Sebenarnya sudah lama saya bermaksud menulis tentang kekeliruan
fatal dalam IPTEK yang ditempuh oleh Indonesia selama ini. Tetapi
berulang-kali saya batalkan, sebab saya tidak ingin memberi
nasihat  yang baik dan berguna untuk suatu rezim yang sebenarnya
ingin say
tumbangkan. Rencana saya semula, kritik dibawah ini baru akan saya
umumkan jika rezim yang sekarang ini, yang tidak lain adalah penerus
dan pewaris rezim Orbanya Soeharto, sudah berhasil diruntuhkan dan
digantikan dengan yang baru, yang memiliki bakat dan harapan untuk
bisa maju. Tetapi setelah saya pikir2, sebuah maksud yang baiktidak perlu menunggu kesempatan untuk dilancarkan, apalagi situasi
di Indonesia tambah lama tambah gawat, seperti yang akan saya ungkapkan dibawah ini.

Dengan kekeliruan2 berat dan fatal dalam
IPTEK yang dilakukan sejak rezimnya Soeharto, adalah tidak mungkin
bagi Indonesia untuk mengejar ketinggalannya. Bahkan observasi saya
selama belakangan ini telah menunjukkan, bahwa seluruh generasi
cendekiawan Indonesia telah semakin jauh keliru mengerti makna dan
hakekat Iptek, dan akibatnya telah lebih jauh lagi menempuh jalan
buntu, yang tidak akan menghasilkan buah apapun yang berguna bagi
masyarakat, melainkan hanya berguna sebagai objek KKN.

Kesalahan pertama (yang sesungguhnya jelas dengan sedirinya) adalah
mengacau-balaukan Sains dengan Teknologi (engineering). Seperti
yang dimengerti oleh manusia Indonesia sekarang ini, maka antara
keduanya tidak ada bedanya. Contoh yang paling gamblang dari jaman
rezim Orba, Habibie disebut seorang scientist, padahal baik dari
pendidikan maupun hasil kerjanya (jika ada), semuanya bersifat
engineering se-mata2, dan tidak ada bau2nya dengan sains barang
sedikitpun. Saya heran, apakah tidak ada orang Indonesia yang mulai
curiga, kenapa mesti menggunakan dua kata, science dan engineering?
Beberapa waktu yang lalu saya juga pernah berdebat dengan seorang
engineer di apakabar ini (saya lupa siapa namanya), yang juga
mengacau-balaukan science dengan engineering, padahal dia studi di
Amerika. Jadi kesimpulan saya, studi di Amerika maupun Eropa tidak
banyak gunanya, tetap saja orang Indonesia tidak sanggup membedakan
science (sains) dengan engineering (teknologi), hingga akibatnya
seumur hidup tergantung kepada BELAJAR menurut petunjuk orang lain,
tetapi tidak sanggup memperkembangkan atas dasar kreativitas dan
tenaga diri sendiri. Saya kira, sikap salah-kaprah yang demikian
ini adalah salah satu penyebab yang membikin suatu bangsa menjadi
bangsa kuli, seperti yang dulu amat ditakutkan oleh presiden
Soekarno. Jika cendekiawan2 dalam bidang iptek saja sudah salah-
kaprah begini, apa yang bisa diharapkan dari cendekiawan2 bidang
humanisme dan sosial-politik?

Kesalahan fatal ini sumbernya adalah salah mengerti akan apa yang
disebut science, atau di-Indonesiakan saja, SAINS, serta bedanya
dengan teknologi. Kesalahan yang sama dilakukan oleh bayak negara2
yang sedang berkembang, karena mereka tidak mengalami dan tidak
pernah ikut serta dalam perkembangan sains itu sendiri (yang dimulai
oleh Isaac Newton diakhir abad ke-17 dan mencetuskan apa yang
dikenal sebagai gerakan Pencerahan (Aufklaerung), yang kemudian
menjadi landasan buat SEGALA perkembangan sains yang kita kenal
dewasa ini). Gejala yang sama bahkan bisa ditemui sejak belakangan
ini di Amerika, terutama sebab banyak sarjana2 belakangan ini
diimpor dari negara2 yang sedang/belumberkembang. Dalam generasi
saintis yang lalu, gejala ini belum nampak, sebab saintis2 generasi
lampau datangnya dari Eropa, yang dengan sendirinya pasti tercerah
(aufgeklaert). Gejala ini saya ketemui dalam profesi saya sekarang,
dimana tugas saya antara lain adalah membenahi dunia IPTEK di
Amerika dari polusi2 semacam ini, tepatnya dari apa yang disebut
PSEUDO-SCIENCE. Saya tidak meng-ada2, apalagi beritikad rasis, jika
saya tandaskan disini bahwa pseudo-science demikian ini kebanyakan
digagaskan oleh sarjana2 gadungan yang datang/berimigrasi dari
negara2 yang belum berkembang. Pseudo-sains ini sangat merugikan,
sebab PSEUDO-SCIENCE ini tidak (akan) menghasilkan apa2 yang
berguna, melainkan hanya memproduksi sampah2 yang tidak ada buahnya
maupun manfaatnya. Bahaya ini bahkan juga mengancam negara2 yang
sudah lanjut berkembang, seperti Amerika dan Eropa, sebab mem-buang2
dana dan tenaga yang semakin lama akan semakin parah, jika tidak
cepat2 ditanggulangi. Akibatnya, negara2 yang sekarang ini berdiri
dibarisan terdepan ini lambat laun bisa kehilangan kepemimpinannya
dalam bidang sains dan teknologi. Dipihak lain, bahayanya buat
negara2 yang sedang berkembang jauh lebih besar lagi: mereka tidak
akan sanggup mengejar ketinggalannya.

