Yth. Apakabarians,

Menyaksikan suasana bulan puasa di Malaysia, khususnya di jantung kota Kuala Lumpur (KL), saya menjadi kagum akan kebebasan warga Malaysia dalam melakukan aktivitas malamnya masing-masing. Hiburan malam mulai dari live band, karaoke, sampai praktik prostitusi, bebas menghirup udara segar di KL. Tidak ada himbauan untuk tutup lebih awal bagi tempat-tempat hiburan. Tidak ada kegiatan hiburan malam berhenti atas anjuran atau paksaan pihak-pihak tertentu dalam rangka menghormati bulan puasa. Lain halnya dengan Republik Indonesia: di sini "sterilisasi" terhadap hal-hal yang berbau "haram" dan "maksiat" dilakukan secara rutin dan intens di bulan puasa. Sesudah bulan suci ini lewat, bisnis kembali seperti biasa: segala bentuk apa yang dinamakan "kemaksiatan" kembali beroperasi dengan bebas. Malaysia tidak merasa perlu bermuka dua, berhipokrisi, seperti RI. Tidak mentang-mentang mayoritas warga Malaysia adalah Muslim, lantas hanya pada bulan puasa saja kegiatan sterilisasi dijalankan. Mereka sadar bahwa kegiatan dan bisnis hiburan malam merupakan bagian yang menggerakan roda ekonomi negara dan maka dari itu tidak ada alasan untuk menyetop kegiatan tersebut hanya pas di bulan puasa saja, dan kemudian membiarkannya beroperasi kembali selepas puasa. {moscomment}

Dalam alam demokrasi di mana setiap orang punya kebebasan dan hak untuk menekuni aktivitas dan mata pencahariannya tanpa mengganggu atau merugikan pihak lain, muka-ganda atau hiprokrisi seperti yang terjadi di RI tidak perlu dipraktikkan. Puasa, ya puasa. Silahkan bagi mereka yang menjalankannya untuk melakukannya secara khusyuk tanpa harus menyeret atau memaksa orang lain (yang tidak seagama) untuk ikut "menghormatinya" dengan mengerem atau menghentikan aktivitas sehari-hari atau kegiatan bisnis mereka lantaran tidak sesuai dengan kaidah-kaidah ajaran Islam. Warga Muslim Malaysia sadar betul arti kehidupan bermasyarakat secara majemuk. Sebab itu, meskipun mereka merupakan mayoritas, mereka tidak merasa perlu untuk menunjukkan "show of power", seperti yang terjadi di Indonesia, guna mempertontonkan kekuatan mayoritas mereka tersebut. Dalam alam demokrasi di mana setiap orang punya kebebasan dan hak untuk menekuni aktivitas dan mata pencahariannya tanpa mengganggu atau merugikan pihak lain, muka-ganda atau hiprokrisi seperti yang terjadi di RI tidak perlu dipraktikkan. Puasa, ya puasa. Silahkan bagi mereka yang menjalankannya untuk melakukannya secara khusyuk tanpa harus menyeret atau memaksa orang lain (yang tidak seagama) untuk ikut "menghormatinya" dengan mengerem atau menghentikan aktivitas sehari-hari atau kegiatan bisnis mereka lantaran tidak sesuai dengan kaidah-kaidah ajaran Islam. Warga Muslim Malaysia sadar betul arti kehidupan bermasyarakat secara majemuk. Sebab itu, meskipun mereka merupakan mayoritas, mereka tidak merasa perlu untuk menunjukkan "show of power", seperti yang terjadi di Indonesia, guna mempertontonkan kekuatan mayoritas mereka tersebut.

Toleransi yang bersumber dari ketercerahan mental semacam ini perlu ditiru oleh umat Muslim di RI jika mereka ingin tetap bisa bergaul dalam komunitas masyarakat majemuk dalam tingkat global. Semakin besar keinginan RI untuk mengundang investor asing datang ke tanahnya, semakin tinggi pula toleransi dan ketercerahan mental yang harus ditunjukkan sehingga para investor dan tamu asing yang berkunjung merasa nyaman dan tidak terancam selama tinggal di Indonesia. Ini hanya bisa ditunjukkan, salah satunya, dengan menekan erat-erat segala bentuk primordialisme agama yang hendak dipaksakan kepada orang lain, yang mana pemaksaan ini hanya akan memperpuruk citra bangsa RI sendiri dengan fakta kemayoritasan umat Muslimnya. Masak mentang-mentang mayoritas harus pakai show of force (power) segala? Seolah-olah tidak ada rasa pede dalam kekuatan mayoritas tersebut.

Toleransi beragama juga meliputi tidak mengganggu umat beragama lain dengan segala bentuk kegiatan beragama kita. Tentunya kegiatan sembahyang di mesjid dengan menggunakan speaker supaya bisa didengar oleh orang sekampung merupakan sesuatu yang bisa sangat mengganggu bagi orang lain, khususnya, misalnya, bagi mereka yang sedang tidur, sakit, dlsb. Apa perlunya mengumandangkan sembahyang dengan volume yang begitu keras sehingga hampir semua orang harus merasa terganggu karena kerasnya suara? Apakah Allah umat Muslim kurang/tidak bisa mendengar doa umatNya sehingga setiap kali harus dikumandangkan sedemikian lantang dan memekikkan telinga? Menarik sekali untuk kembali belajar dari umat Muslim di Malaysia. Di sana meskipun terdapat mesjid-mesjid, saya tidak pernah mendengar suara sembahyang dikumandangkan memakai speaker sehingga harus terdengar ke mana- mana. Saya rasa umat Muslim Malaysia sadar betul: doa/sembahyang yang benar di hadapan Allah bukan diukur dari seberapa besar atau tinggi desibel yang bisa dikeluarkan oleh si pendoa lewat speaker mesjidnya. Tetapi, doa yang benar di hadapanNya berpusat pada bagaimana sikap dan hati si pendoa dengan Allahnya. Bukan lagi ritualisme eksternal penuh show-off yang ditunjukkan, melainkan spiritualitas yang membatin, yang tidak merasa perlu berjalan petantang-petenteng mempertontonkan segala jubah, kebesaran, dan ritus agama seseorang. Inilah esensi beragama sesungguhnya yang harus dipelajari oleh umat beragama, khususnya umat Muslim, di RI.

Hormat saya,

Longdong