Aku menulis ini sebagai tanggapan (dan perluasan) dari tulisan Merle
Ricklef ttg gerakan2 Islam di Indonesia akhir2 ini, di AFR Review
minggu ini:Islam on the march (sayang di website AFR.com artikel ini
tidak gratis, kalau ada yg punya softcopy? aku baca dari printed).

Tulisan ini adalah summary yg sangat bagus yg paling mendekati
kenyataan sebagaimana adanya, daripada analisa2 partisan yg banyak
beredar di Indonesia. Mengenai gebrakan 11 fatwa MUI dan movements yg
melatar belakanginya, bagaimana role muhhamadiyah dan NU, pertentangan
besar aliran liberal JIL vs. aliran fundie keras JI LJ FPI cs, serta
permainan pengaruh di Muhammadiyah dibawah dinsamsu. Bagaimana MUI –
yg akhir2 ini di kooptasi aliran keras melalui dinsamsu — berperan,
apa peran (pinngiran) ahmadiyah yg jadi kambing-hitam transisi, sampai
bagaimana permainan ini malah backfired buat kaum keras.

Permainan catur Islam Indonesia.

Memang tidak mudah membuat suatu assessment netral jika kita merasa
mempunyai kepentingan didalamnya, sebagaimana hampir semua komentator
ngindo. Merle berdiri diluar, dengan fascination (dan sedikit humor –
terasa di tulisannya) melihat semuanya unfolding dengan kacamata
seorang ahli. Dia secara khusus menulis, diakhir tulisannya, bahwa
perkembangan Islam ngindo ini sangat penting artinya bagi muslim di
ngindo sendiri, bagi Australia yg bertetangga dekat, dan bagi gerakan2
muslim seluruh dunia.

Di awal tulisannya Merle menyatakan keterkejutan seorang temannya –
ahli islam ‘mainstream’ dari negara arab – membaca tulisan2 liberal
dari JIL di Jakarta post, menurutnya di berbagai tempat lain di dunia
tulisan semacam itu akan berakibat kecaman atau worse (baca: fatwa
mati) bagi penulisnya. Bahwa tulisan Islam liberal bisa di muat di
koran umum di Indonesia merupakan hal yg menarik dari banyak sisi.
Satu sisi bahwa liberalisme progresif (baca: masa depan Islam di
seluruh dunia) hidup secara lebih sehat daripada di tempat2 lain.
Sisi kedua, peperangan ideologis antara aliran ini – diwakili JIL –
dengan aliran Islam keras yg sekarang sedang agresif di dunia luas –
diwakili osama dan onderbouw nya di ngindo — sudah dan akan meluas di
Indonesia.

Dari sisi pertentangan ideologis inilah, benang merah ini, maka membaca
perkembangan Islam di Indonesia menjadi menarik. Merle menulis
background Islam di Indonesia, ttg kebangkitan ‘modernist’ Muhammadiyah
(MH) vs. ‘traditionalist’ NU, yg secara menarik dia bandingkan spt
calvinist (Protestanisme) dan katolik di Eropa dulu. Modernist MH
harus dibaca secara hati2 – karena spt halnya calvinist, selain
mengangkat beberapa sisi modern (pendidikan misalnya) gerakan ini
membawa tradisi2 simplifikasi dan literalisme ajaran yg secara
ideologis justru lebih konservatis daripada gerakan NU yg tradisionalis
sinkretis.

Merle mengatakan bahwa kedua organisasi itu, MH dan NU, tetap merupakan
mainstream dari muslim ngindo. Tetapi akhir2 ini, sejak njungkelnya
militeris soharton dan bangkitnya osamaisme di dunia, ideologi fundie
yg prone to violence (baca: JI, FPI cs) meluas di Indonesia. Yang
mengakibatkan menguatnya counter-stream JIL yg progresif liberal.

