Kaledioskop Akhir Tahun 2005
Mendengar khabar bahwa disebuah ‘Warkop Atas Angin’ terdapat ribuan pengunjung yang mungkin bisa dijadikan tempat ngerumpi sekalian menyodorkan ide tentang masalah peradaban ‘Tikuisme’ dinegri Nusantara ini…

Rabu, 16 Maret 2005
Gebrak Nusantara:
Salam sejahtera! Terima kasih kepada Moderator atas pencanangan Bulan untuk *Bicara  Agama Haram Bicara Korupsi halal*

Saya memiliki opini atau pendapat bahwa sesungguhnya jika ingin meminimalisir korupsi atau ingin meneruskan budaya tikusme ini,
semuanya tergantung rakyat itu sendiri. Saya fikir Presiden sudah  cukup punya sikap tetapi rakyat hanya menunggu, paling banter
berdiskusi saja tanpa aksi sama sekali.

Dulu Unesco mencoba menggalang NU & Muhammadiyah (bukan bicara agama
kan? cuma organisasi saja:) Sekarang apa tindak lanjutnya? Tidak ada
kan? Lantas bagaimana kalau kedua ormas terbesar itu saja tidak
mampu?

Van Helsing:
VH: Maksudnya gimana Bung?? musti dari mana rakyat memulai???
musti melakukan tindakkan apa?? Main ‘ciduk’ pada para oknum yg
diduga korup kemudian membantai rame2 atau memeinta data ke ICW dan
rame2 mendatangi mereka meminta ganti rugi???

Logika saya, penegakan hukum itu musti datang dari yg punya otoriter
hukum, rakyat mah cuma bisa mendukung dan berperan ‘pasif’, kalau
dalam hal yg kecil2 sih boleh juga, misal tidak suka nyogok kalau
lagi cari KTP ( dijamin nggak bakalan punya KTP) nggak main suap
kalau lagi nyari SIM ( biar akhirnya mengemudi tanpa SIM).

Mohon ide anda dijelaskan disini, biar ‘rakyat’ tahu ‘caranya’.

NU dan Muhammadiah disuruh apa?? apa musti ambil tindakan
hukum terhadap para koruptor?? bukankah itu berarti akan ada dualisme
hukum di INA?! Penegakan hukum bukan bidang yg jadi ‘spesialis’
organisasi keagamaan, tapi para aparat hukumlah yg lebih
bertanggungjawab.

Mohon anda lebih spesifik, biar lebih gambang membahas ide anda.

Salam
VH

Sehari kemudian…
Kamis 17 Maret 2005.
Kedua sohib itu ngumpul lagi di ‘Warkop Apakabar’…

GN: Pencanangan Hari Anti Korupsi Sedunia, adalah suatu hal yang
positif, dan ini barulah suatu awal. Apa yang kita saksikan ketika
tanggal 9 Desember lalu baru merupakan awal dari pemanfaatan
kata "budaya" dalam issu-issu "tikuisme" yang beranak pinak di
Nusantara.

Pun jangan kita selalu berharap bahwa "tikuisme" yang bukan lagi
mewabah tetapi sudah cendrung menjadi "ajaran" "ritual" atau bahkan
telah menjadai "agama" bagi para pemeluknya ini dapat dengan mudah di
usir dari "rumah kita" dengan sekali dua kali kibasan tangan.
Kata "aksi" yang dimaksud diatas adalah seyogianya berlangsung secara
gradual!

Sebelum masuk kepada "bingkai hukum", pemikiran saya adalah:
1. Mesti disadari, keprihatinan milis "apakabar" milis terbesar
Indonesia ini adalah "peluang"
2. Mengenali "frame besar" dan "frame kecil" akibat dari "agama
tikuisme" yang dahsyat ini.
3. Menggunakan segala potensi kultur yang ada. Kultur dalam hal ini
adalah apa yang telah menjadi "kebiasaan" sejak dahulu kala
(tradisi, ada istiadat) hingga kebiasaan dan interest komunitas
saat ini, dikehidupan modern ini. (Yang ditunjukkan oleh -salah
satunya- milis apakabar ini, "kultur" TI) Dan banyak lagi yang
dapat "ditunggangi"
4. Membuat semacam komunitas anti tikus, sebut saja "GhostBusters"
atau "Majelis Untung-untungan Indonesia" (atau apa yang
diistilahkan dan disepakati bersama) Dan membuat
semacam "Agenda" yang berkelanjutan, networking dsb. Disini
memerlukan kemampuan "manajemen pemasaran"
5. Secara berkala, Komunitas "GhostBusters" ini menghadiri acara
acara perayaan "Hari Anti korupsi Sedunia". Membuat evaluasi
evaluasi dsb.

