Apa yang tersisa dari kematian salah satu gembong teroris Indonesia
DR. Azahari bin Husein bagi perasaan terdalam hati umat Islam di
sini? Jawabanya tentulah sangat beragam tergantung darimana kita mau
membidik sisi yang mesti diekspos untuk ditulis sebagai opini. Apakah
umat Islam merasa disakiti karena yang telah memperjuangkan dan
berusaha menegakan jalan Allah sudah mati tertembus peluru para
pemburunya. Atau malah sebaliknya umat Islam dibuat lega bukan
kepalang karenanya, sebab monster berujud binatang buas dalam diri
DR. Azahari bin Husein ini sudah dikirim untuk menemui bidadarinya.
Sebab selama ini hasil karyanya sudah mencabut ratusan hak hidup
manusia tidak berdosa dan ratusan lainnya cacat pisik atau mental
dalam sisa hidupnya. Setimpal dengan perbuatannya yang pada akhirnya
mati dengan cara sama tetapi lebih hina seperti yang sudah
direncanakan terhadap para korban yang menjadi incaranya.

Seperti ikan dalam air
Sebuah perburuan yang sangat menguras tenaga, dana dan kecermatan
memilah dan mengendus informasi dari data dan fakta di lapangan yang
ditemukan diantara para kaki tangannya. Hal itu disebabkan oleh
karena kemampuan mobilitas atau malah melakuan kamulfase untuk
membaur di tengah masyarakat dan perlindungan kelompok. Juga jangan
dilupakan ikut andilnya para kolaborator teror dengan komentar-
komentar atau statement bias dan sumir di tengah masyarakat. Takhala
peristiwa keji seperti pemboman dan aksi teror lain terjadi ataupun
pengrebekan terhadap mereka yang dicurigai dilakukan. Tidak ayal
congor najis milik mereka pastilah tidak pernah diam untuk mengecam
tindakan aparat atau melemparkan tuduhan-tuduhan ke pihak lain.
Konyolnya lagi informasi yang diberikan oleh pihak aparat sebagai
hasil dari penyelidikan dianggap palsu atau malah cuma sabatas rekaan
semata. Bahkan tragisnya diikuti dengan pemutar balikan fakta melalui
penyebaran kabar bohong tentang sosok teroris tersebut sebagai rekaan
pihak intelijen.

Biang teror terbunuh
Itulah sebabnya mengapa salah satu gembong teroris DR. Azahari bin
Husein ini baru menemuhi ajalnya di ujung pelor Dentasemen Anti Teror
88 Mabes Polri akhir-akhir ini. Setelah hampir lima tahun lebih
melakukan aksi teror dimulai dari pesta bom dimalam Natal tahun 2000
yang merupahkan peristiwa besar pertamanya. Walaupun sebelumnya
namanya sudah ikut disebut-sebut dan dikaitan dalam kasus bom Atrium
Senen yang membuntungan salah satu kaki dari pelakunya itu. Tetap
saja informasi dari intelejen tidak dipercayai sebagai fakta dan data
bahwa di tengah warga ada teroris yang digerakan aksinya oleh
kepercayaan yang diyakininya seperti keyakinanya juga. Untuk itulah
para teroris ini mendapatkan angin segar buat dapat bernafas lega dan
beranak pinak hingga mencapai sekitar 13 juta sebagai kader potensial
dari 220 juta penduduk di sini. Tidak heran daerah-daerah pelosok
yang secara tradisional dipengaruhi oleh NU pelan tapi pasti dapat
diinfiltrasi olehnya. Maka tidak usah terkejut ketika daerah sepert
Kudus, Pati (tempatku dilahirkan) dan Purwodadi ataupun Jepara
sekalipun bisa dijumpai orang-orang bercadar kayak di Arab
sana.