Kedua aliran ini — selanjutnya secara singkat kita sebut LIB dari JIL
(Jaringan Islam Liberal – Ulil cs) untuk liberal dan FUN dari JI
(Jemaah Islamiyah – mbasir cs) untuk fundie violence-prone — bertarung
keras saat ini di latar ideologis, tidak benar2 diikuti oleh rata2
muslim ngindo (ini sebabnya mengapa rata2 muslim Indonesia tidak
terlalu peduli pada kedua kutub ideologis ini). Dan MH serta NU, kedua
organisasi utama ngindo, juga tidak terlalu aktif di perang ideologis
ini.

Walau tokoh2 LIB banyak yg dari NU – sayap progresif MH juga cenderung
mendukung aliran LIB ini. Sebaliknya, sekalipun banyak fraksi MH
mendukung / simpatis dengan FUN – juga tidak kurang faktor2 NU yg tidak
menolaknya. Singkatnya, baik MH maupun NU – dan berarti juga majoritas
muslim awam Indonesia – rata2 tidak terlalu berminat pada perang
ideologis ini.
Sedangkan MUI yg pada awalnya adalah organisasi ciptaan pemerintah
soharton, kemudian mengangkat golongan2 ulama dari semua sisi – secara
idealnya adalah representasi dari muslim awam Indonesia dari MH maupun
NU, tetapi melalui ‘stickiness’ dari personalisasi kekuasaan di
organisasi dewan spt ini, mulai di kooptasi oleh kaum FUN.

Itu sampai beberapa saat yl.
Dengan melejitnya kepemimpinan Dinsamsu di MH (Merle tampaknya downplay
role Dinsamsu di ideologi keras FUN ini, either karena naive atau
karena ‘jaga posisi’ agar tetap bisa netral .. πŸ™‚ maka FUN memulai
gambit baru – setelah merasa ‘menguasai’ MH, FUN merasa perlu untuk
konsolidasi kekuasaan (ini mengikuti jalur2 lain FUN yg dipakai di
masyarakat spt arabisasi, memperkuat isu2 syariah dan identifikasi spt
jilbab dan atribut2 agamis ). Melalui MUI.

Gambit ini bukannya tidak dipikirkan baik2.

MUI membuka serangan dengan mengangkat isu Ahmadiyah (Merle memberi
background ttg aliran ini, yg dibandingkannya dengan Mormonisme dalam
kristen, benar2 analogi yg tepat ..), isu yg tampak merupakan suatu
serangan antara, salvo pembukaan untuk masuk ke perang ideologis secara
relatif aman.

Dengan menyerang fraksi yg dinilai lemah secara organisatoris dan
keanggotaan maupun secara ideologis – sehingga diperkirakan tidak akan
kalah — FUN melalui (dinsamsu cs dan) MUI membuka peperangan ideologis
ini.

Dikatakan sasaran antara, karena tampak sekali bahwa sasaran
sesungguhnya adalah lawan ideologis mereka, LIB, yg menjadi sasaran
sesungguhnya. Tampak bahwa gambit FUN ini well-thought of, karena
dimulai dengan isu serangan2 ke ahamadiyah, dimintakan fatwa, fatwa
keluar dan serangan2 lagi. Plus pressure ke pemerintahan (SBY).
Serangan2 fisik, terutama di Jabar, hampir2 bisa dikatakan di
koordinasi dengan ini semua –> suatu gambit serius!

Dan desensitifitas pada kekerasan yg ditimbulkan dari isu ahmadiyah ini
hampir segera di lanjutkan ke serangan fisik langsung ke JIL yg juga di
serimpung bersamaan melalui 11 fatwa MUI itu. Ini semua adalah
skenario agresifitas yg worthy of strategic warfare ..

Keseriusan gambit ini agaknya juga dibaca oleh pihak2 lain, bukan hanya
dari trueblue LIB di JIL, tetapi juga mereka2 dari kaum ‘awam’ non
ideologis, dari semua sayap, bukan hanya NU tetapi juga MH dan fraksi2
awam dari masyarakat umum termasuk non-muslim dan governmental.

