Sebagai orang Katholik, saya sangat setuju bila ada yang mengatakan perang Salib adalah salah satu kesalahan terbesar Gereja (Katholik khususnya, karena saat itu belum ada Kristen Protestan). Pada abad pertengahan di Eropa, Paus amat sangat berkuasa. Tidak ada Raja yang kekuasaannya melebihi Paus. Kenyataan
inilah yang membuat Paus -sebagai manusia- juga melakukan kesalahan atas kekuasaannya itu. Kupon penebus dosa diedarkan untuk membiayai perang Salib, Paus berpoligami dan lain-lain. Singkatnya kekuasaan yang seharusnya digunakan untuk pengajaran iman digunakan untuk hal-hal duniawi. {moscomment}

Salah satu klimaks dari penyelewengan itu adalah
Perang Salib. Disebut Perang Salib karena tentara yang
berperang menggunakan tanda Salib di baju zirah dan
perisai mereka. Keinginan yang sangat kuat untuk
merebut Tanah Suci Yerusalem dari Kaum Muslim membuat
kekerasan dipilih sebagai jalan.

Pada masa Paus Yohannes Paulus II, gereja Katholik
khususnya membuka diri seluas-luasnya terhadap agama
lain dan dialog antar agama. Dalam pelaksanaannya,
kebijakan ini tentu tidak bisa dilepaskan dari noda
hitam sejarah gereja, yaitu Perang Salib. Sebagai
bagian dari konsekuensi kebijakannya, Paus Yohanes
Paulus II sekitar tahun 2000an -saya lupa pastinya-
mengadakan Upacara Agung Mae Culpa, sebuah ritual
besar untuk memohon ampun atas SEMUA DOSA GEREJA DALAM
RANGKA PEMBELAAN IMAN. Tentu saja, termasuk perang
salib. Dengan begini diharapkan tidak ada lagi hal
yang mengganjal dalam rangka dialog terutama dialog
Islam-Kristen.

Bagi saya, ada satu kesamaan menarik antara gereja
Katholik pada masa Perang Salib dengan umat beragama
di Indonesia -khususnya Umat Muslim- pada masa
sekarang ini. Mengapa saya memilih contoh umat Muslim?
Tanpa tendensi apapun, saya memilih umat Muslim karena
Islam adalah agama mayoritas yang memiliki ‘power’ di
Indonesia, sama persis ketika masa Kegelapan Eropa
dimana Katholik mayoritas mutlak dan mempunyai power
yang sangat besar.

Kesamaan dalam hal apa? Yaitu ketergantungan yang
sangat besar terhadap pemimpin agamanya, dengan
menyingkirkan sikap kritis. Dimata saya, kekuasaan
Paus yang sangat besar pada masa itu baik dalam hal
pengajaran iman maupun urusan duniawi, mirip sekali
dengan ‘kekuasaan’ para Ulama Muslim -golongan
non-moderat dan para sektarian- diIndonesia pada zaman
sekarang. Tidak ada satu perkataan pun yang dibantah.
Semua iya. Tentunya tidak bisa dipungkiri keterbatasan
intelektualitas
masyarakat Indonesia juga menjadi hambatan besar.

Saya tidak mengatakan bahwa umat Muslim Indonesia
kacau semua, tidak. Bagi saya semua umat beragama
sedang kacau di Indonesia saat ini. Yang ingin saya
katakan adalah, bahwa suatu keadaan yang terjadi
sekitar 600 tahun lalu ternyata justru berulang lagi
di Indonesia tersayang ini.

Jika bangsa Eropa setelah Dark Age atau masa kegelapan
Eropa berhasil menemukan Renaissance-nya, lalu
kapankah Indonesia berhasil menemukan Renaissance-nya?
Mungkin inilah sebenarnya tugas semua
kalangan moderat dan pluralis. Untuk memberikan
pemahaman kepada masyarakat tentang hakikat dari agama
dan pengajaran iman. Bahwa semuanya jangalah dilihat
sebagai doktrin murni namun harus diselaraskan dengan
nilai kemanusiaan universal.

Akankah Renaissance Indonesia berawal dari sikap
kritis dan perjuangan para kaum moderat? Kita
tidak pernah tahu. Mungkin Renaissance itu tidak
pernah datang, mungkin datang besok, kita tidak pernah
tahu. Namun, saya yakin bahwa rekan-rekan yang
mencintai pluralisme akan tetap berusaha menghadirkan
pencerahan itu kedalam masyarakat Indonesia.

Salam Pluralisme,
Nathanael

This is my simple religion. There is no need for temples; no need for complicated philosophy. Our own brain, our own heart is our temple; the philosophy is kindness.
Dalai Lama