Orang udik ini tertawa pada diri sendiri
waktu memasuki autobahn dari perbatasan Belanda-Jerman sampai perbatasan
Jerman-Swiss. Itu terjadi 22 tahun yang lalu, waktu pindahan dari Afrika ke
Yugoslavia.  Mobil baru Nissan Stanza 1800cc (di Indonesia 1600 cc) yang
saya beli di showroom Shipside dalam kawasan bandara Amsterdam dengan harga
hanya $4,600 saya pacu dengan kecepatan 120km/jam konstan, yaitu
kecepatan maksimum selama 5,000 km yang pertama menurut manual.

Setelah
beberapa puluh menit melewati perbatasan

Belanda, isteri dan Niken yang masih
kecil terbangun

dari tidurnya oleh bunyi ngeng-ngeng dan cahaya dari

mobil
polizei yang ada dijalur sebelah dan pak polisi

dengan isyarat tangan
mengatakan bahwa saya harus

pindah ke jalur paling kanan. Orang udik ini
baru

tahu bahwa di autobahn ada larangan jalan lambat.

Pengalaman
pertama itu saya ingat kembali ketika

menonton dokumenter autobahn di
National Geographic

channel kemarin. Lihat http://www.autobahn-online.de.

Waktu
muda, kalau ada libur pendek saya suka

mengendarai mobil menelusuri kota-kota
sepanjang

pantai Laut Adriatik yang indah khususnya Dubrovnik

dan Split.
Semua saya perhitungkan benar agar seirit

mungkin. Kecepatan saya atur pada
kisaran 90-120

km/jam pada gigi lima, pada kecepatan ini bahan
bakar

paling efisien. Jangan akselerasi atau deselerasi

kalau tidak perlu
betul. Kalau jalan jauh saya pilih

jalan malam untuk menghemat waktu dan
uang, sementara

istri dan sikecil Niken tidur pulas saya
mendengarkan

musik dari radio FM. Makan minum saya lakukan diatas

mobil
sambil jalan. Menginap tidak dihotel, melainkan

dirumah penduduk dipinggir
jalan raya yang ada tulisan

Rasthaus kalau di Jerman (tarifnya hanya $10 per
kamar

termasuk makan pagi ringan) atau Sobe kalau di

Yugoslavia yang
tarifnya hanya $4 tapi bersih dan

nyaman untuk tidur.

{mosgoogle}

Beberapa kali menempuh
jarak 1400

km dari Beograd ke San Marino, ini republik kota dekat

Rimini
di Italia melewati jalan toll Italia yang

sempit dan pendek tapi mahal
bayarnya. Ke Greece satu

kali. Beberapa kali ke Praha lewat Graz dan
Wien

atau lewat Novi Sad, Budapest terus Wien. Waktu term

selesai, dari
Zurich saya sewa mobil Opel Cadett ke

Jenewa, lalu ke Nice, Paris, Brussels,
lalu ke Den

Haag, Alsace-Lorraine, Luxembourg dan kembali ke

Zurich
membayar sewa mobil murah sekali dan kembali

ke Jakarta dengan pesawat
Garuda. Seperti di Jerman,

saya dapat mengendarai mobil di Mexico sampai
mentok

speedometernya. Tapi di interstate atau expressway

atau turnpike di
Texas saya harus berhati-hati agar

tidak melampaui 75 atau 85
mph.

Dibanding semua jalan raya yang telah saya jalani,

autobahn
adalah yang terbaik. Jalannya lurus dengan

tikungan tidak terlalu tajam.
Dibanding expressway,

jalur tiap mobil lebih lebar, dan bagi yang
terbiasa

dengan jalan toll di Indonesia, terasa sangat lebar.

Mereka yang
jalan sambil membaca peta, pasti kaget

karena bukit dan gunung seakan tidak
ada padahal masih

ada. Sekalipun gratis, autobahn yang panjang

seluruhnya
11,000 km dirawat amat baik seperti merawat

jalur balap formula saja. Paling
menonjol adalah

tingkat keamanannya; meskipun banyak mobil melaju

dengan
kecepatan diatas 200 km/jam, tingkat kecelakaan

menurut informasi lebih
rendah dibanding kecelakaan di

jalan raya Amerika. Ini mungkin karena di
autobahn

ada lebih banyak pemberitahuan tentang exit kesatu

tempat sejak
jaraknya masih jauh dan sampai tiga kali

sebelum dekat benar yang menyebabkan
tidak adanya

belok mendadak. Juga permukaan jalannya lebih cocok

untuk
kecepatan tinggi. Pengendara yang lelah dapat

beristirahat di rest area yang
cukup luas bersih dan

rindang. Atau tidur sejenak di Rast Hause.
Kedua

aspek tadi juga ada dijalan raya lain diluar Jerman,

tapi tidak
sebanyak di autobahn dan semuanya itu

terbaca jelas dari jalan.

Konon
autobahn mulai dibangun pada tahun 1912 tentunya

demi kejayaan imperium
Prusia ‘durch Blutt und Essen’

(dengan darah dan besi). Marshall Plan
meneruskan

proyek ini, tapi dengan tujuan lain yaitu untuk dengan

cepat
memulihkan ekonomi Jerman yang hancur lebur

diakhir Perang Dunia II. Setelah
penyatuan Jerman,

proyek autobahn diperluas diwilayah yang dulu
bernama

Jerman Timur. Memang autobahn hanya satu elemen saja

dari network
logistik Jerman yang multi-modal: jalan

raya pedesaan, jalan air sungai Elbe
dan Rhein yang

tak pernah surut, kereta api yang tepat waktu, dan

lalu
lintas udara. Tentunya ada aspek structural

engineering dan highway
engineering hebat yang

menjadikan autobahn patut
dikagumi.

Salam,

RM