Itu sebabnya, front melawan gambit MUI ini – dipimpin oleh Gusdur yg
notabene bukanlah ideolog LIB, mengental. Bahkan waktu FPI mengeraskan
tangan ingin memaksakan game melalui violence (cara yg seringkali
berhasil bermanfaat) dengan ancaman menyerang kantor JIL, malah
mendapat tandingan bukan hanya dari JIL, tetapi juga polisi, banser NU,
aliran2 progresif dari MH dan mahasiswa2 Islam plus non-muslim. Suatu
kristalisasi yg jelas2 memperluas pengaruh LIB.
Front ini bahkan bersatu membela Ahmadiyah yg sesungguhnya hanya
bermain sebagai ‘pelanduk hitam’ (pelanduk sebagai ‘pelanduk ditengah’,
dan hitam spt kambing πŸ™‚ dalam catur kekuasaan Islam ini. Kerusakan
fisik terhadap Ahmadiyah akibatnya sangat terbatas – terutama di Jabar
saja — di daerah2 lain bahkan polisi juga melindungi mereka.
Akibatnya gambit FUN itu mentog (tampaknya Gusdur juga membaca hal yg
sama – itu sebabnya dia berperan aktif di depan front ini, berusaha
merebut nama besar dari LIB — khas GD πŸ™‚

Pemerintahan SBY tampak banci dalam catur ini, SBY sangat gamang
bertindak, terkesan plin plan misalnya dalam posisinya terhadap
Ahmadiyah. Jelek tampaknya.

Sampai perkembangan terakhir, akibat bersatunya front LIB – terutama
berkat jasa GD – maka gambit FUN backfired. Sekalipun ‘target antara’
seperti pengembalian role FPI yg mlempem setelah bom-bali dulu,
berhasil ditelusupkan (heran! mirip sekali spt operasi2 militer jaman
soharton! memang ilmu ngobok ya itu2 saja … ) tetapi sasaran2
berikutnya spt pembantaian Ahmadiyah sebagai langkah awal menuju LIB,
bisa dibilang gagal total.
Role MUI bahkan tarnished — sebagai ‘kuda troya’ menuju mainstream
muslim awam peran MUI malah mengalami setback. MUI tampak partisan
FUN. Selain stigma ucapan ‘tolol’ dari LIB (Ulil) mendenigrate posisi
‘luhur’ MUI, yg secara tradisional harus mampu menjaga muka dari semua
kritik (itu sebabnya aliran keras FUN sampai menggunakan kata2 gorok2an
–> sayangnya di ‘tatag’i oleh GD jadi nggembos).

Gambit ini tampaknya sudah mereda, karena mulai tampak golongan FUN
menarik tali kekang anjing2 herder mereka – dan mulai berubah taktik ke
menjilati luka2 — dengan statemen2 semi konsiliatoris dan kampanye
pelunakan.

Dari front LIB, GD berhasil menarik keuntungan dengan forefront
positionnya — bukannya tidak mungkin nanti akan dipakai untuk
negosiasi2 dengan berbagai pihak, hal yg bagus bagi dirinya yg sekarang
sedang mumet soal PKB internalnya. Sebagai suatu ideologi LIB tidaklah
terlalu banyak menarik keuntungan. Awam tetap cenderung tidak (mau)
mengerti dan mainstream muslim tidaklah lebih dekat ke LIB.

Tetapi setidaknya suatu gerakan ofensif FUN telah gagal — bak serangan
sayap kanan di papan catur, FUN mundur dengan kerugian2.

Yang menarik dari semua percaturan ini adalah, bagaimana MH dan NU –
sebagai organisasi2 yg benar2 berpengaruh (walau tidak mutlak, lihat
efek waktu pemilu) pada majoritas muslim awam – menarik pelajaran dari
ini semua? Bagaimana MH melihat dinsamsu adalah tolok ukur paling
gampang, karena dinsamsu sudah ‘kadhung’ terlalu FUN.

