Sambutan Teewoel atas tulisan Mbah Soeloyo: Ketika Agama (dianggap) bukan produk BUDAYA

Cerita tentang Ki Sondong Mandali dari mbah Soeloyo sangat
membesarkan hati. Terimakasih kepada KSM dan mbah Soel yg telah
membagikan cerita ttg kebijaksanaan dan keberanian KSM tampil di
tengah berbagai pemimpin kelompok agama. Saat ini memang saat yang
paling tepat utk orang-orang Jawa entah dari agama apa saja a utk
tampil, keluar dari persembunyiannya yang panjang. Begitupun rekan-
rekan dari agama Kebatinan Jawa. Tanpa takut sedikitpun utk
merevitalisasi dan mengembangkan budaya Jawa. Apalagi tahun depan
2006, Presiden SBY sudah mencanangkan sebagai tahun budaya nasional.
Manakala kekerasan brutal lewat bom atau kekerasan fisik lewat
penyerbuan dan pengrusakan rumah tempat ibadah kelompok lain;
manakala kekerasan non fisik lewat tuduhan sesat, atau lewat fatwa,
semakin sering terjadi inilah saatnya utk kembali ke budaya
kemanusiaan lokal.

Agama-agama asing dan import entah itu dari Arab, Cina, India, Israel, Syria, Jepang, Roma, Amerika atau entah dari planet lain sekalipun harus tahu diri. Mereka semua disini cuma tamu. Mana ada tamu yang dengan seenaknya atau dengan paksaan mengusir tuan rumah untuk tinggal diluar rumahnya sendiri. Setelah diterima dengan baik- baik penuh kesopanan. Lalu malahan memaksa tuan rumah menjadi asing dengan budayanya sendiri dimana dia dibesarkan. Secara halus atau secara kasar. Mana ada tamu yg bisa dibiarkan seenaknya menghina budaya sendiri yg sebenarnya penuh dengan ungkapan seni yg indah, dinamis, penuh simbolik yg mendalam. Bahkan boleh dibilang sering lebih halus, lebih berkwalitas, lebih bermutu, lebih bervariasi dan penuh nuansa yg menggetarkan jiwa, dibanding kalau harus memakai budaya tamu itu. Banyak yg dulu terpaksa menurut saja, walau jelas- jelas hati nurani merasakan sangat tidak “sreg”, tidak pas, tersiksa batinnya dengan ungkapan-ungkapan budaya asing itu. Tapi karena toleransi dan ditakut-takuti, dibujuk dengan alasan budaya asing ini lebih sempurna, budaya asing langsung turun dari Alloh, lalu dengan penuh kesabaran dituruti. Namun itu dulu. Sekarang lain ceritanya setelah kelihatan wajah aslinya. Begjo-begjane sing lali, isih begja sing eling lan waspada, begitu orang Jawa bilang (=Betapapun untungnya yang lupa, masih lebih untung yang ingat/sadar dan waspada)

Agama-agama asing dan import entah itu dari Arab, Cina, India, Israel, Syria, Jepang, Roma, Amerika atau entah dari planet lain sekalipun harus tahu diri. Mereka semua disini cuma tamu. Mana ada tamu yang dengan seenaknya atau dengan paksaan mengusir tuan rumah untuk tinggal diluar rumahnya sendiri. Setelah diterima dengan baik- baik penuh kesopanan. Lalu malahan memaksa tuan rumah menjadi asing dengan budayanya sendiri dimana dia dibesarkan. Secara halus atau secara kasar. Mana ada tamu yg bisa dibiarkan seenaknya menghina budaya sendiri yg sebenarnya penuh dengan ungkapan seni yg indah, dinamis, penuh simbolik yg mendalam. Bahkan boleh dibilang sering lebih halus, lebih berkwalitas, lebih bermutu, lebih bervariasi dan penuh nuansa yg menggetarkan jiwa, dibanding kalau harus memakai budaya tamu itu. Banyak yg dulu terpaksa menurut saja, walau jelas- jelas hati nurani merasakan sangat tidak “sreg”, tidak pas, tersiksa batinnya dengan ungkapan-ungkapan budaya asing itu. Tapi karena toleransi dan ditakut-takuti, dibujuk dengan alasan budaya asing ini lebih sempurna, budaya asing langsung turun dari Alloh, lalu dengan penuh kesabaran dituruti. Namun itu dulu. Sekarang lain ceritanya setelah kelihatan wajah aslinya. Begjo-begjane sing lali, isih begja sing eling lan waspada, begitu orang Jawa bilang (=Betapapun untungnya yang lupa, masih lebih untung yang ingat/sadar dan waspada)

Kalau dari tatakrama Jawa, polah tingkah orang-orang Arab dan sok ke Arab-Araban akhir-akhir ini sudah boleh dibilang sebagai “ora nduwe dugo” (tidak punya tata krama). Yang lain bilang “wis ora Jowo” (sudah tidak Jawa lagi, artinya ya sudah bertindak seenaknya sendiri). “Kurang ajar, kamanungsan, mungkin bahkan ada yg dengan emosi atau tidak sabar mengatakan sebagai “bajingan”, dijelentrehkan lagi lebih kasar bisa terungkap dalam “bajingan-bajingan ngArab lan koyo ngArab, muliho nang asalmu, mung gawe kisruh lan tintrim wae” (bajingan-bajingan Arab dan yg spt Arab, pulang saja ke tempat asalmu, cuma buat kisruh dan merasa tidak aman/mengancam jiwa saja).

