Menonton berita di RCTI Jumat 18 Nop aku melihat bahwa orang-orang yang mengubur Azhari di malaysia benar-benar memperlakukannya seperti seorang pemimpin besar. Pekik takbir terdengar dalam hiruk pikuk yang luar biasa seperti kehilangan seorang idola.
Sungguh miris ….., seorang pembunuh …. serial killers bahkan dipuja-puja atas nama tuhan

Busuk sekali ilusi yang ditimbulkan "keimanan" yang diajarkan dalam
mentalitas rendah diri.

Ujian sekali lagi buat orang yang beragama Islam.

Jujur saja jika seorang yang mempunyai dasar-dasar pemahaman Islam secara awam pada saat ini tentu akan dihadapkan pada kebingungan yang tiada tara.

Bagaimana tidak, semua pemuka Islam saat ini tidak bisa berbuat
banyak, kecuali mengatakan bahwa mereka yang menjadi mesin2 pembunuh
adalah kelompok2 yang sesat, tidak sesuai dengan rahmatan lil alamin,
pemahaman sepihak, spotong-potong dan lain sebagainya.

Orang-orang yang mengajarkan Islam sama sekali tidak bisa menerima
kenyataan bahwa salah arah, sepotong-sepotong, pemahaman sepihak
adalah keniscayaan dari ajaran dan ujaran yang tidak memungkinkan
adanya perbedaan pendapat dan kritik atau dialog.

Model keimanan, terima begitu saja, percaya pada suatu otoritas yang
tidak diketahui keabsahan wewenangnya, ditambah dengan inferioritas
yang timbul dari ketidakmampuan menghadapi kerasnya hidup adalah bahan
bakar yang akan memunculkan martir-martir konyol yang sayangnya akan
selalu ada selama masyarakat manusia telah berkembang hingga demikian
kompleksnya.

Kebodohan mungkin tidak cukup tepat untuk menggambarkan apa yang
menimpa orang-orang yang memilih tidak mau hidup karena kecewa
terhadap hidup, tetapi dijanjikan sesuatu (entah oleh siapa) bahwa
sesuatu yang indah, bahagia atau surga akan mereka terima.

Aku bilang ini mungkin bukan kebodohan jika orang yang beragama
melahirkan bencana kemanusiaan. Ini adalah virus, ini adalah suatu
penyakit, penyakit yang menimpa suatu sistem ajaran dan ujaran yang
bisa berkembang dengan sendirinya. Ada yang bilang persoalan ini ada
pada tingkatan superstruktur, ada yang bilang bahwa ini memang bagian
dari seleksi dalam sistem memetik, dan ada juga yang berkata bahwa
persoalan kultur memang mempunyai tragedinya masing-masing.

Aku berlindung pada diriku sendiri, atas segala kekeliruan dan
kesalahan yang ditimbulkan oleh virus-virus ajaran dan ujaran
(memetics) yang berpotensi menghancurkan kemanusiaan.

AMIN
(terinspirasi oleh warisan mesir purba)