Sudah dua hari aku mengunjungi kantor imigrasi untuk mengganti passport yang halamannya udah penuh. Beberapa kali ganti passport aku terbiasa datang hanya untuk photo saja, setelah photo dalam hitungan jam passport sudah siap digunakan, urusannya hanya sehari doang.
Setiap kali datang ke imigrasi (mana saja) di Jakarta/Tangerang, kantor imigrasi itu selalu penuh dengan orang yang memohonkan passport, kantor }imigrasi itu seperti pasar. Selama ini aku tidak terlalu mengamati tingkah polah orang di sana karena selalu buru-buru, jam photo sudah ditentukan, setelah itu buru-buru pulang. Nah sekarang aku memang lagi ada waktu untuk menikmati hidup apa adanya.

Hari Selasa, aku datang mengisi formulir, anehnya formulir isian permohonan paspor ternyata harganya berlain-lainan. Di Imigrasi Tangerang harganya Rp15,000 (entah termasuk materai atau tidak, aku lupa…) di Imigrasi Jakarta Barat harganya cuma Rp5 rebu doang, gak ada materai-materaian. Mapnya sama warnanya kuning:-) {moscomment}

Tiga bulan lalu adik saya mengganti passport di Imigrasi Tangerang, satu hari jadi harganya 650,000. Terpaksa pake jalur toll karena memang waktunya super mepet.

Petugas imigrasi ada yang ramah menjawab pertanyaan ada pula yang ogah-ogahan. Karena aku belum pernah ngurus paspor sendiri, terpaksa banyak bertanya. Tidak cukup hanya menghadap loket yang tersedia, tapi juga harus menghadap sana sini, turun naik minta persetujuan ini dan itu kepada kepala bagian. Untung Oom Sobron tidak ngurus paspor-nya di Imigrasi Jakarta Barat, kalau tidak, duh…beliau harus rela turun naik tangga:-)

Di kantor imigrasi ini banyak baby sitter memberi makan anak-anak asuhannya, banyak ibu-ibu yang tampil seperti sedang menghadiri fashion show, banyak calo berseliweran yang telah membuat kantor imigrasi seperti rumah keduanya. Ada pula yang sarat dengan bawaan, kelihatan seperti agen pengurusan dokumen imigrasi tetapi juga buntelannya cukup besar, agaknya juga dia sambil jualan baju atau sepatu, aku melihatnya mengeluarkan kotak sepatu untuk ditunjukkan kepada yang ingin melihat. Jadinya tembok di belakang kursi tunggu itu penuh barang-barang, dari botol minuman, tas kantong hingga buntelan.

Hari pertama, aku tidak menunggu terlalu lama, tetapi pada hari Jumat (waktu yang dijadwalkan untuk photo) aku menunggu sangat lama. Hadir di sana pukul 11, baru dipanggil bayar pukul 2 lewat, lalu photo hampir pukul 3.

Dari hari pertama mengisi formulir, aku sudah didatangi beberapa orang yang memberikan bimbingan mengisi formulir…mereka orang-orang baik, sayangnya aku tidak membutuhkan jasa mereka saat ini untuk layanan kilat pengurusan passport.
Banyaknya agen pengurus passport tidak mengherankan aku karena sudah terbiasa bertemu rekan mereka seprofesi di kantor untuk urusan formalitas tenaga kerja asing, tapi gulunga-gulungan uang di tangan mereka membuat aku berpikir berapa puluh juta uang dalam sehari berputar di kantor imigrasi ini, jangan-jangan hampir sama dengan Glodok, he..he….