Perjuangan panjang masih harus ditempuh utk antara lain harus dicari jalan legal agar selalu dihormati utk mencantumkan didalam KTP kolom agama: Kebatinan Pancasila, atau Kebatinan Indonesia, Agama Jawa misalnya. Teman-teman dari Kalimantan tak perlu takut utk menulis di kolom agama: Kaharingan. Begitupun yang dari Irian, Sulawesi, Flores, Sumatra dan seterusnya. Terserah orang lain mau mengolok- ngolok, melecehkan apa saja. Hak kita sebagai warganegara yang sah dan tuan rumah, untuk punya identitas sendiri. Tidak perlu harus ndompleng dan berlindung dibalik agama asing itu. Namun kalau dirasakan langkah legal hukum ini belum saatnya atau masih sulit diterima maka bisa dicari saat yang tepat dan proses hukum yg jitu. Bagaimanapun itulah salah satu tujuan antara yang harus dicapai. Kalau tidak, yah seperti sekarang ini budaya-budaya asing dengan seenaknya memaksakan kehendaknya dengan segala macam alasan. Entah itu alasan suci, alasan menakut-nakuti dengan hukuman neraka, atau alasan lainnya utk menjadikan orang-orang Jawa membenci dan meninggalkan budayanya sendiri. Kehilangan identitasnya. Menjadi korban yg tersandera atau terpenjara. Tidak bisa lagi mengembangkan budaya sendiri. Karena sudah dianggap tidak laku, kurang berkwalitas dalam kerohanian. Sadar atau tidak sadar tersedot, terjajah oleh budaya asing itu. Bahkan utk menyatakan identitas asli dalam KTP.

Tak perlu malu sebagai orang Islam, kita memperkenalkan diri sbg Islam Kejawen, atau Islam Jawa atau Islam Indonesia, Islam humanis dan bukan Islam Arab atau Wahabi. Malah harus bangga karena kalau dikembangkan dengan bagus Islam yg belajar dari budaya Jawa atau budaya Indonesia bahkan bisa menjadi pemimpin dunia-dunia Islam di seluruh dunia. Tidak akan budaya Jawa atau budaya Indonesia yang lebih kaya, lebih kompleks, lebih indah, lebih punya perasaan kemanusiaan ini harus berkiblat, mencontoh, meniru, menjadi budak Islam-Islam Arab dan Wahabi yang kurang bermutu itu. Biar sejuta, sepuluh juta orang-orang Arab dan Timur Tengah menuduh kita sebagai Islam palsu, tidak murni, mana ada urus, so what gitu gitu lho! That is my identity, our identity full stop. Tak peduli satu atau seratus bom meledak, kita harus melakukan perlawanan terhadap budaya kekerasan yang sama sekali tidak sesuai dengan budaya bangsa, budaya Indonesia dan juga budaya Jawa. Budaya tepo sliro, budaya menghormati sesama. “Masiyo cacing yen diidak ya mesti ngulet lan nglawan” (Biarpun cacing kalau diinjak ya akan mencari jalan keluar dan melawan).

Yah, memang kalau harus jujur kita orang-orang Jawa mesti instropeksi diri juga. Mana kala dulu mbah Harto memaksakan budaya Jawa dalam seluruh sistem politik di Indonesia, kita tahu itu tidak betul dan tidak bijaksana. Tidak perlu kesalahan fatal semacam itu diulangi lagi. Namun tidak berarti orang-orang Jawa harus sekedar nrimo, menghadapi neokolonialisme budaya Arab, atau budaya Barat atau dikalahkan oleh budaya Barat. Harus ada gerakan, mesti dilakukan beberapa langkah cerdas utk merevitalisasi budaya sendiri, mengembangkannya. Bahkan perlu diolah agar tradisi dan seni, bersama seluruh sistem kepercayaan, sistem world-view dan ethicsnya mempunyai adaptasi yg jitu menghadapi budaya Arab, budaya Barat dan budaya asing lainnya. Tanpa harus merasa minder, rendah diri, bersembuny dan pasif.

Yah tentu refleksi ini bisa dianggap terlalu ekstrim. Jadi mohon jangan terlalu cepat tersinggung bagi yg tersenggol. Ini hanya salah satu tafsiran dari geguritan yg dari dulu telah menjadi sumber kebijaksanaan orang-orang Jawa yg bisa juga diterapkan pada kebobrokan yg terjadi lewat korupsi dan semacamnya:

Jamane jaman edan,
sing ora edan ora keduman,
ning begjo-begjane sing lali,
isih begja sing eling lan waspada.

(Jamannya jaman edan, yang tidak ikut edan tidak akan kebagian, namun betapapun untungnya orang-orang yang lupa diri, masih untug yang ‘ingat’/eling dan waspada).

Sekedar selingan dari yg sudah agak lupa budaya Jawa:)

*** teewoel