Singgih Wibisono (BKKI Jakarta)-dikirmkn oleh mBah Soel
Pengantar
Kebudayaan Jawa tumbuh dan berkembang sejak terbentuknya masyarakat Jawa. Dari hasil penelitian prasejarah dapat diketahui bahwa masyarakat Jawa pada zaman batu baru telah mengenal kebudayaan yang tinggi. Dari benda-benda prasejarah yang diketemukan terbukti bahwa masyarakat Jawa telah mengembangkan budaya bercocok tanam dengan sistem irigasi. Organisasi sosial masyarakat di zaman itu juga sudah teratur.Pada zaman batu besar masyarakat Jawa juga telah mengenal sistem religi berupa pemujaan arwah leluhur. Terbukti dari banyaknya punden
berundak-undak dan peninggalan dolmen, kubur batu dan menhir yang diketemukan. Penemuan batu menhir membuktikan telah dikenalnya
upacara kesuburan yaitu memancangkan di tanah sebagai lambang kesatuan pria dan wanita. Upacara tersebut secara magis dianggapnya
dapat menyebabkan kesuburan tanah dan menghasilkan tanaman untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia (Heekeren, 1957)

Brandes bahkan mengemukakan teori bahwa manusia
Jawa pada zaman prasejarah telah mengenal
sepuluh unsur kebudayaan sebelum ada peresebaran
pengaruh kebudayaan luar ke Jawa. Kesepuluh
unsur itu adalah: pertanian beririgasi, batik,
pelayaran, metrum, perbintangan, pengecoran logam,
wayang, mata uang, gamelan, dan sistem pemerintahan
yang teratur (Brandes, 1889).

Masyarakat Jawa di zaman itu berpandangan kosmis
magis, artinya bahwa kehidupan manusia tidak
lepas dari kehidupan alam semesta, dan merupakan
jagad kecil (mikrokosmos) dan jagad besar
(makrokosmos). Di anatara keduanya terjalin
hubungan magis yang saling mempengaruhi.
Alam semesta tertata dan tersusun dalam
suatu sistem yang rapi. Masing-masing unsur
dari alam berada pada posisi dan fungsinya
dalam tatanan yang sangat tertib. Hukum
manusia mengacu kepada tatanan semesta
tersebut. Pelanggaran terhadap hukum yang
berlaku akan berakibat malapetaka yang
bisa membahayakan kehidupan manusia.
Pemujaan arwah leluhur berarti menjunjung
tinggi jasa leluhur yang telah menciptakan
adat istiadat sesuai dengan hukum alam
dan berlaku turun-temurun. Adat istiadat
dan upacara religius yang diwariskan
oleh para leluhur ditradisikan dengan
sebaik-baiknya agar hidup manusia bisa
selamat, terhindar dari malapetaka.
Melaksanakan tradisi berarti mematuhi
adat leluhur yang dianggap dapat menjamin
keselamatan hidup anak cucu dari generasi
ke generasi.

Kebudayaan masyarakat Jawa purba itulah
yang menjadi dasar kepribadian budaya Jawa
yang mempu menghadapi segala unsur kebudayaan
yang datang dari luar. Ketika kebudayaan
Hindu melanda kehidupan masyarakat Jawa,
dasar kebudayaan Jawa tidak hilang. tetapi
justru menyerapnya kemudian mengolah dan
merombak unsur-unsur kebudayaan Hindu sehingga
menjadi sesuai dengan kepribadian budaya
Jawa. Istilah local genious yang diperkenalkan
pertama kali oleh Quaritch Wales mengandung
pengertian kemampuan menyerap dan mengolah
pengaruh kebudayaan yang datang dari luar
masyarakat sehingga sesuai dengan watak dan
kebutuhan pribadinya. Kemampuan itu sekaligus
juga merupakan ketahanan budaya dalam
menghadapi ancaman budaya luar.

Berbagai unsur dari luar bila tidak cocok
ditolak, dan bila cocok lalu diserap,
diolah menjadi unsur baru, baik secara
faktual fisik maupun secara mental spiritual
dan dijadikan miliknya. Dalam Babad Tanah
Jawa dinyatakan bahwa raja-raja Jawa adalah
keturunan para dewa Hindu, tetapi juga
sekaligus ketrurunan para Nabi. Hal ini
menunjukkan betapa besar toleransi budaya
Jawa terhadap berbagai unsur kebudayaan
dari luar (Wales, 1948).

Budaya Jawa seperti kebudayaan bangsa lain,
tidaklah statis, tetapi selalu mengalami
perubahan dari masa ke masa, sejak zaman
prasejarah sampai masa kini dan nanti.
Budaya Jawa juga akan tetap hidup selama
masih ada masyarakat Jawa sebagai pendukung
dan pelakunya. Alam pikiran Jawa akan terus
mengalami perubahan dan perkembangan dari
masa ke masa sesuai dengan dinamika
kehidupan masyarakat Jawa.

