Isi teologinya Quran atas Yesus identik dengan pikiran Yahudi atas
Yesus, alias selalu negatif model Yesus BUKAN anak Allah, Yesus TIDAK
mati. So, Yesus di Quran adalah Yesus dalam retorika negatif buat
menandingi retorika Kristen. Lagian, kalau saja Muhammad pernah percaya
sama Isa atau paling sedikit ngerti Injil,
maka paling tidak orang-orang Maria Magdalena, ke-12 muridnya Yesus,
Paulus, Herodes, semuanya itu mustinya juga ada di Quran.


Coba tanya sama si muslim: KALAUPUN si Yesus di salib itu diselimurkan
oleh si Allah…, tapi tetap saja, KENAPA koq pertama-tama sekali si
Yesus itu bisa di salib? Apa salahnya si Yesus dalam versi Quran
sehingga dia harus di salib? Di versi Kristen yach jelas karena si Yesus
itu kriminal serta ikonoklastik, dagangannya orang di Bait Allah seenak
udelnya sendiri diobrak-abrik. Itu khan kelakuan tipikalnya si ekstremis
Yahudi Ortodoks di Israel, model yang barusan ini nembak serta membunuhi
orang-orang Arab Israel di bis umum. So, di Alkitab sendiri jelas;
gara-gara premanismenya di Bait Allah itu, maka Yesus si Yahudi
ekstremis itu pun secara adil disidang dan dihukum. Tapi sekarang, dalam
versi Quran sendiri, KENAPA Yesus harus disalib? Apa salahnya?
{mosgoogle}
Lihat saja, nanti khan si muslim itu kelabakan sendiri menutupi
bolong-bolong ilogisme ceritanya!

>- Dari awal juga pengikut Yeshua pecah dua: yg percaya dia itu Tuhan-
>jadi-manusia dan yg percaya dia itu manusia-jadi-Tuhan. Setelah debat
>pendapat 400 tahun bahkan sampai sekarang, pengikut Yeshua tidak juga
>sepakat. Dua pendapat itu sudah ada dari awal mula setelah Yeshua
>pergi.
>
>
>
Debatnya memang ada dan buntutnya jadi Konsili Nicea. Tapi, apa itu
berarti Muhammad sendiri terpengaruh oleh perdebatan Kristen itu?
Muhammad itu pada awalnya sekali murni cuman terpengaruh si Yahudi —
mungkin dalam model pedagang terpengaruh pedagang lainnya. Namun
kemudian si Muhammad pun yach dengar tanya kanan kiri tentang si Yesus;
terus dia jadi lebih percaya sama kristologi versinya si Arian. Buat si
Muhammad, kristologinya si Arian itu bisa mendamaikan idenya si Yahudi
dan idenya si Kristen.

Sudah jelas si Muhammad niru 99% ritualnya Yahudi, mulai dari sunat,
kiblat, wudhu, haram/halal, haji (Yahudi ke Yerusalem), sunat,
hukum-hukum Mosaik model potong tangan, rajam, bahkan juga sistem
kalendernya, dst. Bandingkan ritual serta doktrin Islam dengan Kristen,
maka perbandingan langit buminya langsung keluar. Secara historis, ini
juga masuk akal. Di jamannya Muhammad, Kristen identik dengan kekaisaran
Romawi dan kita tahu si Muhammad ingin bersaing dengan si Romawi dan si
Persia; tapi si Muhammad sendiri tidak perlu merasa bersaing dengan si
Yahudi yang memang tersisih itu.

Coba jawab pertanyaan yang simple sekali ini: KENAPA si Muhammad harus
hijrah ke Yathrib? Apa karena (1) tidak ada kota-kota lain yang bisa
dituju? (2) apa karena si Muhammad ngimpi dan dapat wangsit dia harus ke
Yathrib? (3) apa si Muhammad punya pacar di Yathrib? Coba lihat Anda
pribadi. Anda ke Amerika, dan langsung ke SF…, KENAPA? Mungkin karena
mencari saya, karena itu nggak ke MidWest….:) Singkatnya,
INTENSIONALITAS tindakannya itu rasional dan nggak ngawur. So, kenapa si
Muhammad HARUS ke Yathrib?

Simple! Karena di sana ada banyak Yahudi dan si Muhammad percaya mati
bahwa si Yahudi bakal mengakuinya sebagai ‘nabi’!

Kenapa si Muhammad tidak mencari kerumunan orang-orang Kristen Koptik
saja waktu itu? Coba spekulasikan dan jawab sendiri.

