Perda Puasa yang melarang warung-warung buka sudah memakan cukup korban. Dari Padang, Cianjur, Banjarmasin, Solo, Jakarta dan entah mana lagi. Mungkin alasan Perda ini dimaksudkan untuk mencetak dengan cara paksa agar warganya harus bisa menjadi suci, takwa. Penangkapan, operasi dan sanksi dilakukan oleh aparat negara dan pengadilan. Ini pasti ajaran agama yang sangat aneh, atau aturan hukum yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin bisa mencetak atau memaksa seseorang menjadi suci? Bukankah kesucian seperti kebajikan dan kebaikan hati lainnya, harus selalu muncul dari dalam. Dari kesadaran bebas pribadi? Jalannya secara eksternal melalui persuasi, dengan himbauan, penyadaran, pelajaran. Tak ada rumusnya latihan menahan nafsu dilakukan dengan cara menghilangkan semua rintangan dan tantangan. {moscomment}
Namun barangkali ide atau filsafat dasarnya demikian: menurut sang pembuat aturan tersebut manusia diibaratkan bahan mentah suatu produk. Setelah dicuci bersih otaknya kemudian dimasukkan dalam mesin cetak. Pabrik pembuat produk itu bernama agama atau DPRD. Keluar dari pabrik diharapkan produk-produk yg manusia itu akan diberi cap dan bandrol: saleh dan suci. Atau bisa jadi idenya dari kalangan militer. Kota diibaratkan tangsi, dan semua warganegara adalah calon serdadu resmi. Istilahnya, mesti digembleng dengan disiplin. Tapi tentara bukan agama. Dan pendidikan yang terpenting dari tentara adalah membela negara dengan senjata. Oleh karena itu dilatih juga membunuh musuh. Nah apapun latar belakang filsafat dibalik Perda itu, jangan-jangan Perda puasa tersebut akhirnya menghasilkan robot-robot yang bentuknya saja seperti manusia. Kalau tidak jadi pribadi yg terpecah, yg sering diistilahkan sebagai munafikun, atau farisi. Bisa jadi para warga, apalagi yang tidak seagama, misuh-misuh, mengumpat-umpat. Akibanyat justru tujuan Perda utk menghasilkan manusia yg suci dan baik hati, berbalik menjadi tercetaknya manusia-manusia yang marah dan benci pada agama polisi dan DPRD. Apalagi bisa diduga anggota-anggota DPRD dan aparat sang pembuat Perda itu terlibat korupsi. Tak bisa disangkal krn memang Indonesia sudah dinyatakan secara sah sebagai negara terkorup di dunia nomor 6. Jadi sebenarnya yang lebih tepat harus dibuat adalah Perda anti korupsi dari aparat dan pejabat. Dan pada bulan puasa, rakyat bisa memeriksa buku tabungan dan harta kekayaan mereka. Hasil nyopet, maling atau korupsi. Kalau begini malah bisa menjadikan umatnya menjadi betul suci, barangkali.

Kasus perusakan beratus botol minuman keras dari salah satu rumah makan di Solo misalnya, pasti telah merugikan jutaan rupiah. Dalam kasus persidangan seharusnya sang perusak tidak hanya harus dihukum kurungan, tapi juga wajib memberi ganti rugi pada pemilik restoran yang dirugikan. Lain lagi ceritanya di Kalijodo Jakarta. Kita semua pasti tahu bahwa Kalijodo itu kompleks pelacuran. Nampaknya FPI mendapat perlawanan tangguh dari FPPI (Front Pembela Pelacur Indonesia, atau boleh juga Front Pembela Pepek Indah hehehe…). Layaknya sesama preman, pasti tahu sama tahu kapan dan bagaimana perilaku sesama golongan. Jadi centeng-centeng Kalijodo sudah siap dengan segala perlengkapan tersimpan. Begitu FPI datang bak polisi agama, para centeng Front Pembela Pepek Indah itu sudah siap. Dan berhamburanlah batu-batu serta pukulan. Gerombolan preman berjubah, kaget, terkesima, tak menyangka. Perlawanan tersengit justru datang dari para pelindung bisnis paling nista menurut mereka. Terpaksa preman FPI lari terbirit-birit. Sambil mungkin heran dan pasti dendam:"Bagaimana mungkin Alloh kami yg perkasa bisa dikalahkan. Apa agama mereka sebenarnya?" – Belum habis preman berjubah FPI garuk kepala mereka yg benjut, terdengar lamat-lamat teriakan: "Makan tuh batu-batu. Apa loe kira orang hidup dari makan Kitab Suci agamamu saja. Mending kami masih kerja meski dgn langganan pemakan memek. Daripada elo sok suci tapi datang kesini sembunyi-sembunyi. Dasar pelacur agama." Hehehe… sesama geng underground masih bisa saling mengolok sebagai pelacur.

