Ribut soal pengeroyokan terhadap rumah ibadah dan harta Ahmadiyah di Cianjur tak urung menjadi topik obrolan di warteg Bu Minah.

Haji Husin: – Jelas saya setuju FPI. Soalnya, sebagai orang Islam kita kudu yakin bahwa Nabi Muhammad s.a.w.
adalah nabi terakhir. Dus Ahmadiyah murtad karena percaya bahwa Mirza Ghulam Akhmad menerima wahyu.
Kalau begitu bentuk saja agama sendiri dan jangan mengaku Islam.

Mustakim yang RT kampung sebelah: – Tul Pak Haji.  Karna itu ane dukung MUI yang keluarkan fatwa sebelas
biji. Ayo, Mas Bejo bicara dong, dari kemarin kok diam saja.

Mas Bejo: – Begini, bapak-bapak. Sebaiknya saya jadi pendengar saja karena saya tidak mau ribut. Tapi ya sudahlah. Saya setuju sama Gus Dur dan Syafii Maarif, yang berbeda pendapat dengan FPI dan MUI. Padahal saya juga yakin kalau beliau-beliau merasa bahwa Ahmadiyah tidak betul. Yang dimarahkan Gus Dur
tindakan FPI dan fatwa MUI yang meminta pemerintah melarang keberadaan Akhmadiyah. Lha kalau sudah begitu mau dibawa kemana negara ini.

Pak Haji mau buka mulut tapi keduluan Pak RT: – Mas Bejo saya peringatkan, ya. Kalau ente takut negara Islam, ane ragukan ke-Islaman ente. Kalo gitu ente sukarela pulang saja ke Jawa.

Bu Minah buru-buru melerai: – Sabar, Pak RT.  Jelek-jelek Pak Bejo ini guru SD Al-Ikhlas, lho. Ayo Pak Bejo, teruskan.

Mas Bejo: – Saya sebenarnya pilih jadi pendengar saja kalau jadinya begini. Tadi kan Pak RT yang minta saya
bicara. (Pause) Sebenarnya kalau ukurannya syare’ah, ke-Islaman saya cuma seperempatnya Pak Haji dan Pak RT.

Pak Haji: – Lantas, tiga perempatnya apa? Paham ateis ya?

Mas Bejo: – Tiga perempatnya hakikat. Ma’rifat saya belum nyampe.

Pak RT: – Wharakadah. Syare’at belum penuh kok sudah hakikat apalagi ma’rifat. Sempurnakan dulu syare’atnya, Mas Bejo.

Mas Bejo: – Gusti Allah maha pemurah dan maha pengasih. Berkah dunia dan akherat diberikan pada
siapapun. Juga wahyu juga diturunkan kepada siapa saja tanpa manusia bisa melarangnya. Tapi jangan
salah paham mengira saya simpatisan Ahmadiyah. Kalau mereka keliru, berilah kesempatan untuk menanggung
kekeliruannya. Setahu saya, Ahmadiyah tidak melakukan syi’ar kepada orang yang sudah Islam.
Mereka aktif di Eropa. Banyak orang Eropa masuk Islam, setelah membaca tafsir Al-Qur’an mereka yang
diberi catatan kaki dengan rujukan Al Kitab sebelumnya, juga ada indexnya. Dan jangan lupa orang
Eropa jadi mualaf setelah melihat teladan akhlak orang Ahmadiyah. Mereka banyak inteleknya, juga Abdussalam
pemenang Nobel untuk fisika. Tapi, sekali lagi, saya bukan promosi untuk Ahmadiyah lho.

Terdengar suara adzan, maka tiga orang langganan Bu Minah cepat membayar, dan mereka pergi menuju masjid
diseberang jalan untuk melakukan sholat Jum’at.

Salam,
RM