Proses ini saja akan memakan waktu sekitar 7 s/d 10 tahun kedepan.
Dalam dalam proses kesana membuat jaringan kepada kedua ormas
terbesar kita itu. (NU dan Muhammadiyah) Skemanya akan dibahas
bersama setelah "GhostBusters" atau "Majlis" kita ini
sudah "ngelayap".

VH:
Logika saya, penegakan hukum itu musti datang dari yg punya
otoriter hukum, rakyat mah cuma bisa mendukung dan
berperan ‘pasif’, kalau dalam hal yg kecil2 sih boleh juga, misal
tidak suka nyogok kalau lagi cari KTP ( dijamin nggak bakalan punya
KTP) nggak main suap kalau lagi nyari SIM ( biar akhirnya mengemudi
tanpa SIM).

GN: Apa yang anda kemukakan diatas, hal tersebut yang kami maksud
dengan "Frame kecil", dan tetap harus berjalan.
Logika anda benar, namun sebelum masuk pada bingkai hukum, ada
fase yang mesti dengan sabar untuk dilalui. Kebiasaan kita yang
selama ini berfikir, bertindak dan mau dapat hasil serba instan
tidak berlaku dalam proses ini.

VH: Mohon ide anda dijelaskan disini, biar ‘rakyat’ tahu ‘caranya’.

GN: Kalau gitu, kita yang sama sama rakyat membahas dulu 5 point
diatas.
Dan meminta moderator Apakabar untuk melanjutkan Acara "No Agama
dan Anti Korupsi, Yes" pada milis ini, hingga terdapat suatu
result dan konklusi bersama.

GN: Tentang pertanyaan anda mengenai NU dan Muhammadiyah mau disuruh
apa… Lho… Kan, bukankah dalam setiap agama terdapat aspek
"Budaya" juga? tetapi, untuk sementara mudah mudahan sudah
mengkrucut. "Budaya vs Budaya" ini yang akan saya kemukakan jika
pembahasan kita pada 5 poin diatas telah (minimal) rampung.

Pada hari yang sama, dari ribuan pengunjung ‘Warkop’ ternyata tak ada yang ngomentari… Dengarlah komentar Van Helsing, sbb:

Tuh kan? mentok sampai disini, aku tunggu tanggapan apakabarians
untuk mengomentari ‘the gostbuster’ ternyata nihil.

Fenomena apa itu?? apakah bukti ketidak pedulian apakabarians
trhadapa kasus2 korupsi?? atau karena psimis dgn ide ‘langkah2’ yg
anda maksudkan dan di anggap mimpi doang?? atau karena memang kita di
apakabarians ini just for fun?? konsep yg anda tawarkan bagus menurut
theory, juga logis, tapi mungkin untuk mencapai ‘kesepakatan’ di
apakabrians ini yg MUSTAHIL…

Sebab apa??

Disini (apakabar) kita lebih suka saling sepak dan saling tendang
ASAL nggak sefaham, masalah itu ide bagus atau tidak, itu menempati
urutan yg kesekian… dan ini SUDAH menjadi mental bangsa Indonesia
PADA UMUMNYA ( baca: apakabarians). Dan itu adalah ‘ciri khas’ dari
dmokrasi itu sendiri, dgn kata lain, karena demokrasi kita
sudah ‘matang’, maka berjalan sendiri2 dan semua gue adalah pilihan
ideal ‘setiap’ individu.

