Doktor Azahari diberitakan tewas.
Beberapa saat kemudian, wartawan koran Indo-Pos menelepon isteri
Dr.Azahari (Ny. Nur Aini) dan bertanya apakah sudah mengetahui berita tentang tewasnya suaminya.
Ny. Nur Aini: "Belum, belum (terdengar menahan tangis). Kalau benar bapak sudah  meninggal semoga MATI SYAHID. Sebab dia berjuang di JALAN ALLAH, jalan yang diyakininya selama ini…"

Anda sekalian dapat lihat fenomena perkataan isteri seorang teroris. Mendoakan suaminya ‘mati syahid’, sebab ‘berjuang di jalan Allah’. Saya sampai ternganga lebar-lebar membacanya.
Luar biasa. Luar biasa. Luar biasa!

Berbagai pertanyaan kemudian bergulat di kepala saya:
1. Apakah hal yang dapat membuat seseorang mempunyai pandangan
demikian ekstrim?
Saya pernah menulis di milis ini tentang Indoktrinisasi Ajaran
Agama, doktrin-doktrin agama yang dijejalkan pada penganutnya yang
kemudian menimbulkan suatu perubahan keyakinan dan cara pandang
terhadap lingkungan. Indoktrinisasi Ajaran ini melahirkan suatu
keimanan yang tampak sebagai halusinasi bentuk-bentuk pikiran.
Indoktrinisasi ajaran banyak ditemui pada kothbah2 agama samawi
Kristen dan Islam. Di satu pihak, menguntungkan, di pihak
lain benar-benar merupakan pembodohan massal.

2. Ada apa dengan indoktrinisasi?
Doktrin adalah ibarat kacamata. Bila anda mempercayai doktrin A,
maka kehidupan di sekitar anda akan bernuansa A. Layaknya anda
memakai kacamata dengan kaca warna biru, maka apapun disekitar
anda akan tampak semu biru.
Indoktrinisasi erat kaitannya dengan kata ‘percaya’.
Mengapa seseorang percaya?
Satu hal yang mungkin, karena mereka tertumbuk pada sesuatu yang
tidak dapat dilihat/dijelaskan. Seperti contoh ini:
Andai saya adalah guru spiritual anda yang anda hormati. Suatu
hari saya menunjukkan tangan saya yang tergenggam erat dan berkata
pada anda bahwa di dalam genggaman tangan saya terdapat
sebuah mustika yang sangat berharga. Apa yang terjadi?
Pada diri anda akan timbul ‘Percaya’ atau ‘Tidak Percaya’.
Namun karena saya adalah guru spiritual yang anda hormati,
maka kemungkinan anda akan ‘Percaya’.

Masalah percaya dan tidak percaya akan timbul dikala anda belum
melihat sendiri mustika tersebut. Namun, apabila kemudian saya
membuka genggaman tangan dan melihat sendiri ada apa didalamnya,
masalah percaya dan tidak percaya akan hilang dengan sendirinya.

Indoktrinisasi yang saya lakukan pada anda, mengenai kebenaran
akan keberadaan mustika tadi, sangat erat dengan usaha saya
menumbuk pikiran anda pada sesuatu yang tidak dapat dilihat/
dijelaskan sehingga hanya timbul pilihan percaya dan tidak percaya.

Setiap makhluk hidup mempunyai naluri untuk berlindung. Naluri ini
alami ada demi mempertahankan eksistensinya. Begitu pula manusia,
sebagai makhluk hidup yang lebih tinggi, mempunyai naluri berlindung.

Adanya bencana alam, peperangan antar suku, kesedihan dan kematian
membawa pada suatu pengalaman batin tertentu atas kebutuhan akan
perlindungan. Terlebih lagi, banyak fenomena yang sepertinya tidak
dapat dijelaskan dengan akal dan kemampuan. Karena itu, pada awal
sejarah manusia banyak dijumpai penyembahan pada kekuatan-kekuatan
alam dan dewa-dewa. Naluri berlindung ini yang kemudian
melahirkan "eksistensi Tuhan" sebagai jawaban.

Tuhan lahir sebagai pemenuh kebutuhan akan perlindungan, tentu saja
disertai dengan berbagai cerita historik-keimanan yang memperkuat
kehadiran Tuhan (yang samasekali tidak dapat dibuktikan secara
relevan dikehidupan modern sekarang! Contoh: Apa ada laut yang
terbelah dua lagi? Apa ada pembunuhan lagi seperti pembunuhan anak-
anak Mesir jaman Firaun yang diklaim sebagai kehendak Tuhan? Apa
ada ‘seruan/sabda/suara’ Tuhan yang menggelegar dan terdengar benar-
benar ditelinga seperti kisah kitab2 suci? dsb)

Tuhan kemudian dipakai sebagai alat pembenaran, entah Perang Salib,
Mati Syahid, Pembunuhan Kafir dan sebagainya.
Mungkin hal inilah yang harus benar-benar DILIHAT (dipahami,
dianalisis, diobservasi, diperbandingkan, dan berani mengakui ajaran
sendiri salah!) oleh para penganut agama samawi.{moscomment}

hypoglossus
===========
"Ketidaktahuan melahirkan kepercayaan,
hilangnya ketidaktahuan, hilangnya kepercayaan.
Lihat, jangan sekedar percaya."