Meski Islam bisa dibilang agama"termuda" diantara agama2 besar lainnya (dalam konteks literatur), tapi Islam -dilihat dari sisi dan fungsi agama- adalah agama yg PALING sukses diantara agama2 besar lainnya.

Kita sepakat bahwa dasar orang beragama (beriman) adalah karena satu KEYAKINAN, dimana yg namanya rasio itu menempati nomor sekian. Bukan berarti saya ingin mengatakan bahwa kita bergama berarti kita tidak rasional, tapi penekanan kata disini adalah bahwasanya kita beriman (beragama) adalah karena keyakinan kita semata.

Melihat sifat dari ajaran2 agama2 besar lainnya yg pada umumnya selalu mengarah pada kehidupan akherat, menuntun manusia pada jalan kebenaran. Atau kalau dalam jaman Musa bisa kita temukan : 10 perintah Tuhan. Saya yakin semua ajaran agama bermuara disitu, lebih atau kurangnya itu hanya soal pengembangan bahasa dan pemahaman semata.

Dalam tata nilai agama (ajaran agama) buat umatnya, maka islam bisa dikatakan yg PALING SUKSES, tak ada umat agama lain (dalam skala besar atau malah mayoritas) bisa menjadi SEPATUH dan SETAKUT seperti umat islam kepada apa yg disebut Alloh,Tuhan seru sekalian alam.

Begitu takutnya umat islam pada Alloh, hingga kebanyakan dari mereka malah TIDAK MENGENAL sifat2 dasar Alloh, kalau sifat2nya saja TIDAK KENAL, lantas bagaimana mungkin kita bisa mengenal "pribadi" dari Alloh itu sendiri?

Sejak islam itu mengajarkan bahwa SEGALA sesuatu perbuatan HARUS karena Alloh, maka orang islam seperti KERANJINGAN berlomba "menjilat" Alloh sebatas pemahaman mereka semata pada apa itu Alloh sebenarnya, celakanya, cara pemahaman mereka (kebanyakan) terhadap Alloh itu sangat MENTAH sebatas TINGKAT pemahaman mereka pada Al Qurán sebagai "panduan" mereka.

Bukan berarti saya ingin "menggugat" Al Qurán sebagai kitab suci agama yg saya anut, tapi point saya adalah pada BAGAIMANA kita bisa memahami isi Al Qurán tersebut.

Saya tahu banyak mahzab, banyak Tafsir Al Qurán, saya juga tahu bahwa untuk men-tafsir Al Qurßan butuh ilmu dan syarat2 tertentu, tapi yg lebih saya tahu, apapun tafsir yg akan dihasilkan maka tafsir tadi HARUSLAH TIDAK BERTENTANGAN dgn sifat2 Alloh.

SUKSES agama islam disini yang saya maksudkan adalah pada sisi penanaman dogma agama, sangat jarang ada umat agama lain yg begitu PD saat diskusi dgn mendebat pakai mengutip ayat2 kitab suci mereka kecuali umat islam dgn Al Qur´an sbg kitab suci mereka yg WAJIB KITA (KAMI) imani KEBENARANNYA tanpa adanya tawar menawar disini.

Tak ada umat agama lain yg begitu militan "mengikuti" -SABATAS PEMAHAMAN mereka pada – Al Qurán sebagai acuan setiap gerak dan sepak terjang mereka.

Dalam soal KEPATUHAN pada dogma agama ini, maka islam SANGAT SUKSES dalam "menakut-nakuti" para pemeluknya hingga banyak diantara mereka yg BUTA dan TULI karena cekaknya nalar dan tumpulnya otak yg tersumbat oleh rasa takut (yg SEHARUSNYA malah tidak bagus) oleh dogma yg sejatinya adalah rasa takut kepada bayangan diri sendiri yg lahir karena penafsiran yg tidak tepat pada ayat2 al qurán sebagai panduan hidup mereka.

Begitu takutnya umat islam dengan laknat Alloh -SEBATAS PEMAHAMAN MEREKA pada makna Alloh itu sendiri- ,malah mereka menjadi laknat kepada Junjungan mereka, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Nilai2 moral dan kemanusiaan, nilai2 kepatuhan hukum dan keadilan yg menjadi TRADE MARK-nya Nabi Muhammad malah sering dinafikan oleh umat islam atau yg menamakan diri umat islam macam FPI, Al Qaeda atau teroris kecil yg memanipulasi ajaran2 islam.

Tak ada satu agamapun yg SUKSES men-DOKTRIN umatnya sehingga begitu takut dan patuh kepada "dogma agama" -SEBATAS PEMAHAMAN mereka semata- seperti yg terjadi pada umat islam.

Apakah rasional orang yg ingin masuk surga dgn membunuh orang lain (berbuat jahat) kalau ini BUKAN KARENA kesalahan FATAL dalam mereka memahami dogma agama?

Apakah rasional orang yg ingin berbuat kebajikan tapi malah bikin onar dan kesusahan bagi orang lain (umat agama lain) kalau ini bukan karena SALAHNYA PEMAHAMAN mereka pada makna dari apa itu dogma agama?

Lantas apakah saya salah bila saya mengatakan bahwa Islam adalah agama yg SUKSES dalam men-doktrin umatnya hingga mereka menjadi buta dan tuli karena cekaknya nalar mereka dalam memahami ajaran agama islam tersebut.

Agama yg harusnya mensucikan nurani kita dari dosa dan berbuat salah, tapi seringkali malah membawa kita pada perbuatan dosa dan salah karena ceteknya otak kita dalam memahami ajaran dan dogma agama kita.

Moga kesalahan tafsir akan makna kebajikan, surga, dan pahala itu bisa diluruskan oleh mereka2 yg punya "kekuasaan" agama baik secara tradisi atau struktural, umat islam yg awam perlu diluruskan dalam memahami dogma dan ajaran agama (FPI contohnya), maka andai politisisasi agama itu bisa diminimalis, saya yakin agama (Islam) akan kembali menemukan jati diri sebagai sarana pencerah jiwa dan nurani manusia.

Helsing