Lalu apa hubungannya Perda puasa – Partai/Ormas Syariah dengan Separatisme?

Tak banyak yang sadar dan percaya. Dengan diberlakukannya peraturan agama yg bersifat paksa maka sudah diclaim atau nyatakan bhw suatu wilayah tertentu adalah wilayah Islamic State. Setiap warganegara negara di daerah state kecil itu dengan Perda itu tidak lagi punya hak sama. Si kristen, budha, hindu atau tak beragama, adalah warganegara kelas dua. Yang harus taat hukum-hukum dari warga kelas satu. Tidak boleh lain. Apalagi mempunyai gaya hidup berbeda. Akhirnya pelan-pelan pasti kesana.

Jadi sebenarnya seperti FPI, Agap, BAP, MMI, Geng sukses Syariah seJabodetabek dan mungkin PKS juga, dari ilmu militer bisa digolongkan sebagai kelompok subversif. Sama saja dengan kelompok separatis Papua, hanya potongannya dan jahitannya berbeda. Tapi sosoknya sama. Yang satu bertujuan negara merdeka, yang lain terwujudnya negara yang berbeda. Mengapa? Karena PKS misalnya melakukan berbagai usaha pengubahan ideologi negara dengan jalan damai. Dari Ideologi negara Sekular, Pancasila menjadi Ideologi Islam, Syariah. Secara tidak langsung didukung oleh FPI, Agap, BAP, dan kelompok garis keras lainnya yang bertujuannya sama. Hanya metode dan cara berbeda. Ada non violence, soft violence dan hardcore violence. Namun bukankah nanti akhirnya muaranya sama? Islamic State dan Syariah sebagai UUD dan UU lainnya? Padahal Indonesia jelas-jelas dari jaman sebelum Majapahit sudah menekankan Bhineka Tunggal Ika sebagai way of life mereka. Mungkin hanya di Indonesia selain Amerika, yang hampir semua agama ada. Bagaimana mungkin harus dimasukkan di dalam satu kotak saja?

Maka tidak heran HNW pagi-pagi setelah bom Bali II meledak, sudah ber-teriak-teriak pelakunya Ateis. Bukan karena dia tidak tahu siapa kemungkinan pelakunya, atau dari aliran Islam jenis mana. Namun HNW sadar bahwa BBII akan sangat merugikan perjuangan politiknya. Dan buntutnya, wibawa dan kedudukan politiknya sekarang atau kelak pada masa depan. Masyarakat akan syirik pada kemungkinan diubahnya ideologi negara menjadi Islamic State kalau ketahuan kemungkinan pelakunya adalah Toifah Muqatilah atau laskar Kos – Jamaah Islamiyah. Istilah kerennya, sesama pengendara tidak boleh saling mendahului. Pembom BBII sudah mendahului PKS, melalui pertunjukkan pornoaksi terang-terangan yang bernama super sadisme triple X, sebagai media kampanye. Subversi-pun rupanya harus terkoordinasi.

Sekali lagi refleksi ini mungkin agak gross, berlebihan. Nah kalau tidak setuju, kini giliran anda menyanggahnya. Siapa tahu lalu terjadi pencerahan atau pembelajaran.

Salam puasa tanpa paksa:
*** teewoel