Ngerumpi sambil menunggu memang adalah pekerjaan yang sangat mengasikkan. Dari hasil ngobrol sana sini, aku dapat informasi pengurusan passport selesai sehari membutuhkan 400,000 sampai 500,000 rebu rupiah, jauh lebih murah dari harga di Tangerang. Sedang kalau ngurus sendiri ( 3 kali datang, nunggu berjam-jam) jumlah yang harus dibayar adalah 200rebu untuk passport 48 halaman, 55 rebu untuk photo dan 5 ribu sidik jari (hanya untuk pemohon passport baru), jadi totalnya hanya 260rebu rupiah saja. Sebenarnya kalau dibanding-bandingkan dengan kebosanan duduk menunggu, bermacet-macet di jalan selama 3 kali dalam 3 hari, sudah lebih untung membayar Rp500 rebu.
Tapi…mengurus passport sendiri rasanya memberikan pengalaman hidup yang berharga, dapat mendengar banyak cerita dari orang-orang yang ketemu di sana, dapat merasakan hidup sesuai aturan, melatih kesabaran menunggu dan ada kesempatan berbicara dan meminta tandatangan petugas tanpa harus membayar apapun.

Jadi ternyata, kalau mengikut jalur yang benar, memang tidak selalu membutuhkan uang sebagai pelicin, itu sudah aku buktikan, si ibu yang harus memberikan persetujuan itu sangat helpful, begitu aku masuk ruangannya, beliau minta aku photocopy passport lama, setelah itu kudapatlah tandatangannya dalam hitungan menit. Tapi kenapa ibu muda di sampingku itu mengatakan itu karena aku yang maju, berbeda dengan mereka. Apa bedanya? Ini masih sesuatu yang harus diselidiki.

Di imigrasi ada plang pengumuman yang kira-kita berbunyi, "anda berhak mendapat layanan prima dari kami, jika ada memakai agen dan oleh karena anda harus menanggung biaya lebih dari yang seharusnya, itu adalah pilihan anda"

Benarlah…ada harga ada barang…bayar lebih…paspor didapat lebih cepat juga. Yang membuat saya heran adalah beberapa orang pengunjung, bebas keluar masuk ke salah satu ruangan di salah satu sudut di situ, yang keluar masuk itu bukan orang Imigrasi, tetapi mereka dapat keluar masuk dengan babasnya. Bahkan kelihatannya, mereka juga bisa makan dan istirahat di ruangan itu seperti kamar sendiri. Jangan-jangan ruangan khusus di sini seperti lounge untuk para penumpang executive bandara, ya?;-) Tapi apapun itu namanya itu sangat merusak wibawa sebuah kantor bernama imigrasi, yang kedengarannya serem.

Pada Jumat kemaren, sambil menunggu jam istirahat dua jam (dari jam 11:30 hingga 13:30) aku melihat banyak orang berkumpul…dari 2-3 orang menjadi puluhan orang bergerombol, mereka tidak kelihatan sedang mengurus dokumen imigrasi.
Kebetulan salah seorang memilih duduk di kursi sebelahku, di kantongnya aku lihat ada tape-recorder, ketika dia membuka tasnya aku melihat ada kamera. Iseng-iseng aku bertanya apakah dia agen pengurus dokument imigrasi juga, jawabnya tidak. Dari logat bicaranya aku tebak dia pasti halak hita, jadilah kita ngobrol seperti di lapotuak:-)

Rupanya dia wartawan (pengakuannya begitu), wartawan harian lokal di Medan, di sebelahnya ada satu orang ibu, katanya juga wartawati, dia menyebutkan nama korannya, tapi aku sama sekali tidak pernah dengar. Sesekali dia meladeni teman-teman wartawannya berbicara, dan setiap setelah dia bicara dengan temannya dia menjelaskan kepadaku bapak itu wartawan ini dan bapak itu wartawan itu, padahal aku tidak minta dijelaskan!

