Kabar ttg dicabutnya embargo senjata dan dimulainya kembali kerjasama militer Amerika-Indonesia disikapi dengan berbagai reaksi. Salah seorang anggota DPR mengingatkan utk tidak terlalu bergembira dengan hal itu. Sambil mengingatkan dampak teramat buruk pada masa lalu, ketika Indonesia (Suharto) sangat bergantung pada Amerika utk pasokan senjata. Diusulkan agar melakukan keseimbangan melalui cara tetap bekerjasama dgn berbagai negara (eropa, rusia, china dll) dlm masalah pasokan senjata. Tak kalah pentingnya, waspada dlm menyikapi cara kontrak bantuan dibuat. Publik diminta mengawasi, spy kerjasama melalui satu atap Hankam agar tidak terjadi korupsi yg dilakukan para jenderal dan makelar mereka spt pd masa lalu. Ketika kontrak-kontrak itu dilakukan sendiri2 melalui masing-masing angkatan. {mosdownload}


Reaksi lain muncul dari Amnesti Internasional yg sangat kecewa dgn dicabutnya embargo itu. Alasannya sudah kita ketahui. Pemerintah Indonesia dianggap kasarnya melakukan tindakan penipuan murahan dgn melindungi para penjahat-penjahat kemanusiaan. Melalui pengadilan sandiwara dan membebaskan para jenderal dan perwira tinggi yg terlibat dlm kekejaman brutal di TimTim. Dlm bhs Inggris kalau tidak salah pengadilan sandiwara itu diterjemahkan agak lucu tapi tepat juga, monkey court, pengadilan monyet atau kera.

Perubahan sikap Amerika sebagai momentum memajukan bangsa.

Sambil tetap memperhatikan perasaan hati sebagian kelompok masyarakat Indonesia yg benci pada Amerika, tidak ada salahnya kita sikapi perubahan sikap Amerika itu dgn positif. Istilahnya, kita ambil manfaat sebesar-besarnya simpati G.Bush dengan gentle dan cerdik. Bukan licik dan serakah spt anak kecil yg manja. Salah satu inspirasi bisa kita rujuk pada film the Last Samurai. Inti cerita di film itu adalah semangat bushido Jepang menghadapi musuh. Berbeda dengan reaksi spontan bangsa-bangsa lain termasuk Indonesia, yg terlalu mudah dibakar dgn sifat benci dan anti pada musuh, semangat bushido itu luar biasa. Dalam film the Last Samurai, salah seorang pendekar Jepang tidak membunuh atau menyiksa musuhnya yg berhasil ditawan, seorang perwira tinggi Amerika yg disewa kaisar utk menghancurkan pemberontakan rakyat. Hebatnya lagi, malah si perwira tinggi itu diserahkan pada istri pendekar yg dibunuh si Amerika itu utk dirawat. Dengan telaten penuh kasih bukan hanya istri tapi anak-anaknyapun akhirnya menyukai si musuh Amerika itu. Singkat cerita pendek kata, lewat sikap yg gentle dan cerdik itu, si Amerika jatuh hati dan mengerti perjuangan si bushido Jepang itu. Dan akhirnya membantu perlawanan mereka melawan kaisar dgn kelebihan ilmu strategi perangnya dlm paduan strategi bushido. Pada akhir cerita sang kaisarpun menghormati si Amerika yg menyerah pada tentara kaisar yg tentu lebih banyak dan lebih canggih persenjataannya.

Pelajaran dari cerita itu, seandainya Amerika itu kita anggap sebagai kapitalis, neo liberalis, dan cap-cap jelek lainnya dlm kasus serbuan ke afghanistan dan Irak; mari kita hadapi dengan gentle dan cerdik. G.Bush sudah senang dan berubah sikap. Mengapa tidak kita ajak (kadang desak) dengan membantu secara lengkap. Agar bangsa Indonesia, tidak hanya dalam tehnologi dan strategi militer menjadi hebat, tapi juga dalam hal self-reliance. Bangkit dari keterpurukan. Menjadi bangsa yg bisa meletakkan dasar kokoh sistem tehnologi dan sistem kemasyarakatan yg betul-betul maju, modern, dan manusiawi?

