Lama saya merenungkan makna persudaraan dalam Islam, di Islam diajarkan bahwa sesama Muslim itu adalah “saudara”, hingga kalau satu Muslim disakiti, maka Muslim yang g lain akan ikut juga merasakan sakitnya, bahkan bisa diibaratkan muslim itu adalah tubuh manusia, maka bila tangan yg terluka, maka seluruh tubuh ikut merasa sakitnya.


Pada masa Nabi masih hidup, pada masa umat islam hanya terdiri dari beberapa puluh, ratus atau ribu, makna brotherhood islam itu sangat berarti dan sangat positive maknanya, sebab kala itu setiap saat umat islam mendapat perlakuan yg tidak manusiawi dari para kaum kafir Qurais.

Hanya dgn semangat brotherhood itulah islam bisa berkembang dan besar seperti sekarang ini.

Belakangan ini, saya cenderung melihat brotherhood islam mengalami distorsi makna yg amat dalam, umat islam kembali terjebak pada makna literal dari sebuah ajaran agama, hingga persaudaraan dalam islam kemudian diartikan bahwa yg utama dan di anggap prinsip adalah menjalin persudaraan selalu dilihat dari sisi agama terlebih dahulu,yg sesama islam dianggap saudara sementara yg bukan islam dianggap orang lain yg menempapati urutan kesekian dalam relasi persaudaraan.

Yang terjadi kemudian adalah terkotaknya umat islam didalam lingkungan sendiri, kelurga sendiri, dan “saudara” sendiri yg melandaskan cuma pada persamaan agama. Kita bahkan sampai lupa, bahwa ajaran agama islam adalah ajaran agama yg mengajarkan adanya persamaan derajad pada tiap2 manusia dan tidak ada yg MEMBEDAKAN mereka kecuali amal perbuatannnya (sikap perbuatan dan tindakan-akhlak).

Yang lebih menyedihkan lagi, persudaraan islam itu kian dipersempit maknanya belakangan ini, bukan lagi terhadap sesama muslim mereka akan bersaudara, tetapi lebih ekstrem dari itu, yaitu terhadap yg SEALIRAN dan sefaham, disini umat islam semakin mempersempit kotak2 kurungan interaksi sosial mereka.

Berapa puluh kasus besar, barapa banyak kesesatan, berapa banyak kekejian yg dilakukan oleh sebagian umat yg merasa beragama islam itu dgn alasan brotherhood islam itu tadi.

Kita ambil contoh, Imam Samudra cs meyakini apa yg telah mereka lakukan berupa “jihad” yg pada hakekadnya hanyalah perbuatan kejahatan yg maha keji dgn alasan “membela saudara2 muslim mereka di Irak atau di Afganistan”. Kemudian setelah Imam Samudra cs diadili karena kekejamannya, giliran para pengacara menamakan diri “Tim Pengacara Pembela Islam”. Semua membawa semangat “brotherhood” dalam argument2 mereka setiap kali mereka “mengkotakkan” diri.

Dulu, ketika Ambon rusuh karena adalah “perang sipil”, berbondong-bondong umat islam dari Jawa menyerbu Ambon dgn alasan saudara2 mereka dianiaya dan dibantai, maka mereka menyerukan jihad, kala itu kita saksikan umat islam yg fanatis berseliweran sambil membawa parang atau pedang di tempat umum, sungguh fenomena yg mengerikan mengingat kita hidup dinegara yg mengaku sebagai negara hukum, dimana sudah semestinya untuk menyelesaikan segala gejolak publik adalah tugas aparat hukum.

Saya juga yakin, licinnya pengkapan terhadap para terroris fundamentalis islam di Indonesia macam almarhum Dr. Azahari itu juga karena faktor brotherhood yg dimaknai salah oleh sebagian orang islam di Indonesia, juga lembeknya aparat hukum terhadap preman2 agama macam FPI itu juga tak lepas dari salahnya persepsi sebagian umat islam terhadap makna brotherhood dalam islam itu tadi.

Rasanya, kita umat islam harus lebih arif mengartikan makna “persaudaraan” sesuai tuntunan agama, bukankah “haram hukumnya bekerja sama (bantu membantu) dalam kemungkaran?” dan diwajibkan bagi kita untuk bantu membantu dalam hal kebaikan.

Yang saya lihat, dasar kebaikan yg SEHARUSNYA dijadikan dasar untuk “bersaudara” ini malah sering dan kerap kali diabaikan, yg terjadi kemudian adalah makna “seiman” yg kemudian diartikan dgn begitu sempitnya, sekedar melihat dari kulit luar, melihat dalam arti literal: seagama!

Saya rasa, kedepan umat islam HARUS lebih berani membuka diri, berinteraksi dan “bersaudara” bukan berlandaskan pada agama semata, tapi lebih dari itu, kita harus melihat sisi “kebaikan” (akhlak) yg dijadikan patokan untuk bersuadara. Lebih baik lagi kalau kita berani mengambil sikap tegas dalam diri kita masing2, bahwa agama adalah hak asazi yg paling azasi yg dimilik manusia, maka sebagai konsekwensinya kita harus melepas agama sebagai dasar interaksi sosial kita, kita harus menjadi manusia yg siap dan bisa berbaur dgn siapa saja, bisa menghargai pluralism.

Kita membela orang yg perlu kita bela BUKAN karena mereka seiman dgn kita, tapi karena mereka BENAR, dan adalah kewajiban bagi kita untuk “menghukum” (mungkin secara moral) orang yg jahat dan keji bukan karena mereka TIDAK seiman dgn kita, tapi murni karena mereka JAHAT dan keji sekalipun mereka menyebut diri mereka islam.

Kejahatan paling keji adalah kejahatan yg menjerumuskan orang lain kedalam kejahatan yg sama. Membawa nama agama dan nama Tuhan demi pemuasaan syahwat kekejian dan kebuasan mereka.

Kita bersaudara bukan karena kita seiman, tapi karena kita sama2 berada dalam kebaikan dan kebenaran, dan berani melawan kemungkaran.

Helsing
_________________________________________________________