Setiap hari, entah itu bulan ramadhan maupun bukan, Bapak Hafidh yang dulu pernah kontrak di rumahku, selalu berbaik hati membangunkan jamaah untuk Shalat Subuh berjamaah di Mushala Nurul Iman. Sesekali beliau bertandang ke rumahku dan sangat antusias seta bangganya ketika aku mencium tangannya, "Wadhuuuuh…. alhamdulillah, saya mendapat ciuman tangan dari Nak Soeloyo… hehehehe…." begitu katanya. Sesekali pula beliau menyatakan: "Maaf ya Nak Soel, bila setiap pagi Kakek membangunkan lewat loudspeaker Mushala. Tidak terganggu kan?" Dalam hati sih bilang [ya kadang-kadang ngeganggu atuh Pak… sepulang kerja ditambah lembur ngerjain tugas kantor sampai jam 1 malam, jam 4 pagi sudah dibangunin…], tetapi tetap saja aku katakan terimakasih, telah dibangunkan. Terutama anak-anak yang ke sekolah pagi-pagi, tak perlu aku bangunkan sudah terbangun. Nah, dalam acara pembangunan umat itu ; Bapak Hafid menyatakan demikian: "Alangkah baiknya jika kita shalat berjamaah di mushala, karena shalat berjamaah, lebih utama daripada shalat sendirian…" Nah ini yang menggelitik saya. Karena dalam suatu kelompok, sering rasionalitas pribadi hilang, menjadi rasionalias kelompok.{moscomment}Nah jika kepala kelompoknya nggak benar, maka rasionalitasnya jadi ndak bener pulak. Dan modus operandi rasionalitas kelompok ini rupanya marak kemana- mana. Tak hanya di kegiatan agama, bahkan dalam parlemen, kabinet (yang menteri-menterinya lebih mengutamakan partai daripada kompetensi…;-p) hingga demo-demo mahasiswa yang berakhir seru, demo penuntutan eksekusi terpidana BB-I juga dengan proses seperti ini.

 Provokator rupanya selalu berhasil merasionalisasikan pandangan irasionalnya dalam wujud gerakan massa dan ge- rakan kelompok. Dalam pada itu saya sering mengajukan kritik kepada Bapak Hafid: "Pak Hafid, bagus memang shalat berjamaah, apalagi yang jadi Imam Bapak sendiri. Tetapi kalau yang jadi imamnya imam samudera… hahaha, bisa berabe atuh. Makanya saya memutuskan shalatnya dilanggaaaaar terus. Terutama jamaahnya.

Saya ingin membuat rumah sayalah tempat saya bermunajat, berdoa dan bermohon kepada Yang Kuasa. Sehingga rumah saya memperoleh keberkatan. Makin banyak tetamu yang ke rumah saya, rasanya makin bagus. Apalagi bila terlontar celetuk tetamu: ‘Heran rumah mBah Soel ini kok aneh, ya? Teduh gitu lho, nggak seperti rumah si Badu, si Fulan dan lain-lain itu…’ gitu lho Pak Hafid. Dengan begitu, maka tak akan ada lagi protes- protes terkait dengan rumah-rumah ibadah, bukan. Baik yang Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, kebatinan maupun yang lain-lain, telah memiliki tempat beribadat sendiri-sendiri. Seperti firman Yang Maha Kuasa yang dimuat dalam QS al-Hajj (ayat berapa ya? lupa aku) yang kira-kira maknanya sebagai berikut: Setiap ummat telah Kami sediakan tempatnya masing-masing untuk mengingat Tuhannya… Yang aku peroleh dari bukunya Ahmadiyah. Dan sayangnya dari versi lain ditafsirkan sebagai berikut: "Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus." Nah bingung kan? Gara-gara ada bahasa Kahiyangan, dan bahasa awam…;-p. Tetapi intinya bahwa janganlah sekali-kali membantah kamu dalam urusan ini dan serulah kepada Tuhanmu (kok ya tega-teganya di dalam kurung diberi AGAMA itu lho yang bikin kaco balio). Dengan cara apapun, yang jelas tidak dengan cara menghasut, menyebar kebencian, permusuhan sehingga saling bakar dan saling tutup rumah ibadah, bukan? Gitu, gimana? —

mBah SoeL–