Di masa lampau masyarakat Jawa menerima
berbagai pengaruh dari kebudayaan luar.
Namun sejarah telah membuktikan bahwa
local genious Jawa cukup kuat untuk
bertahan dan bahkan kebudayaan luar itu
luluh dan yang menonjol justru kepribadian
Jawanya. Beberapa ilustrasi dapat dipaparkan
dalam uraian berikut ini.

Pemujaan linggayoni yang dikenal dalam
agama Hindu sebagai perwujudan dewa Siwa
dan Durga tidak mungkin berkembang dalam
kehidupan Jawa apabila sebelumnya tidak
mengenal kebudayaan menhir. Jadi meskipun
tata-lahiriyahnya bercorak Hindu namun
intinya adalah kebudayaan Jawa. Siwa-Durga
di Jawa luluh sebagai mitos kesuburan
yang sudah dikenal sejak zaman prasejarah.
Linggayoni hanya merupakan bentuk transformasi
dari kebudayaan Jawa purba. Bentuk ungkapan
budaya bisa berubah tetapi inti dan esensinya
tetap pada kebudayaan yang lama.

Candi Borobudur yang berbentuk stupa dan
tidak ada kesamaannya dengan stupa di India
juga merupakan transformasi dari bentuk
pemujaan leluhur Jawa dengan punden berundak-
undak. Menurut Casparis sepuluh tingkat pada
candi Borobudur yang menepati sistem ajaran
agama Buddha dari tataran kejiwaan yang
paling rendah sampai mencapai tingkat
kesempurnaan jiwa yang juga mengandung
unsur pemujaan sepuluh raja-raja Syailendra
sebagai leluhur masyarakat Jawa pada zaman
itu (Casparis, 1950).

Sistem kerajaan India yang kemudia berkembang
menjadi kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa
juga tidak mungkin berkembang apabila
sebelumnya masyarakat Jawa tidak mengenal
sistem pemerintahan ytang teratur dengan
kepala suku sebagai pemimpin masyarakat.
Pola itulah yang menjadi dasar berdirinya
kerajaan di Jawa yang bercorak Hindu. Raja
dengan brahmana purohita di Jawa adalah
transformasi dari kepala suku dengan
syaman pada jaman prasejarah. Raja sebagai
pusat kosmos dan purohita berfungsi
sebagai penjaga keseimbangan kosmos.

Di India agama Siwa dan Agama Buddha
terpisah secara tegas dengan ajarannya
masing-masing serta penganut yang berbeda.
Di Jawa yang dilendasi oleh kepercayaan
terhadap Penguasa Alam Semesta yang Maha
Tunggal sejak zaman purba memungkinkan
perpaduan antara Siwa dan Buddha. Di Jawa
agama Siwa dan Buddha luluh dan berbaur
dalam kehidupan religi masyarakat Jawa.
Bahkan Kertanegara,. raja Singhasari
memakai gelar Batara Siwa-Buddha.

Pada zaman itu sudah ada pandangan religi
bahwa semua gama hakekatnya sama dan
tertuju pada satu kekuasaan supranatural
yang tunggal dan absolut. Pujangga kerajaan
Majapahit, mPu Tantular dalam karyanya
Kakawin Sutasoma juga mengungkapkan bahwa
agama Siwa dan Buddha itu pada hakekatnya
sama. Hal ini dinyatakan dengan ungkapan
`Bhineka tunggal ika, tan hana dharma
mangrwa’ yang berarti `berbeda-beda itu
namun memiliki hakekat yang sama, tidak
ada agama yang mendua’. Ungkapan mPu
Tantular itu kemudian menjadi slogan resmi
negara dengan makna yang diterapkan pada
perbedaan suku bangsa di Indonesia, namun
semuanya merupakan satu bangsa dalam negara
kesatuan Republik Indonesia. Ungkapan mPu
Tantular itu juga mengandung sikap toleransi
yangs angat menonjol, disertai harapan agar
umat kedua agama itu tidak saling bermusuhan
dan bahkan menjalin kerukunan masyarakat
kerajaan Majapahit.

 

Unsur budaya asli Jawa juga tampak pada
kebudayaan wayang. Meskipun sumbernya
dari Ramayana dan Mahabharata India,
namun setelah digubah menjadi lakon
wayang maka menjadi jauh menyimpang
dari sumbernya. Kreativitas dalang
dalam menyanggit lakon menunjukkan
betapa kuatnya local genious budaya
Jawa terhadap budaya Hindu.