>- Golongan SATU yg percaya dia Tuhan-jadi-manusia, memusatkan ibadah
>pada Jesus dan cerita dramatis penyaliban dan kebangkitan dan
>pendapat2 seputar itu. Trinitarianisme adalah alirannya. Kelompok ini
>tokohnya antara lain adalah Paulus. Kelompok ini menang secara
>politis dan menjadi ajaran mainstream Kristen. Kitab sucinya
>diakreditasi dan dikanonisasi sebagai Bible atau Alkitab.
>
>- Golongan DUA yg percaya dia sebaliknya manusia-jadi-ilahi,
>memusatkan ibadah pada Allah "Bapa" yg diajarkan Jesus.
>Monotheisme/unitarian/tauhid adalah nama alirannya. Ajarannya
>berpusat pada amal baik. Kelompok ini tokohnya antara lain adalah
>Thomas dan dimasa modern adalah Khalil Gibran. Golongan ini masih
>memegang banyak injil yg tidak diakreditasi atau apokrifa. Golongan
>dua ini memang tidak terlalu menonjol dari awalnya. Mungkin karena
>amal baik tidak bisa dipropagandakan dengan mudah.
>

Semua klenik Semit goblog itu perbedaan utamanya terletak di doktrinnya
atas kematian — karena agama Semit itu memang agamanya penakut. So,
ambil contoh nyata saja. Waktu si Paus Yohanes II mampus dan rohnya
terbang masuk ke nerakanya Islam, di Vatikan pun berlangsung upacara
yang dipimpin sama si Jerman Benedict. Perhatikan ucapannya si Benedict
waktu itu, katanya (terjemahan saya): "kita percaya bahwa si Paus
Yohanes Paulus sekarang sedang tersenyum ke kita dari jendela di
rumahnya si Allah Bapa".

Omongan simple, tapi apa implikasi serta presuposisi teologisnya omongan
itu?

Ini: semua Kristen (katolik protesan pantekosta, dst) PERCAYA bahwa
begitu roh mampus maka tanpa perlu duduk di ruang tunggunya para mayat
roh itu bisa langsung terbang ke surga! Teologi Kristen PERCAYA bahwa
sekali mampus, maka roh yang mampus itu pun langsung diadili! Dengan
kepercayaan inilah maka si Benedict itu bisa bilang begitu!

Sekarang lihat kontrasnya waktu si raja goblog Fahd mati. Nah, apa ada
satu orang muslim atau pun ulama Wahabi yang bilang "sekarang si Fahd
sudah duduk di sebelah kanannya auloh tersenyum melihat kita"? Nggak ada
dan NGGAK MUNGKIN! Kenapa nggak mungkin? Yach karena teologinya beda!
Muslim dan juga Yahudi percaya bahwa setelah mereka mampus, maka mereka
pun pergi ke alamnya orang-orang mati serta menunggu sampai Hari
Penghakiman itu tiba! Kalau nggak salah ini namanya alam barzah. So,
perbedaan teologi ketiga Semit ini atas fenomena mampus itu kontras
sekali khan!?

Islam dan Yahudi pun meski kelihatannya sama, tetap juga punya perbedaan
penting. Nah, si Yahudi percaya bahwa Hari Penghakiman itu ditandai oleh
kedatangan si Mesias (yang dalam versi Kristen yach si Yesus yang sudah
datang itu sendiri). Siapakah si Mesias itu buat si Yahudi? Di kalangan
si Yahud ada banyak sekali spekulasi tentang identitas si Mesias ini,
seperti: dia adalah si Elijah, dst. Sekarang, Islam pun juga mengajarkan
bahwa Hari Penghakiman itu akan ditandai juga dengan datangnya si
Al-Mahdi. Lantas, siapakah si Al-Mahdi itu buat si Islam? Ini: si Yesus
atau si Isa sendiri!

So, dari sini kelihatan jelas tolol serta confused-nya si Muhammad dalam
mencerna subtilitas perbedaan-perbedaan teologis ini! Jadi, seperti
semua pencontek, hasilnya pun jadi mozaik tanpa bentuk yang kacau balau!
Di satu sisi si Muh mencaplok kepercayaan Kristen yang bilang "kiamat
bakal ditandai dengan kedatangan si Yesus kedua kalinya"; tapi di sisi
lain, si Muh pun mencaplok penolakan Yahudi atas si Yesus menjadi "Yesus
nggak pernah mati". Hasilnya pun adalah perspektif yang kompromis atas
kediriannya si Yesus.

Nah, KENAPA si Muh HARUS kompromis begini?

Pertama, yach jelas karena si Muh sebagai Arab buta huruf kebingungan
sendiri memahami misterinya si Yesus. Kedua, juga karena si Muh perlu
kompromi dengan si Kristen dan si Yahudi karena dia khan merasa jadi
nabi terakhir dalam tradisi Yahudi — meski dia itu arab satu-satunya di
sana, selain Ismail yang dipaksa-paksa jadi nabi oleh Islam — sehingga
dia pun merasa perlu mendamaikan si Yahud dan si Kristen. Ketiga, kalau
mau dilihat secara epistemologis, confused-nya Quran itu juga bisa
ditarik serta diurai secara mundur untuk melihat perselisihan segala ide
yang masuk ke kepalanya si Muh; sekaligus kita bisa menentukan derajat
pengaruhnya. Si Muh itu kita tahu, gampang marah sebagaimana biasanya
orang bodoh; model waktu dia marah sama si Yahudi, ehh…., maka
mendadak saja pengikutnya di suruh nyembayangi Kabah lima kali bukannya
nyembayangi Yerusalem tiga kali lagi! Infantilisme si Arab Muhammad ini
menarik juga kalau ditelusuri dari isinya Quran.

JD