Tersudutnya moderat
Pertanda apakah itu? Menunjukan secara kasat mata bahwa
fundamentalisme sudah menyeruak ke pelosok wilayah kehidupan
keberagamaan kita. Bisa juga menunjukan kelengahan dari NU dalam
membina dan membentengi para nadiyinya dari pengaruh fundamentalisme
agama yang disebar di daerah binaanya oleh kelompok teroris itu.
Meski yang terlibat dalam kegiatan yang berujung kepada aksi
terorisme bukannya lagi merupahan warga nadiyin sebenarnya. Karena
pada hakekatnya mereka itu sudah keluar dari spirit keNUannya sendiri
yaitu alusshunah wal jamaah. Dan mengikuti spirit baru terorisme
untuk mencapai apa yang menjadi perjuangan dan dambaanya selama hayat
masih dikandung badan. Untuk itulah peran NU sangatlah krusial dan
penting sekali dalam melawan atau perang terhadap terorisme di Negara
ini. Dengan cakupan wilayah yang luas terutama di pulau Jawa dengan
daerah tapal kudanya itu. NU bisa menjadi garda terdepan sebagai mata
dan telinga untuk mendeteksi secara dini perubahan yang terjadi di
tengah masyarakat di lingungannya. Dengan begitu, jika tiba-tiba saja
seorang wanita yang sudah nikah dan balik ke kampung pakai cadar.
Ataupun suaminya pakai celana jingkrang di atas mata kaki dapatlah
dipastikan bahwa mereka adalah bagian dari 13 juta warga ekslusive
Negara ini. Apalagi kalau kemudian menarik diri dari pergaulan warga
kampung maka perlulah diawasi dan diwaspadai gerak–geriknya sebagai
salah satu langkah preventif untuk terjadinya aksi teror.

Terorisme musuh peradaban
Terorisme sekaurang sudah menjadi bagian dari musuh bersama masyarakat
beradab atas ketidakberadaban yang digerakan oleh keyakinan dan agama
yang dianutnya. Dan aksi teror adalah bagian integral dari dua sisi
mata uang ajaran agama bersangkutan maka aksi teror bukanlah sesuatu
yang haram malah sebaliknya adalah halal. Sebab teror merupahkan alat
perjuangan untuk menegakan syariah juga dapat menjadikan diri sebagai
syuhada dimana mati sebagai syuhada adalah idaman para muslim
sejati. Muslim yang baik mati sebagai syuhada adalah salah satu
motto yang dapat kita baca dan selami artinya di stiker-stiker yang
kadang-kadang didapat di pintu-pintu kamar ataupun di kaca-kaca
mobil. Mengapa harus mati untuk menjadi muslim yang baik dan apakah
hidup dengan berkarya yang bermanfaat bagi sesama hidup bukanlah
lebih berarti? Itulah salah satu kesalahan ajaran dan
pengimplementasiannya dalam kehidupan yang salah kaprah dimana sisi
seperti itu akan mudah dan gampang untuk dieksploitasi dalam
perekrutan jihader-jihader selanjutnya.

