Beberapa hari belakangan ini publik Indonesia bisa
melihat iklan mendukung kenaikan harga BBM yang dibintangi oleh
Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Ceritanya Aa Gym berkunjung ke rumah
orang miskin, yang lagi bingung karena kenaikan harga BBM. Aa Gym
kemudian menasehati dengan gaya khasnya supaya masyarakat bersabar dan
ikhlas.  Mungkin sekilas tidak ada yang salah dari iklan itu. Tapi
buat saya iklan itu blunder luar biasa. Aa Gym mendukung kenaikan BBM,
Aa Gym mendukung kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat. Saya
berdoa, semoga hanya sekali ini saja Aa Gym terpeleset.

Aa Gym mungkin sudah diberi penjelasan oleh pemerintah, penjelasan
standar bahwa dengan naiknya harga minyak dunia, maka beban APBN juga
semakin besar. Sehingga pemerintah tidak punya pilihan lain meskipun
pahit untuk menaikkan harga BBM.

Pilihan pahit? Itu
bukan pil pahit seperti obat yang menyembuhkan, kenaikan itu adalah
racun yang akan membunuh rakyat Indonesia, akan membuat bayi kurang
gizi karena orang tuanya tidak mampu membeli susu. Kenaikan komoditas
sestrategis BBM akan menimbulkan multiplyer effect yang luar biasa.
Semua harga akan naik. Ongkos angkutan umum, harga barang-barang
sehari-hari, harga sembako, cabe, sayur mayur, dll, semua akan naik.

Aa
Gym tahu ini? Saya yakin doi tahu, karena itulah doi mau menjadi
bintang iklan kenaikan harga BBM. Karena bagi Aa Gym pemerintah sudah
gak punya pilihan lain, sementara rakyat semakin susah. Tapi tahukah Aa
Gym inti masalah yang sebenarnya?

Kenaikan harga BBM
ini berawal dari defisit APBN. Pengeluaran lebih besar daripada
pemasukan atau besar pasak daripada tiang. Di dalam manajemen anggaran
apapun, kalau pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, maka akan
dilakukan tindakan:
– meningkatkan pemasukan;
– mengurangi pengeluaran.

Saya
akan membahas item yang kedua, yaitu: mengurangi pengeluaran.
Sebetulnya banyak pilihan lain yang bisa dilakukan oleh pemerintah
untuk mengurangi pengeluaran, banyak pos anggaran yang sebetulnya bisa
‘dikorbankan’ jika emang punya political will untuk wong cilik. Di
antaranya:

1. Bunga obligasi bank rekap yang puluhan
trilyun itu (lupa persisnya), yang selama ini hanya dinikmati oleh
segelintir bankir yang enak-enakan memimpin bank yang disehatkan dengan
obligasi pemerintah, dengan pokok dan bunga obligasi yang harus dibayar
oleh rakyat Indonesia melalui APBN. Jika ini dihilangkan subsidinya
maka akan bikin beberapa bankir pusing tujuh keliling. Tapi mereka kan
sudah digaji layak banget. Kalau gak mampu kreatif ya tinggal diganti.

2. Penundaan pembayaran hutang luar negeri, yang mencapai 20% dari anggaran. Adanya opsi ini juga diakui oleh Menko Ekuin Ical, Detik.com 29 Sept 2005: http://jkt1.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/09/tgl/29/time/124816/idnews/451410/idkanal/4.
Di situ tertulis pengakuan Ical: Untuk mengurangi beban anggaran,
pemerintah sebenarnya memiliki alternatif lain selain menaikkan harga
BBM yakni dengan reprofilling atau pengalihan jatuh tempo utang luar
negeri. Kenapa bukan ini yang dipilih oleh pemerintah?

3.
Kebocoran anggaran yang tiap tahun ditemukan oleh BPK/BPKP, sudah lama
disebutkan terang-terangan oleh Alm Prof Sumitro, bahwa kebocoran APBN
kita 30%. Kenapa tidak ini yang diprioritaskan? reformasi birokrasi
yang sudah beberapa kali diteriakkan oleh KPK belum juga dilakukan oleh
pemerintah. Belum lagi pemberantasan korupsi yang masih setengah hati.

4.
Lalu subsidi BBM. Subsidi BBM memang tidak sehat bagi ekonomi dan harus
dicabut, tapi mestinya pemerintah melihat timingnya. Sungguh sangat
tidak tepat saat ini. Jakarta Post, tanggal 21 Septembet 2005 menulis
artikel An Indonesian bears $600 in debt, di dalamnya tertulis
"The fact that one in five Indonesians still lives on less than US$ 1".
20% rakyat Indonesia hidup dengan uang kurang dari Rp 10.000 per hari,
masih tega juga untuk menambah beban hidup mereka.

Ada
empat opsi di atas, pemerintah milih opsi paling gampang, mencabut
subsidi BBM. Pemerintah merasa lebih baik berhadapan dengan rakyatnya
sendiri ketimbang harus negosiasi G2G dengan kreditor untuk
reprofilling, ketimbang harus mencabut bunga obligasi bank rekap,
ketimbang melakukan pemberantasan korupsi dan reformasi birokrasi.

Pemerintah
lebih memilih tindakan sangat tidak kreatif dengan melakukan kompensasi
berupa pemberian uang tunai yang sangat rawan kebocoran. Kemudian
tentunya memanfaatkan kepolosan Aa Gym untuk menyabar-nyabarkan rakyat
yang sudah susah.

Aa Gym mestinya juga tahu, rakyat itu
tidak usah disuruh bersabar dan hidup sederhana, mereka emang sudah
terbiasa hidup susah, sudah terbiasa harus sabar. Bukannya memberi
nasehat kepada pemerintah supaya mengambil langkah lain untuk
menyelamatkan APBN, Aa Gym malah ikut-ikutan mendukung kebijakan yang
akan membuat susah rakyat kecil.

Aa Gym selama ini
adalah tokoh moral yang sangat saya harapkan tetap berdiri tegak di
tengah terjerembabnya tatanan moral masyarakat kita. Tapi rupa-rupanya
sekali ini Aa Gym terjerembab juga, Aa Gym terpeleset karena minyak
memang licin.