Seni pertunjukkan wayang yang diperge-
larkan oleh dalang yang mumpuni bisa
mempesona penontonnya. Karena itu wayang
seringdigunakan sebagai sarana untuk
pencerahan jiwa dengan menampilkan lakon-
lakon tertentu. Seni pertunjukan wayang
selain menampilkan nilai estetis dalam
berbagai aspeknya juga diharapkan dapat
mengungkapkan pesan-pesan moral yang
dapat meningkatkan harkat dan martabat
manusia Jawa sesuai dengan sistem budaya
yang menjadi acuan hidup (Mahabarata
India: Poerbacaraka, 1968).

Pada masa penyebaran Islam di Jawa juga
terbukti dengan adanya mitos tentang
Sunan Kalijaga yang menyebarkan agama
Islam dengan sarana pertunjukan wayang
juga mengandung nilai budaya Jawa yang
hakiki. Adat istiadat Jawa yang sudah
dihayati masyarakat berabad-abad lamanya
dan sudah terbukti bisa mengikat rasa
persaudaraan antar warga dan golonga
masyarakat tidak perlu dihilangkan
denganhadirnya agama Islam dalam kehidupan
masyarakat. Bahkan nilai-nilai budaya
yang terungkap dalam adat istiadat
diinterpretasikan sesuai dengan ajaran
agama dan diaktualisasikan dalam kehidupan
nyata. Maka lahirlah sebutan Islam-Kejawen.
Para pemeluknya hidup sebagai umat Islam
namun tetap menjunjung tinggi adat
istiadat dan nilai-nilai budaya spiritual
Jawa yang tidak bertentangan dengan ajaran
Islam.

Adat istiadat Jawa bila dikaji dengan seksama
juga sarat dengan unsur-unsur kepercayaan kepada
Tuhan Yang Maha Esa, bagi orang Jawa, baik yang
beragama Islam, Kristen, maupun agama-agama
lainnya. Perbedaan kepercayaan itu tidak merenggangkan
ikatan budayanya antara sesama
orang Jawa. Dalam kegiatan adat upacara
tradisional mereka bersama-sama bekerja
secara gotong-royong.

Sikap toleransi juga mengembangkan rasa simpati
terhadap sesamanya, dan menghindari timbulnya
konflik antar sesama, menjaga kerukunan dalam
hidup bermasyarakat. Dalam lingkungan budaya
Jawa nilai kerukunan merupakan salah satu nilai
budaya yang tertinggi. Dengan kerukunan itulah
suasana hidup bisa diciptakan dengan penuh rasa
kedamaian, tenteram dan bahagia.

Tujuan hidup orang Jawa yang utama adalah bisa
hidup tenteram dan damai. Cita-cita atau
idaman hidup tersebut bukan saja terbatas di
lingkungan masyarakat Jawa, tetapi sedapat
mungkin dikembangkan bagi kesejahteraan lahir
batin seluruh manusia di dunia.Ungkapan Jawa
“Memayu Hayuning Bawana” merupakan cita-cita
kedamaian bagi seluruh manusia di muka bumi.
Dalam hubungan bisnis pun nilai kerukunan
lebih diutamakan daripada keuntungan material.
Ungkapan Jawa “Tuna sathak bathi sanak”
mengandngnilai persaudaraan diatas nilai
material.

Pada jaman kolonial Belanda, raja-raja Jawa
kehiangan kekuasaan politiknya. Untuk
mempertahankankewubawaan raja maka dipusatkan
perhatian di bidang seni budaya. Para pujangga
dan empu kraton ditugaskan untuk menciptakan
karya seni yang seindah-indhnya. Ternyata
sikap tersebut memang daat berhasil menjaga kewibawaan
dankeagungan kerajaan dan kraton
menjadi pusat kebudayaan Jawa. Bagi para
pujangga karya seni bukan saja sebagai
tujuan berkarya tetap lebih dalam maknanya
ialah bahwa selama berkarya itu tak ubahnya
sebagai sikap yoga samadi untuk mendekatkan
jiwanya dengan Sang Maha Pencipta. Dengan
sikap jiwa sepertiitu karya seni yang
dihasilkan bukan saja indah bagi pengamatan
indera tetapi juga mencerahkan jiwa bagi
yang menikmatinya. Karya para pujangga dan
para empu itu meliputi seni sastra, seni
tari, seni karawitan, seni drama, seni
kariya dan lain-lain yang kemudian dikenal
sebagai seni klasik. Masa itupund apat
disebut sebagai masa renaissance budaya
Jawa. Di bidang seni sastra masa itu
disebut sebagai “jaman kapujanggan”.

