Hari ini saya saat membaca riwayat Joseph Schumpeter – tokoh yang sangat  kontroversial. Schumpeter, disebut oleh Peter Drucker sebagai "nabi  ekonomi" abad ke 20 – bersama dengan John Maynard Keynes yang menjadi  "Bapak Ekonomi Makro." Tulisan Drucker tersebut bisa dilihat di sini: "Modern Prophets: Schumpeter and Keynes?". Adapun inspirasi saya membuat  tulisan ini berasal dari diskusi tentang kapitalisme yang berjudul: "A Tale of Two Friends"
Berikut pembahasan tentang Schumpeter, Laba dan Moralitas.

Schumpeter menyebut dirinya sebagai anak didik Marx namun ia sendiri
berhaluan kapitalis, lahir di lingkungan ekonom aliran Austria – tapi ogah
menggunakan metode Austrian School yang anti Scientism, dan malah "mbalelo"
men jadi pelopor econometric. Ia juga pernah menjadi menteri keuangan pada
pemerintahan sosialis Austria, punya bank yang bangkrut saat inflasi
melanda Jerman, sebelum akhirnya ia mengungsi dan mengajar di Harvard
hingga akhir hayat.

Schumpeter menjadi istimewa karena ia menulis tentang laba / untung /
profit – sesuatu yang jadi akar debat moralitas. Karl Marx menyebut usaha
mengejar laba bukan saja sebagai kekejian dan immoral, melainkan pula
pembawa kehancuran sendiri yang "tak terhindarkan". Di sisi lain,
Schumpeter yang percaya bahwa ekonomi bertumbuh, dinamis, dan berubah –
menganggap laba sebagai insentif munculnya para "pengambil resiko"
(entrepreneur) yang berfungsi membuat sistem ekonomi tetap dinamis.

Perlu dicatat bahwa Schumpeter-lah yang memperkenalkan istilah "creative
destruction", yang berpandangan bahwa bisnis dan iklim usaha berada dalam
siklus selayaknya manusia – lahir, tumbuh, besar, tua, dan
mati. Perusahaan yang besar akan dibanjiri oleh para penjiplak (copycat)
yang mengikis seluruh keuntungan. Bisnis yang untung 1000%, akan diganggu
oleh munculnya pendatang baru yang "rela" cuma untung 900%, atau 800%, atau
700%, dan terus hingga cuma 10% atau 5%… Semakin besar untung – semakin
banyak muncul pesaing. Persis seperti gula mengundang banyak semut…

Dalam pandangan Schumpeter, laba adalah biaya yang diperlukan agar suatu
usaha tetap bisa berlangsung. Masa depan adalah sedemikian kompleks dan
tak teramalkan, sehingga laba pada hari ini berfungsi mengkompensasikan
resiko atas ketidak pastian di masa depan. Tanpa laba, maka justifikasi
keberadaan seluruh unit usaha (pabrik, kantor, mesin, dll) menjadi tidak
berarti. Laba hari inilah yang memelihara lapangan kerja hari ini DAN
menyediakan lapangan kerja bagi hari esok… Atas hal tersebut laba bukan
cuma cuma sesuatu yang layak diterima — melainkan sesuatu yang WAJIB
secara moral.

(Uh, bisa anda bayangkan bagaimana reaksi Marx bila mendengar hal ini…)

Bila laba menjadi wajib – lantas apa yang menjadi "kendali" agar perusahaan
tidak memperoleh "kewajiban"-nya secara berlebihan? Tidak ada. Bagi
Schumpeter satu-satunya mekanisme yang setara dengan "kendali" adalah
sesuatu yang bersifat endogen yaitu keberadaan persaingan /
kompetisi. Perusahaan akan muncul dan tenggelam. Teknologi baru akan
muncul menggantikan. Masyarakat berubah. Selera berubah. Network Sosial
juga berubah — jadi selama ada kompetisi dan dinamika ekonomi – maka
mustahil ada pihak yang bisa tetap bertahan statis. Akan ada kekuatan yang
mampu menggoyang dan merontokkan – untuk diganti dengan sesuatu yang
baru. Itulah definisi "creative destruction"…

Asumsi Schumpeter atas ekonomi manusia yang dinamis – jelas sangat berbeda
dengan asumsi Marx tentang ekonomi yang krisis-disruptif. Cara pandang
Schumpeter juga berbeda dengan aliran Marginalist atau bahkan Keynesian —
yang memandang ekonomi sebagai hal statis atau menuju statis. Itu sebabnya
Schumpeter menjadi kontroversial. Idenya penting dan mendasar ("creative
destruction", "profit sebagai moralitas", "bangkrut itu normal", "ekonomi
sebagai iklim dinamis", dll) namun ia independen dari pengaruh aliran
ekonomi yang ada…

Apakah dunia kita sekarang ini lebih menyerupai apa yang dipandang
Schumpeter? Bila ya, maka Schumpeter memang pantas dijuluki oleh Peter
Drucker sebagai "nabi ekonomi abad ke 20"..