Ada dua kasus menarik di Apakabar ini, Rustam dipersulit pejabat ngindo dan Desy dijual ngarab. Keduanya sangat beda, tetapi ada benang merahnya.
 

(Kasus Rustam Andeskun Bin Yurnalis

Kasus Desy:

http://www.superkoran.info/forums/viewtopic.php?t=31208)

Pertama, kasus Rustam.
Kasus ini sesungguhnya sangat ‘normal’ di ngindo.

Pemerasan.
Kita malah tidak tahu apa surat Rekom itu benar2 perlu (spt di quote rustam nya sendiri, setelah dia memilikinya, malah tidak ditanya).

Ini kasus yg sangat bagus buat SBY. Spt halnya Lastri yg dijual sbg P.
Rustam malah sudah teliti menyebut bajingan2nya. Nangkap si satpam bertopi haji itu juga bagus buat slogan / pameran kehebatan SBY.

Berubah sih masih lama, yg antri jadi makelar spt satpam itu sangat banyak, gugur satu masih beribu. Tetapi pemerintahan yg baik harus memastikan mereka yg salah gugur, entah pake turban atau topi yahudi.

Exactly malah itu yg perlu dikerjakan pemerintah.
Kasus rustam ini sangat jamak terjadi. Karena pejabat2 kita melihat orang yg akan dapat kerjaan di Qatar / LN itu adalah sumber pemerasan gampang. Dan spt kita lihat pada detail kasus ini, memang sangat gampang.
Birokrasi ngindo is such, much worse than colonialist. Semua inlander kudu diperas, bukan karena alasan filosofis, praktikaliti saja. Semua yg bisa diperas ya diperas lah (probo aja diperas koq!). Emang gampang cari korban pemerasan! kata pejabat2 ngindo (yg notabene juga diperas waktu memperoleh posisi nya kini).

Kasus kedua, Desy di beli ngarab lewat kawin mutah. Mirip Lastri dijadikan P, tetapi lebih kontras, dan tidak sejelek itu hasilnya.
Ngarab beli prawan sunda 800 dollar lalu komplain ke polisi karena ‘overprice’

beli prawan dapat prapatan!. Gila! otak ngarab2 asli ini memang luarbiasa mencongnya, ngentotin anak 15 tahun malah maju sendiri ke kantor polisi … ha ha ha … untung kantor polisinya juga sama gilanya … jadi lelucon yg tidak lucu.
Di kasus ini si Desy – sad to say – juga ‘tidak dirugikan amat’ ….
This is the saddest part, bahwa ‘berhasil’ menjual keprawanan 8 juta rupiah itu adalah prestasi di ngindo. Gampang ditemukan. Dan, tidak spt di quote gabriele, most likely alasan kasus Desy ini bukanlah agamis, atau ‘harapan bunting keturunan nabi’ segala. Pure economic.
In many cases Desy nya akan berpakaian muslim (hijab etc) –> suatu
penghinaan besar bagi agama dipakai sebagai kerudung pelacuran (tetapi
disahkan oleh sebagian pengikut agama itu sendiri). Ini sangat jamak terjadi.
Komentar ortu nya biasanya juga sangat praktikal :" daripada di embat si asep gratisan … mending dijual ke cukong atau ngarab yg bayar mahal".
Dan in a way it makes very good economic sense. Perlu diingat juga bahwa si Desy ini jangan dianggap spt prawan ting-ting cinderella stories.

Tentu saja, dipandang secara legal formal ya gila total, anak 15 tahun di jual, pembeli nya malah ke kantor polisi.


Kasus2 beginian menunjukkan ‘warna’ dari society Indonesia.
Kasus2 yg sangat jamak. Normal. Expected. Rustam itu naive, cerdas dan teliti.

Jadi menarik. Detail ada. Jutaan kasus lain samasekali kabur. Banyak yg mati garing keluar jutaan ngutang kiri kanan dan hasilnya cuman dirampok pejabat.

Tanpa kecatat.

Si Desy prawan bobol juga, klien ngarabnya eidian — lapor polisi! (ha ha ha …gak bisa nahan, otak onta ini kerjanya gimana sih .. haha!) — jadi kasusnya terbuka. Jutaan lainnya sama sekali tidak terbuka. Sebagian ‘desy2’ lain enjoy it, sebagian lagi mati garing di garap rombongan arab. Tanpa kecatat.

Dalam kedua kasus ini bahkan Rustam maupun Desy termasuk yg ‘beruntung’.

Walau sudah diperlakukan tidak adil – masih ada ‘happy’ di ending nya.

Jutaan lainnya samasekali tidak happy ending.
Very sad.

(kalo mikirin beneran that is, kalo nggak ya cuwek sajah. terserah kita semua
sendiri2)

Fairness, public admin yg akontabel.
Ini merupakan hal yg jauh lebih penting di Indonesia, dibanding ideologi (kapi v sosi, green v kapi dll) atau agama atau debat2 teoritis.
Bagaimana SBY bertindak pada hal2 semacam ini adalah litmus test yg sangat penting.
Bukan sopan tidaknya, pinter tidaknya, gendut tidaknya, partai apa.

b@b