Pada suatu petang hari seorang anak dan bapaknya sedang nonton tv bersama-sama di ruang keluarga.  Karena sering muncul di berita TV wajah Presiden SBY sudah tidak asing lagi di memori penglihatan si anak. Apalagi kalau tv yang ditontonya berlambang elang yang sedang menegok ke arah kiri itu. Tiba-tiba si anak memecah keriuhan dari ocehan pembawa berita dengan bertanya kepada bapaknya.
"Pak, kenapa pipi pak presiden koq makin tembem aja?"
"Masak sih, bapak lihat biasa-biasa saja dengan pipinya." Kata bapaknya kalem sambil masih melototi layar tv. "Ah……,bapak engak pernah perhatiin pipinya kali." Tukas anaknya dengan rada kesel karena diacuhin.
"Benar. Malahan bapak melihatnya kebalikan darimu dia sedikit makin kurusan." Lanjutnya, "Mungkin mikirin rakyatnya yang semakin banyak
yang miskin dan sedang susah sehingga sampai mendatangi rumahnya hanya untuk minta-minta biaya sekolah buat anaknya." Terus sang bapak.
"Ketahuan nih……he…he…he…, bapak dulu nyoblos gambarnya kan?" Ledek anaknya sambil cengengesan.

"Iya, habis kelihatannya menyakinkan pangkatnya saja jendral
purnawirawan kehormatan apalagi ditambah gelar DR pertanian dari IPB
dengan hasil desertasi sangat memuaskan." Jawab bapaknya tidak mau
diledek.
"Makanya, bapak sih milih kulitnya aja engak isinya. Kata ibu sih
kalau milih itu bukan dilihat luarnya tapi dalamnya." Balas anaknya
sok nguruin.
"Wah……,kamu itu anak siapa sih suka nguruin orang tua?" Jawab
bapaknya sambil berakting memasang muka masam.
"Kan anak bapak. Iya kan bu?" Timpal anaknya sambil minta dukungan
ibunya yang baru membawa pisang goreng dari dapur ke ruang keluarga.
"Iyalah, memangnya anaknya siapa secerdasmu kalau bukan anaknya bapak
dan ibu." Sambung ibunya sambil mesem-mesem melihat anak dan bapak
yang sedang bercandaan itu.
"Bu." Celetuk si anak
"Iya, ada apa sayang?" Balas sang ibunya sambil duduk dan mengelus
kepala si anak.
"Ibu perhatiin kagak? Pipi pak presiden semakin temben aja yah."
Pertanyaan penasaran soal pipi itu dilontarkannya lagi.
"Hem……, ibu perhatikan memang semakin tembem seperti katamu." Jawab
sang ibunya sambil menyomot pisang goreng dari piring.
"Kan bener kataku pak." Katanya kepada bapaknya untuk menyakinkan
bahwa pendapatnya benar sebagaimana juga pendapat ibunya.
"Ibu kamu dulu pasti tidak nyoblos gambar SBY." Jawab ayahnya sambil
tertawa geli.
"Berarti ibu yang bener bapak salah. Milih itu jangan cuma dilihatin
luarnya aja." Tungkas si anak membela pilihan ibunya.
"Kalau begitu saya punya teka-teki buat Ibu sama Bapak. Siapa bisa
menjawab" Tantang anaknya.
"Apa teka-tekinya sayang?" Tanya sang ibu.
"Kenapa pipi pak presiden semakin tembem." Kata anaknya lagi.
"Lagi-lagi pipi tembem-pipi tembem." Protes sang ayah.
"Karena memamg dari sananya pipinya sudah tembem." Jawab sang ibu.
"Habis kalau pipinya tidak tembem bukan pak presiden" Jawab sang ayah
sekenanya.
"Salah semuanya." yang benar, "Pipi pak presiden tembem karena
kebanyakan minum minyak." Jawab si anak.
"Lha koq kebanyakan minum minyak?" Tanya sang ayah keheranan.
"Ada-ada saja sih kamu." Kata ibunya.
"Bagaimana tidak kebanyakan minum minyak. Coba lihat berita di tv-tv
orang pada ngeluh harga minyak naik sangat tinggi sekali. Dan kata
para pakar diatas ekspektasi." Lanjutnya,
"Ekonomi sudah berjalan di atas relnya dengan benar walaupun inflasi
diatas dua digit yang ditakuti oleh penasehatnya sendiri dengan perut
buncitnya si Syahrir itu." Terus,
"Gimana kabar si Syahrir melihat inflasi sudah tembus dua digit itu?
Tetap saja makin kaya raya dan makmur saja meski masih susah payah
untuk ngerakin perut buncitnya tersebut" Sedang,
"Presidenpun koceknya makin hari makin tebel saja hasil dari
keuntungan menaikan harga minyak diatas ubun-ubun sebagaian besar
rakyat miskin." Omelan si anak.
"Sudah……sudah makan tuh pisang gorengnya mumpung masih hangat." Sela
sang ibu
"Nanti kalau sudah besar jadi Presiden saja atau anggota DPR." Saran
sang ayah
"He….he…he…" Jawab si anak singkat.