Bermukim lama di luar negeri tidak dengan sendirinya tahu sains banyak dan mengubah cara pikir seseorang
secara drastis. Waktu masih di SMP, saya geleng-geleng kepala akan
pelajaran agama yang diterangkan oleh sang guru agama, termasuk tidak
bolehnya minum susu sapi yang katanya hanya untuk sapi.


Lebih lagi, sibuk orang-orang dan para kyai mencerca
kristen yang notabene adalah sumber ajaran islam itu
sendiri. Terbentuknya watak seseorang dipengaruhi juga
oleh watak yang dibawa dari kecil.

Kalau ajaran dogmatis tersebut harus diterima secara
totalitas, ngeri saya akan nasib anak cucu kita di
masa mendatang. Saling claim sebagai yang paling
dikasihi tuhan akan menjadi bibit permusuhan dan
pembunuhan yang kekal. Mengkafirkan orang lain yang
bernuansa merendahkannya sebagai manusia hanyalah satu
bentuk sederhana saja dari bibit tersebut.

Tiap orang harusnya punya keberanian menjadi diri
sendiri dan memilih jalan hidup yang hendak
ditempuhnya tanpa menyusahkan orang lain. Saya sendiri
lebih menyukai mengalihkan biaya haji untuk orang yang
kelaparan di afrika, menggunakan waktu shalat untuk
kegiatan sosial, bekerja sungguh-sungguh untuk
kemaslahatan orang banyak ketimbang puasa yang
melelahkan tersebut, dsb. dsb.

Saya juga bukanlah orang yang totalitas menerima
begitu saja sabda tuhan yang mengatakan akan
dibakarnya seseorang hidup-hidup secara kekal dalam
neraka. Saya yakin tuhan tidaklah sebiadab itu.

Tiap orang harus punya keberanian membebaskan diri
dari ajaran dogmatis yang tidak sesuai dengan
pikirannya.