa era
itu pendidikan di Indonesia cukup bagus dalam tingkat standard pada masa
itu . Saat ini banyak keluhan mengenai mutu dan peringkat Indonesia
yang  merosot jauh dibandingkan mutu pada tahun 1960 – 1970 – 1980, yang
makin merosot. Ditahun 1960-an sampai 1970-an, universitas di Malaysia
mengirim mahasiswa ke Indonesia untuk belajar diberbagai universitas dan
kemudian banyak dosen dari Indonesia ditarik bekerja di Malaysia, saat ini
peringkat mutu universitas Malaysia meninggalkan mutu Indonesia.
Bahwasanya  mutu pendidikan menengah makin merosot bukan rahasia lagi. Yang
perlu dikaji ialah adanya UU Sisdiknas yang dianggap makin merosotkan mutu
pendidikan, makin merumitkan mutu pendidikan dan pelajaran agama makin
hebat dan ada dugaan digunakan untuk keperluan politik, ialah kearah negara
agama . Itulah celakanya, kenapa UU Sisdiknas bukannya meningkatkan mutu
pendidikan ? Kenapa malah merosotkan peringkat mutu universitas maupun
pendidikan menengah , bahkan pendidikan dasar di Indonesia ?

Kalau kita cermati UU yang mengatur pendirian rumah ibadah, kenapa justru
meningkatkan pertentangan beragama ? Agama adalah sesuatu yang sakral dan
dengan dikeluarkannya   SKB 2 menteri malah menjadikan rasa tak amannya
penganut agama minoritas, malah banyak tindakan anarki penutupan rumah
beribadah, malah banyak kekacauan oleh tindakan tak ber-Tuhan oleh kelompok
fanatik. Apakah UU atau aturan digunakan menuju kebaikan ataukan ada
skenario politik menjadikan agama sebagai alasan tindakan yang merugikan
berbangsa ?
Jadi apakah perlu UU Sisdiknas disempurnakan agar mutu pendidikan Indonesia
naik peringkat , di Amerika, Jepang, Cina, Korea, Singapura  dan Eropa
pendidikan agama disekolah-sekolah menengah umumnya sudah tak dipakai lagi,
apalagi di Universitas mereka. Dan mutu beragama serta mutu pergaulan
sosial justru lebih baik, tak ada bakar-bakaran atau demo-demo tak beradab,
bandingkan dengan negara-negara dimana agama masih tetap merupakan komoditi
politik dan negara-negara tertinggal , penuh kekotoran korupsi dan
kekotoran penggunaan agama sebagai keperluan politik.

Fakta bahwa negara Indonesia yang paling getol soal agama , baik dalam
pendidikan, maupun dalam pengaturan Undang-Undang nyatanya merupakan negara
paling jebol dalam soal korupsi dan dalam soal penindasan hak-hak asasi
manusia. Itulah fakta yang menyesakkan dan fakta kemiskinan nurani , jadi
agama menjadi simbol aja …. bukan substansi …. menyesalkan !