Mungkin ini slogan yang tepat saat ini. Sudah cukup kelas menengah  dan mahasiswa mengungkapkan kemarahan dan kekecewaan. Sudah tak bisa  lagi bersedih, menyaksikan ibu Waginem dan pak Kardiman mati  mendadak karena antri kompensasi BBM langsung tunai. Tak perlu lagi dendam karena menyaksikan ibu janda Daliyem di Yogyakarta bunuh diri terjun ke sungai krn tidak mendapat kartu yg sama yg menjadi haknya.  Cukup perih hati ini menyaksikan ratusan, ribuan sesama saudara-i
kita antri berdesak-desak untuk 300 ribu rupiah. Sementara biarlah  yang aktif di LSM, dan media mengatasi dan berjuang di perpolitikan  tingkat atas. Sesuai dengan himbauan bung van Helsing, para anggota  apakabar mari lihat kembali bela rasa kita. Kongkrit di lapangan. Bangkit, bergerak, menyongsong si miskin dan duafa!{moscomment}
Kegiatan bersama ini pasti akan menjembatani konflik antar agama,  sipil-militer, yang korupsi maupun tidak. Yang fundamentalis –
radikal – moderat maupun yang tak percaya Tuhan. Mari kita buka  sekat-sekat kelompok kita. Bergerak bersama mengatasi kemiskinan  yang tiada tara di sekeliling kita. Berbela rasa menemui yang berduka.

Lalu apa yang saat ini bisa kita buat bersama? Lewat BSA – Pak Sur dan teman-teman di Jakarta, Bogor dan sekitarnya  apa yang bisa dilakukan? Yang bergerak di lingkungan mahasiswa – apa ide anda? Tidak bisakah  rekan-rekan muda di NU mengajak rekan-rekan muda-i paroki dari  berbagai gereja katolik, dan gereja-gereja kristen? Atau sebaliknya.  Duduk bersama sambil buka puasa melakukan sesuatu yang berguna? Yang menjadi da’i, pendeta, pastor, pedanda, maupun empu2 kebatinan – bagaimana bisa bergerak bersama? Pasti lebih mudah lagi para pengusaha muda dan tua.

Dengan semangat Apakabar mari bangkit bersama atasi kemiskinan dan  kekacauan negeri kita.Yang berpuasa,mungkin ini saatnya merenungkan dimensi sosial puasa. Kalau bisa indah bukan? Kali ini pendek saja dan menunggu berbagai reaksi, komen, tanggapan
anda.

Salam van Helsing dan salam kerjasama:
*** teewoel