Presiden Susilo Bambang Yudhoyono semestinya tidak perlu risau tentang kesiapan rakyat Indonesia menghadapi krisis ekonomi. Bagi banyak warga miskin, krisis ekonomi sudah lama mereka alami. Meski yang belakangan ini sangat menghunjam, pada akhirnya rakyat akan terbiasa lagi.

Bukankah seperti dikatakan sejumlah menteri, kesulitan hidup sekarang ini hanya "kontraksi ekonomi" belaka? {moscomment}

Pidato Presiden Yudhoyono di Jambi kemarin hanya menggarami luka saja, mengingatkan rakyat akan kesengsaraan yang sudah tidak mereka rasakan. "Saya minta masyarakat bersabar menghadapi krisis ekonomi, dan mari kita bersama-sama membangun ekonomi bangsa," kata Presiden.

Presiden sebenarnya juga tak perlu ragu tentang semangat solidaritas
di kalangan orang miskin. Banyak orang miskin rela membagi-bagikan
dana kompensasi yang hanya Rp 100 ribu per bulan kepada para
tetangganya, yang sama-sama miskin, tapi tidak terdaftar sebagai
penerima. Rp 100 ribu per bulan adalah jumlah yang sangat kecil,
kira-kira Rp 3.000 per hari, dan itupun masih rela mereka bagi. Betapa
tinggi solidaritas mereka.

Mereka juga akan bersabar menyaksikan para anggota DPR memperoleh
tambahan tunjangan Rp 10 juta setiap bulan atau setara yang diperoleh
100 keluarga miskin sekaligus. Mereka tahu mereka harus berkorban
untuk para pemimpin.

Mereka juga akan rela presiden dan wakilnya bisa lebih leluasa bekerja
dengan kenaikan anggaran hampir 60%. Mereka tidak akan keberatan jika
presiden bisa memiliki pesawat kepresidenan seperti "Air Force One"
milik Presiden George Bush di Amerika. Mereka rela berkorban agar
Presiden Indonesia bisa menunjukkan gengsi yang tinggi di kancah
internasional. Gengsi perlu dipamerkan, kemiskinan tidak.

Rakyat juga akan segera lupa kata-kata Anggito Abimanyu, seorang
pembantu menteri, yang mengatakan negeri kita banyak uang, cukup
banyak untuk sekadar membeli pesawat khusus. Harga pesawat tidak ada
artinya, sebab Indonesia, kata Anggito, bahkan tetap bisa setia
membayar utang luar negeri dan bunga obligasi rekap yang jumlahnya
tahun depan mencapai Rp 90 triliun.

Mereka akan segera lupa. Yang mereka ingat adalah kata-kata menteri
yang belum lama lalu mengatakan negeri ini akan bangkrut jika tidak
mencabut subsidi bahan bakar.

Mereka akan sabar. Jika marah, mereka paling-paling hanya menggerutu
seperti para demonstran di Yogyakarta, misalnya, yang kemarin
memplesetkan SBY menjadi "Sengsoro Banget, Yo" atau "Soyo Bubrah, Yo"….*

————————————————–
Note: Sengsara Banget, Ya… Semakin Bubrah, Ya…