Penguasaan tehnologi, ilmu dan sistem demokrasi

(1) Kalau saya jadi SBY, saya tidak akan puas begitu saja dengan dicabutnya embargo itu. Bila embargo kemudian dibuka dengan model lama kerjasama militer Indo-Amrik, itu sama saja dengan menyontek sejarah kuno. Pemerintah dan militer Indonesia tidak pernah akan merasa bangga karena belum atau tidak akan menguasai tehnologi pembuatan senjata2 canggih. Untuk bisa sampai pada kemandirian dan kekuatan persenjataan yg meyakinkan para perwira tinggi dan ilmuwan-ilmuwan awam perlu belajar bagaimana menguasai software dan hardware persenjataan modern. Apa artinya? Seperti yg anda duga, para ahli militer dan awam non militer harus bekerja keras bahu membahu utk mendirikan industri militer yg canggih. Seperti kita tahu, Amerika mempunyai sistem yg menarik utk memajukan tehnologi persenjataannya. Perusahaan-perusahaan raksasa bidang penerbangan diminta melakukan tender proyek2 besar pemerintah utk bisa menciptakan pesawat2 tercanggih. Mereka bersaing. Bukan hanya itu, bangsa Amerika selalu menghargai penemuan-penemuan baru setiap warganya apapun latar belakang ilmunya. Konsekwensinya, mereka selalu membuka perlombaan berhadiah besar utk siapa saja warganegara Amerika yg bisa membuat penemuan tehnologi baru, termasuk didalamnya tehnologi militer. Dengan sistem swastanisasi itu, perusahaan2 non pemerintah yg dulu kecil, bisa menjadi perusahaan raksasa dunia.

(2) Simpati G.Bush dan pemerintah Amerika atas perkembangan demokrasi yg pesat di Indonesia perlu juga ditarik agar para ahli tehnologi dan ahli ilmu pengetahuan lain semakin mampu meletakkan dasar serta membantu pengembangan ilmu-ilmu dasar yg berguna bagi kemajuan bangsa. Tentu saja kita sudah terlambat 40 tahunan dibanding China, Jepang dan Korea. Namun tidak ada salahnya terlambat daripada tidak sama sekali. Seperti kita tahu 40 tahunan lalu China mengirimkan setiap tahunnya 1000 mahasiswa-i utk belajar di Amerika. 10-30 tahun kemudian para ahli yg telah kembali itu bisa menjadi motor pemmbangunan yg mengagumkan. 40 tahun lalu, Sony, Honda, Toyota, mulai dengan mempreteli radio Amerika, mobil eropa dan dengan tekun mempelajarinya secara sederhana. Kini mereka menjadi perusahaan2 raksasa yg luar biasa. Singkat kata, mari kita siasati simpati Amerika itu agar melalui pemerintah gerak kerjasama lembaga-lembaga ilmu pengetahuan swasta Indonesia bisa dipacu kerjasamanya, dan bisa dibantu semakin banyak oleh para ahli Amerika. Kerjasama antar lembaga pemerintah harus diikuti dengan kerjasama lembaga-lembaga independent. Baik itu lembaga-lembaga ilmu pengetahuan maupun lembaga-lembaga demokrasi yg memberi kekuatan nyata utk kemandirian bangsa dan rakyat sipil. Kerjasama bisa diluaskan dalam menangani masalah good and clean government, penyelesaian konflik etnis dan agama. Amerika mempunyai lembaga-lembaga swasta yg kokoh dan teruji dalam hal itu.

(3) Lintas komunikasi dan kerjasama yg mungkin nanti pada suatu ketika nampak agak berlebihan dgn Amerika, tidaklah perlu membuat risau kita semua. Biarkan negara-negara lain yg risau. Pada saat negara-negara lain mulai khawatir, pada saat itulah pemerintah dan swasta bergerak lebih agressif utk mengajak dan meminta negara-negara lain dan pihak swasta mereka utk memperkuat tehnologi, ilmu pengetahuan dan kematangan demokrasi Indonesia.
Dengan demikian simpati Amerika akan menimbulkan dampak positif bagi kemajuan bangsa, karena memicu simpati negara-negara tetangga lain spt Cina, Jepang, Korea, Taiwan bahkan mungkin Filipina yg terkenal dgn IRRI laboratorium padi dan pengembangan tanaman tropika lain.

Melihat semua kenyataan diatas, sudah sangat jelas, gairah kerjasama antara pemerintah Amerika-Indonesia, tidak akan berbuah banyak kalau tidak disambut dengan gairah lembaga-lembaga swasta dan lembaga-lembaga ilmu pengetahuan lain di Indonesia. Jangan lewatkan momentum emas utk membangun kembali bangsa ini, kalau perlu dengan akselerasi yg lebih cepat.

Nah, bagaimana?

Salam cerdik,
*** teewoel