Masyarakat Jawa yang akarab dengan dunia
wayang menganggap bawa tokoh-tokoh wayang
yang ditampilkan merupakan perwujudan dari
para leluhur. Pergelaran lakon-laon wayang
mengungkapkan sistem nilai yang berlaku
dalam kehidupan masyarakat Jawa sehingga
menyebabkan wayang bisa bertahan hidup
dari dulu sampai sekarang. Local genious
yang dimiliki masyarakat Jawa mampu mengolah
pertunjukan wayang yang sarat dengan pengaruh
dan unsur-unsur kebudayaan Hindu namun hasil
pengolahan baru itu tidak bertentangan dengan
ajaran agama Islam. Bahkan banyak ajaran
Islam yang digubahbaru sebagai lakon wayang
dan sangat digemari oleh masyarakat, misalnya
Dewa Ruci.

Tokoh Semar dan panakawan merupakan unsur
asli budaya Jawa. Semar dikenal sebagai
penjelmaan dewa Ismaya dan berfungsi sebagai
abdi satria dan sekaligus menjadi pamong
dan penasihatnya. Semar memiliki kesempurnaan
jiwa namun secara lahiriah serba cacat.
Dalam budaya Jawa kesempurnaan jiwa lebih
diutaakan daripada keindahan lahiriah.
Konsep ini juga terungkap dalam kitab mistik Gatholoco
dan Darmagandul. Kedua tokoh
tersebut meskipun memiliki wujud lahiriah
sangat jelek dan serba cacat, tetapi
kejiwaannya dilukiskan lebih tingggi
tataranya jika dibandingkan dengan santri
Islam yang hanya mengutamakan syariah namun
tidak tahu akan hakekat hidup beragama
serta makna hakiki dari ketaqwaan dan
keimanan terhadap Tuhan (Akkeren, 1951).

Local genious budaya Jawa itu terus tumbuh
danberkembang dan diungkapkan dalam orientasi,
persepsi, sikap dan cara hidup yang sesuai
dan mampu mendukung proses modernisai. Adat
istiadat tradisional Jawa yang meliputi adat
upacara kelahiran, perkawinan, selamatan
berbagai peristiwa, ruwatan dari masyarakat
desa yangterpencil sekalpun sampai pada
masyarakat kota yang sudah mengenyam kehidupan
moderen sekalipun.

Koentjaraningrat menguraikan bahwa menurut
pandangan orang Jawa sendiri, kebudayaannya
tidak merupakan suatu kesatuan yang homogen.
Keanekaragaman regional kebudayaan Jawa tampak
pada unsur-unsur adat upacara, kesenian,
kehidupan beragama dan lain-lain. Ada kebudayaan
Jawa yang berakar di keraton, di pedesaan
dengan budaya masyarakat petani, di kota-kota
panyai utara pulau Jawa berkambang kebudayaan
pesisir, di daerah Jawa Timur kebudayaan Jawa
diwarnai dengan kebudayaan Madura. Ada lagi
orang Jawa yang memiliki logat dan peradaban
khas yaitu orang Tengger, orang Osing di
Banyuwangi dan orang Blambangandi ujung Timur
pulau Jawa. Bahkan di Srilanka, Suriname,
Kaledonia, Afrika Selatan terdapat masyarakat
jawa yang masih melestarikan budaya nenek
moyangnya di Jawa (Koentjaraningrat, 1984).
Keanekaragaman kebudayaan Jawa tersebut jika
dikaji secara seksama tetap memperlihakan
identitas kebudayaan Jawa yangtumbuh dan
berkembang dalam kehidupan suku bangsa
Jawa yang tersebar di mana-mana. Betapa
heterogennya masyarakat Jawa namun mereka
tetap beridentitas sebagai oran Jawa dan
menjadi pendukung kebudayaan Jawa dengan
local genious budaya Jawa sebagai esensinya.

Sebelum terbentuk negara kesatuan kebudayaan
yang ada di Indonesia adalah kebudayaan
etnis di daerah-daerah yangsangat beranekaragam.
Kebudayaan Jawa sebagai salah satu budaya etnis
tumbuh dan berkembang sebagai dunia yang utuh
bulat dan lengkap degan sistem budayanya sendiri.
Pandangan hidup, adat istiadat, bahasa,
kesenian dan unsur-unsur kebudayaan yang
lain mempunyai ciri khas budaya Jawa.
Semua yang dipaparkan dia tas merupakan
penyelisikan untuk memberikan gambaran
sekilas mengenai budaya Jawa di masa
lampau, terutama untuk mengenali ketahanan
jatidirinya dalam menghadapi budaya luar.

Setelah terbentuk negara kesatuan Republik
Indonesia orientasi kebudayaan daerah terarah
pada kebudayaan nasional dengan semangat
kebangsan Indonesia. Budaya daerah dibina
dan dikembangkan untuk menjadi penunjang
terwujudnya kebudayaan nasional. Bahasa
Indonesia menjadi bahasa resmi negara dan
digunakan sebagai alat komunikasi antar
warga. Lambat laun pemakaian bahasa daerah
terdesak oleh bahasa nasional. Daya kekuatan
bahasa daerah sebagai penopang hidupnya
kebudayaan daerah menjadi memudar.