Lalu juga penting, bagaimana SBY – dan masyarakat ngindo secara umum –
membaca ini semua?

Secara pribadi, aku menilai sebagai suatu ideologi FUN jelas2 defect,
seperti halnya fasisme dan komunisme, bahaya dari ideologi defect
begini adalah irreversible, sekali kau memberi mereka kunci kekuasaan,
maka hanya darah dan (jutaan, bagi negara sebesar Indonesia) nyawa
untuk menariknya lagi. Pelajaran sejarah sangat banyak, baik dari
fasisme militerisme sohartons, maupun dari talebanisme dan komunisme in
general. Ini fakta.

Disisi lain LIB mungkin akan tetap merupakan ideologi yg ‘ivory
tower’ish bagi rata2 muslim awam, secara spt kaum environmentalist
activist. So be it. Wafatnya Cak Nur yl merupakan kerugian bagi LIB
yg masih selalu memerlukan public figure. Rata2 awam tidak akan pernah
‘nyampe’, sehingga akan sulit sekali menjadi suatu social atau
political power.

Tetapi kehadirannya jelas2 penting / crucial, karena bisa jadi rallying
cry yg mampu menggerakkan kekuatan2 social lain, dalam kasus gambit FUN
kemarin, diwakili oleh GD.

GD mungkin (spt biasanya , bahkan biasanya segera ‘jualan’ dengan
menawarkan jasa makelaran .. πŸ™‚ mempunyai agenda2 sendiri yg segera
tidak akan sejalan dengan ideologi LIB — tetapi rallying NU youths nya
telah make a point, bahwa jika setidaknya jika LIB tidak bakalan
dipahami, tetapi FUN juga bukan alternatif yg acceptable.

Kita akan melihat sesuatu yg somewhat ditengah – yg jika bisa di
jabarkan secara jelas, bisa menjadi kekuatan politis yg kuat (remember
2009 … ). Ini jelas note kuat bagi MH NU dan partai2 politik lain,
untuk tidak menyebut SBY dan JK (!!).


Dan secara global – termasuk didalam nya masadepan agama Islam secara
keseluruhan — gambit FUN kemarin penting artinya. Kristalisasi posisi2
spt kemarin memaksa para pemikir muslim mengasah otak tidak secara
gembal-gembul woolie ngomong kata2 indah tanpa makna sambil mereguk
kenikmatan duniawi (!).

Aku melihat terutama di kalangan intelektualitas MH (tentu saja NU
juga, walau pengaruhnya akan berbeda). Seperti halnya kaum protestan
di kristen …. Thanks to Merle untuk analogi2 ahmadiyah = mormon, MH
= calvinist dll, ada batasnya, tetapi jelas2 useful – terutama untuk
mengingatkan semua pihak ttg benang merah sejarah, untuk tidak arogan
menyatakan bahwa ‘aliranku lain, tidak ngikutin kaidah sejarah’.
Seperti halnya gravitasi, tidak peduli apakah kau percaya pada teori
newton atau tidak, gravitasi tetap berlaku — maka teori2 sains spt
sejarah psikologi sosiologi dan ekonomi (dan evolusi πŸ™‚ juga akan
selalu berlaku ..

Itu sebabnya, tulisan2 yg saintifik, ditulis dengan kaidah2
obyektifitas sains bukan hanya dengan bias faith atau ideologi, adalah
penting.

Merle menulis bahwa saat ini gambit mereda, tetapi jelas tidak selesai,
dan apa yg terjadi akan memberi bekas pada masa depan…. semua lumpur
dan tanah yg terlewati air sungai dari hilir akan mempengaruhi kondisi
di muara ….. (conditional existence – kata buddha? πŸ™‚

Catur Islam Indonesia!
Surak2 sih boleh saja, kayak nonton bal2an — tetapi kita semua kudu
tetap nyadar dan tidak jadi korban spt Khan!

b@b
4Sept05