Setelah terasa kompak obrolannya, aku bertanya kenapa para wartawan pada berkumpul di imigrasi? Si wartawan ini dengan enteng menjawab untuk silaturahmi dengan pihak imigrasi. Silaturahmi apa? Si wartawan ini menjelaskan bahwa setiap Jumat mereka silaturahmi ke Imigrasi?
Memang kenapa ada silaturahmi setiap Jumat, tanyaku mau tahu. Ah…maklum sajalah ito, katanya. Diapun menjelaskan. Sebelum penjelasannya lebih jelas:-) dia sudah dipanggil temannya. Aku melihat mereka berembuk, lalu salah seorang utusan masuk ke satu ruangan. Aku mengamati terus…. begitu utusan tadi keluar mereka langsung berkerumun, agaknya mereka bagi-bagi uang…soalnya aku melihat dengan jelas lembaran-lembaran merah dibagi-bagi. Si ito ini kelihatan agak malu mengambil bagiannya di depan mataku, dia kembali duduk di sebelahku, tapi tidak berapa lama, seseorang memanggilnya dari lantai bawah, diapun pamit pergi dan menghilang.

Acara "silaturahmi" ini tidak berhenti di situ meskipun rombongan si ito tadi pergi, bererot-rerot rombongan sejenis susul menyusul, mereka membawa photo copy kecil sebesar KTP (mungkin photocopy kartu wartawan, atau apa, aku tidak jelas) tetapi agaknya photocopy kecil itu bisa ditukar dengan uang. Buktinya, setelah masuk, keluarnya pegang uang…

Masih menunggu pelayanan imigrasi dibuka jam 1.30; aku mengamati terus kegiatan di sana. Wartawan-wartawan yang datang silih berganti itu mungkin lebih lima puluh orang…jika masing-masing dapat uang silaturahmi 100 rebu, totalnya sudah berapa? Katanya kegiatan silaturahmi ini dilakukan setiap Jumat, ada 4 Jumat dalam seminggu. Dan uang "silaturahmi" itu sumbernya darimana? Apakah imigrasi punya anggaran "silaturahmi" dengan wartawan setiap hari Jumat?? Kenapa harus ada "silaturahmi"?

Ketika mendekati jam 1.30 – rombongan wartawan ini menghilang, sekonyong-konyong rombongan para agen muncul, dengan gempokan uang di tangan. Mereka menunggu membayar biaya resmi passport di kasir seperti aku. Kalau masing-masing mereka punya klien 10 orang gak heran kalau tangannya harus menggenggam uang 2,6juta sekali bayar. Para agen ini bebas berbicara dengan petugas yang masih memasang "close" di loketnya. Aku mencoba berlagak seperti agen untuk bertanya sesuatu, si pak petugas langsung bilang, "maaf bu, kita buka jam 1.30 pas". Duile…aku sudah melihatnya di situ sejak setengah jam yang lalu, tapi kurang 5 menitpun dia masih ogah melayani publik. Inilah pelayanan publik yang diatur oleh jam dan kertas, bukan oleh hati nurani!

Agaknya si bapak itu merasa bersalah, dia kemudian keluar dan meminta form yang harus aku berikan kepada dia, aku balik berkata, nanti saja pak setelah jam 1.30, masih 3 menit lagi! Nah lho….
Kenapakah proses pengurusan passport di imigrasi ini tidak bisa dipercepat? Kenapa harus menunggu satu minggu? 3 hari kerja setelah isi formulir baru bisa photo, 3 hari kerja setelah photo baru passport keluar.

Dan juga kenapa prosesnya tidak sistem satu meja dimana pemohon hanya berhadapan dengan front desk, urusan selanjutnya pemohon tidak perlu tahu kecuali ada yang harus diterangkan. Bagi orang yang masih muda bolak-balik naik turun tangga…yang cek KTPlah…cek Wasdakim lah; mungkin tidak jadi masalah tetapi bagi yang sudah sepuh? Kan, tidak semua orangtua bisa membayar agen untuk mengurus passport.
Dan mengenai silaturahmi wartawan dengan kantor imigrasi itu, apakah Bung Radityo tahu silaturahmi apakah itu gerangan?
Kita harus menghentikan praktek korupsi yang terkecil yang terjadi di depan mata kita atau dari pengalaman yang kita lihat sehari-hari.
Salam anti korupsi, dan selamat berakhir pekan.
Aurien