Agama yang sempurna
Untuk masa depan dan dimulai dari sekarang pengsakralan akan ajaran
agama seperti klaim salah satunya sebagai agama yang disempurnakan
untuk menyempurnakan agama-agama terdahulu harus dibuang ke tong
sampah. Pentabuan yang selama ini ditutup-tutupi untuk tidak
diketahui atau dibicarakan secara terbuka mesti juga dibuang jauh-
jauh dan mulailah secara sadar untuk mengungkapkan secara jelas dan
gamblang. Bahwa kata Islam arti harfiahnya damai itu tidak seperti
sebagaimana faktualnya melainkan juga diikuti oleh lembaran-lembaran
noda hitam diinter ataupun antar dimana Islam berinteraksi dengan
lingkungannya. Dengan begitu diharapan mereka yang mempelajari Islam
terutama para generasi muda baik itu di pesantren maupun sekolahan
umum mengetahui dengan benar hitam ataupun putihnya ajaran yang
mereka yakini itu. Sehingga tidak akan mudah bersimpati dan berempati
atas perjuangan yang mengatasnamakan ajaran yang sama dengan
keyakinannya dengan melakukan teror. Juga bantahan bahwa mereka tidak
pernah mengajarkan kekerasan kepada para santri ataupun anak didiknya
tidak perlu diutarakan apabila sedari dini sudah memberikan cakrawala
luas atas keimananya. Dari cakrawala luasnya itu diharapan tidak
mudah untuk dimanipulasi dan diperalat guna direkrut mejadi teroris
sebagai jalan jihad menjadi syuhada.
Muslimah jihader
Bilamana selama ini aksi-aksi teror dilakukan oleh para jihader
muslim bagaimana dengan peran para jihader muslimahnya? Sampai
sekarang belum ditemukan keterlibatan dari para jihader muslimah
dalam rangkaian teror pemboman di tanah air kita. Tetapi selama ini
keterlibatannya hanya sebatas sekedar sebagai pemuas nafsu syahwat
salah satu gembong teroris Noordin M Top dengan status istri muntah.
Malahan di luar negeri leluhurnya sana yaitu timur tengah sekarang
sudah memulai sebuah revolusi peran dimana jihader muslimah mulai
terlibat dalam aksi teror. Seperti teror yang sudah terjadi di
Yordania yang menghancuran hotel-hotel disana dimana salah satu warga
bangsa kita ikut menjadi korban keganasan dari teror yang diusung
atas nama agama itu. Menunjukan disinipun keterlibatan jihader
muslimah terbuka kemungkinan akan terjadi dalam aksi-aksi teror
dimasa mendatang mengkuti trend yang sudah dimulai di Yordania.
Trend berbalik
Ibaratnya trend mode maka kejadian di Yordania akan menjadi insprasi
jaringan sejenis di dunia untuk mengikutinya apalagi bila menelaah
lebih jauh bahwa status muslimah dalam struktur keagamaan adalah
subordinat dari muslim.Maka sangat rentan seorang muslimah untuk
dijadikan jihader dibandingkan dengan seorang muslim karena seorang
muslimah harus taat terhadap para muslim.Dapat dikatakan bahwa
muslimah itu suwargo nunut neraka katut dan itu mesti perlu
diwaspadai ekstra mulai dari sekarang sebab karateristik dari pisik
tubuh muslimah lebih gampang untuk dibuat manusia bom. Bayangkan bila
seorang muslimah hamil bom dengan berat 9kg-10kg berisi campuran C4
dan RDX melewati metal detector yang tidak mampu mengedusnya kemudian
meledakan dirinya ditengah kerumunan khalayak tidak berdosa maka
bencana kemanusiaanpun terjadi kembali.

Membiarkan pembantaian
Kematian DR. Azahari bin Husein tidak akan mematikan semangat teror
dari para jihader bilamana jaringan yang sudah dibentangkannya tidak
juga cepat digulung. Itupun hanya untuk jaringan dengan cakupan
global sepert Jamaah Islamiah yang dibilang fiktif itu, bukan jaringa
lokal yang kecil-kecil cakupannya tetapi dengan semangat sama.
Seperti FPI, Laskar Juduhlah dan Laskar-Laskar lainnya yang
beroperasi sebagai jaringan teror di Sulawesi khususnya daerah
konflik seperti Poso. Kasus Poso yang berlarut-larut hingga sampai
sekarang tidak terlepas dari tidak dilakukannya equal treatment dalam
hukum terhadap kedua belah pihak yang berkonflik. Dimana di pihak
Islam seakan dibiarkan untuk membantai pihak Kristen walaupun
perjanjian Malino sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Hal
itu dapat dibuktikan dengan hanya Tibo cs yang mendapatkan sangsi
hukum sebagai pelaku teror di pihak Kristen sedangkan pihak Islam
dibiarkan berlengang tidak ada satupun yang menjadi tersangka. .

