Kalau kita pikir-pikir, apa artinya bagi kita untuk memasang bendera nasional didepan beranda rumah ? Tidak akan ada selintas pun bagi si Fulan memasang bendera merah putih didepan rumahnya.

" Wah enggak deh, udah kenyang koq dari sekolah dasar setiap hari hari senin, upacara naikin bendera ! " paling begitu komentar si Fulan.

Tapi bagi si John sebagai orang Amerika, mempunyai pikiran
bahwa bendera negara itu sakral dan mencintai negaranya
bukanlah hanya sebagai kata simbolik, tapi benar-benar dia
hayati. Disamping itu kehidupan keagamaan si John, kuat.
Sebelum menyantap sarapan pagi, sekeluarga menundukkan
kepala sambil berkomat-kamit.
" Didaerah kami, hari minggu sangat penting. Untuk pergi
ke gereja " kata si John.
Relung-relung ide sejenis itu bisa jadi dilihat dari luar ( Eropa)
sebagai pikiran yang rada-rada primitif, terlalu nasionalis, ter-
lalu mengada-ada karena siapapun sudah barang tentu men-
cintai negaranya. Tapi bagi si John, ekspresi kecintaan ter-
hadap negaranya bukanlah suatu hal yang enteng begitu saja.
Dia pentingkan, dia wujudkan dengan lebih solid dan terpajang.
Suatu hal yang buruk kah atau norak kah seseorang/bangsa
mencintai negaranya sedemikian tinggi ?
Dalam gelora ide-ide baru yang sedang melanda dunia seperti
globalisasi, multi-kultural, melting-pot, menghilangkan perba-
tasan antar negara, semua jenis manusia itu adalah baik-baik
saja, semua jenis agama adalah baik, toleransi menjadi ajang
kehidupan sehari-hari dan sebagai paham dominan bagi dunia
yang liberal dan sekuler…hanya dibalik semua itu justru mem-
berikan peluang dan celah yang dimanfaatkan oleh sebagain
jenis manusia yang mempunyai ambisi busuk utk menggunakan
celah-celah itu dan lalu mengusainya, islam politik, geopolitik
dan radikal.