Atau… karena ini ‘cuma’ milis yg menampung segala ide dan
pemikiran, maka sebaiknya anda NRABAS saja bla bla bla paparkan ide
anda secara gamblang, nggak usah nunggu si gostbusters itu ada atau
tidak, saya pikir ide itu lebih penting, masalah ‘penjualan’nya itu
bisa kita nego dikemudian hari.

Gimana kita mau terjun ke market bila kita belum punya produk yg
musti kita jual??? bukankah kita sudah punya ‘pabrik’ yg
sanggup ‘memproduksi’ dagangan kita itu??

Nah, anda yg musti mulai lagi… anggap saja apakabar itu adalah the
gostbuster-nya yg kita anggap saja sudah ‘sepakat’ dgn 5 point anda
tersebut.

What do you think?

Frame besarnya udah ada tinggal frame kecilnya yg lebih sulit lagi,
karena yg detail2 itu yg banyak mendatangkan pro dan kontra, nah…
adanya pro dan kontra itu yg akan membuka cakrawala pikir kita lebih
luas dan lebih dalam lagi…

Just go on !

Salam

Sehari kemudian, Jum’at 18 Maret 2005, optimisme Van Helsing, ternyata menghasilkan satu suara -juga optimis- dari "Lets Tangoin" sbb:

Kurang mengerti soal "gostbuster " ini. Human/Customer
Relationshipnya harus jalan dong. Visi, Misi, Tujuan,
Strategi, Prosedur Pelaksanaan harus cukup rinci. Jangan lupa
kommitmen, karena ini yang paling susah.

Mulai dengan satu satu. Visi dulu misalnya. Kemudian Misinya. Barulah
jabarkan itu ke bawah.

Jangan putus asa dulu, kalau belon dicoba. Jangan mengeluh dahulu.
Karena harus ada kepemimpinan disini. Kalau kepemimpinan kurang,
gimana dengan yang dibawahnya.

Biasanya pertama kali itu gagal. Kedua kali juga gagal. Jadi harus
persistent. Syarat syarat ini biasanya sudah umum.

LT.

Demikianlah 9 bulan lalu sebuah dialog kecil 3 orang yang terjadi dalam ‘Warkop Atas Angin" bernama "Apakabar"… Van Helsing dan Gebrak Nusantara yang saat itu sedang di Spanyol dan di Kroasia yah nggak mungkin dong turun lapangan… Lets Tangoin sendiri nggak tau dimana waktu itu.

Gebrak sendiri yang meyakini warkop itu sebagai ‘peluang’, masak sih diantara ribuan pengunjung Warkop Atas Angin itu yang kebetulan berdomisili di Indonesia nggak ada yang nyahut?… Ternyata melalui format online, banyak juga yang ngisi secara langsung, meskipun ‘suara’nya nggak nampil di Warkop, bahkan ada yang dari Vietnam!…

9 Bulan kemudian, tepatnya 14 Desember 2005, di 3 ‘Warkop’ secara bersamaan, yakni ‘Warkop Cikeas’ – ‘Warkop Zamanku’ dan ‘Warkop Apakabar’ Umar Said ‘nyeletuk’ dalam ‘sabda’nya "Kleptocracy di Indonesia dan Peran Generasi Muda" diantaranya sebagai berikut:

SUMPAH GENERASI MUDA BERI HARAPAN BARU

Mengingat parahnya penyakit korupsi ini, maka patut disambut dengan gembira segala usaha dari berbagai kalangan dalam masyarakat luas di Indonesia,untuk ikut berjuang melawannya. Dalam hal ini, patut dicatat aksi para pelajar SMA yang diadakan di kawasan Tugu Proklamasi (Jakarta) baru-baru ini dalam rangka Hari Anti-korupsi Sedunia. Lebih dari 500 pelajar SMA (ada yang datang dari Padang dan Makassar) mengucapkan sumpah di Monumen Proklamasi itu, dan menyatakan bahwa mereka ingin mewujudkan generasi baru yang bersih, transparan, dan profesional atau disingkat BTP…

May FUN be with you

SeksPeare
http://sekspeare.tk
http://www.kopitalisme.sites.cc