Konflik Poso
Sebenarnya meredam konflik Poso adalah sangat gampang, tanya saja
kepada Yusuf Kalla yang sekarang menjadi Wapres itu. Dia sangat tahu
benar situasi dan kondisi serta peta fundamentalis Islam di wilayah
tersebut yang melakukan teror kepada pihak Kristen karena pengaruhnya
sangat besar didalamnya. Konflik Poso dengan pemengalan kepala para
siswi SMK adalah salah satu teror dengan mondus untuk mengusir orang
Kristen dari wilayahnya yang sudah didiami dari nenek moyangnya
dahulu. Apalagi kalau mengingat ke belakang bahwa daerah Poso
(Sulawesi Tengah) merupahkan daerah yang cukup menjanjikan dengan
sumber daya alamnya dimana penduduknya adalah juga pemeluk agama
Kristen. Oleh karena nafsu ekspansionis dari Islamlah membuat daerah
yang begitu tenang dan damai menjadi berdarah-darah hingga sekarang.
Juga mesti diingat bahwa Poso juga menjadi camp pelatihan bagi
teroris-teroris Islam lokal dan juga dari berbagai Negara dimana Al-
Faraouk adalah satu pelatihnya sebelum kemudian ditangkap oleh BIN
dan diekstradisi ke USA.

Kapan Sadar?
Jadi untuk hidup bebas dari rasa ketakutan akibat ulah teroris-
teroris Islam untuk masa sekarang atau mendatang masih jauh dari
impian. Itu semua karena belum adanya kesadaran bersama terutama dari
orang-orang Islam sendiri untuk mengakui realita yang ada tanpa harus
mengarang-ngarang cerita fiktif dan berbau konspirasi. Ataupun
mengumbar congor najisnya dengan mengatakan pihak ini atau pihak itu
sebagai pelaku seperti yang dilakukan oleh Ketua Dewan Syuro PKS dan
juga Ketua MPR Hidayat Nur Wahid itu, ataupun Ketua Ormas
Muhammadiyah Din Samsudin. Seharusnya Polisi melakukan tindakan
dengan memanggil kedua orang tersebut dan lainnya untuk mentanyakan
apa latar belakang dari motif pernyataan atau statement mereka.
Apakah Polisi tidak pernah curiga bahwa pernyataan atau statement
tersebut sebagai bagian dari taktik covered untuk membingungkan dan
menghambat penyelidikan dan penyidikan? Kalaupun tidak, pemanggilan
itu adalah pelajaran bagi mereka untuk bertanggungjawab atas
tindakannya agar tidak sembarangan mengeluarakan statement atau
pernyataan seenak udelnya sendiri.

Bancinya Pemerintah?
Juga sikap dari Pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden SBY ini yang
terkesan banci dan memakai standard muka ganda. Dimana di satu sisi
mengatakan dan ikut untuk perang ataupun memerangi terorisme akan
tetapi disisi lain berunding dengan teroris. Hal itu dapat dilihat
dari upaya pemerintah untuk mendekati kelompok teroris ini melaui
pertemuan Syawal yang diadakan 5 Syawal (7 November 2005) di daerah
Jawa Barat. Dan anehnya sangat gembira ketika salah satu gembong
teroris Indonesia DR. Azahari bin Husein mati ditembak seperti
binatang. Dikatakannya sebagai salah satu Big Bang, pertenyaanya
kemudian dimana moralitas SBY ini sebagai Kepala Negara dan
Pemerintahan juga pertanggungjawabanya di masyarakat dunia?
Pemerintah SBY harus secara terbuka memberikan informasi kepada
masyarakat umum terutama masyarakat dunia, agar kita tidak dicap
sebagai pelindung atau malah sponsor terorisme dengan langkah seperti
ini. Untuk menghindari implikasi yang luas dengan dijatuhkannya
sangsi terhadap Negara kita atas ulah tidak bertangungjawab
Pemerintah.