Pertama saya bahas disini pengertian SAINS yang benar, yaitu sains
yang benar2 telah membawa kemajuan bagi umat manusia, yang hasil2nya
sama2 kita nikmati sejak dirintis oleh Newton dan Leibniz diakhir
abad ke-18. Definisi dari SAINS saya ambil disini dari dua website:

(1) http://en.wikipedia.org/wiki/Science
From Wikipedia, the free encyclopedia.
Science refers to either:
• the scientific method – a process for evaluating empirical
knowledge; or
• the organized body of knowledge gained by this process.
Science is knowledge or a system of knowledge covering general
truths or the operation of general laws especially as obtained and
tested through the scientific method. Scientific knowledge relies
heavily upon forms of logic.

(1.a) Jelas disini, dalam dunia (barat) yang telah memperkembangkan
sains itu sendiri, sains itu HARUS berdasarkan EMPIRI (yaitu
persepsi pancaindera). **General laws** (hukum2) yang dimaksud
disini adalah hukum2 alam, yang eksistensinya diluar (artinya: tidak
tergantung) dari kesadaran sang subjek sendiri (secara umum boleh
disebut **ciptaan Tuhan**). Hukum2 macam apapun yang eksistensinya
di-BIKIN atau diakibatkan oleh ciptaan manusia, TIDAK TERMASUK dalam
kategori sains.

(1.a.1) Misalnya, **computer science** itu BUKAN science, sebab
computer itu bikinan manusia, hingga segala hal-ihwalnya utak-utek
berada dalam ciptaan manusia itu sendiri. Hal ini bisa dibaca antara
lain di
<http://www.geocities.com/tablizer/science.htm> dimana seorang ahli
computer sendiri mengatakan/mengakui bahwa **Computer Science** is
Not Science and **Software Engineering** is Not Engineering!

(1.a.2) Satu lagi website lain:
http://jamesthornton.com/wp/display/350/351.wimpy> James Thornton –
Internet Business Consultant <hornton cs.baylor.edu>: **Computer
Science is NOT Science**. Computer science is not a science; its
significance has little to do with computers.

Sekalipun sains sangat tergantung kepada logika dan/atau matematika
(**relies heavily upon logic**) logika dan matematika itu sendiri
BUKAN science, hal mana bisa dibaca di website:

(1.a.3)
<http://www.ed.gov/rschstat/research/progs/mathscience/marburger04.ht
ml>
U.S. Department of Education – Dr. John Marburger, Director Office
of Science and Technology Policy
Papers and Presentations, Mathematics and Science Initiative:
**Science is not nature, math, or nomenclature
Mathematics – the language of nature – is not science, nor is
nature
herself science. Science is something else.**
Jadi, jangan di-salah-kaprah-kan: Memang benar **Scientific
knowledge relies heavily upon forms of logic**, tetapi logic itu
sendiri BUKAN science (matematika adalah betuk tetinggi dari
logika). Sebab logika atau matematika itu eksistensinya berada di
DALAM pikiran manusia, BUKAN bagian dari alam yang ditangkap melalui
pancaindera. Menyelidiki seluk-beluk, hal-ihwal, dan/atau hukum2
berpikir yang BENAR (=definisi logika) tidak bisa disebut sains, se-
mata2 sebab penghayatan matematika atau logika itu tidak melalui
persepsi pancaindera. Sains itu adalah pengetahuan yang berdasarkan
EMPIRI, artinya pengamatan pancaindera.

(2) Website diatas (Dr. Marburger, US Dept. Education)) selanjutnya
mendefinisikan apa itu sains, yang pada hakekatnya SAMA dengan
definisi yang diambil dari Wikipedia diatas: ** Science is not
nature, math, or nomenclature. Science is a way of improving
understanding about nature. "Science" has become a word loaded down
with meanings. At its core, however, science is a way of continually
improving our understanding about nature. It is a method, a
practice, even for some a way of life. And it is based on examining
nature to test our ideas.** Disini artinya, *nature* itu BUKAN *our
idea*, melainkan nature/alam itu menjadi ujian/test bagi kita punya
*idea*. *Idea* yang sudah, dan terus-menerus diuji/ditest secara
demikian inilah yang didefiniskan sebagai SAINS. Sedangkan
alam/nature itu persepsinya tidak bisa lain adalah se-mata2 melalui
pancaindera. Sekali lagi, segala persepsi yang tidak melalui
pancaindera TIDAK termasuk apa yang disebut alam atau *nature*,
sebab isi daripada persepsinya bisa di-ubah2 menurut kemauan kita
sendiri. Apa yang benar buat anda bisa saja tidak benar buat saya
atau orang lain. Sebaliknya, apa yang ditangkap oleh pancaindera
adalah sama bagi setiap manusia. Jadi objektivitas disini terjamin.

(3) Definisi lain lagi dari sains, yang juga SAMA dengan kedua
definisi diatas, bisa diambil dari NOAA
(NOAA=National Oceanic and Atmospheric Admniminstration, badan resmi
pemerintah USA).
<http://www8.nos.noaa.gov/coris_glossary/index.aspx?letter=s>
*** science – a method of learning about the physical universe by
applying the principles of the scientific method, which includes
making EMPIRICAL OBSERVATIONS, proposing hypotheses to explain those
OBSERVATIONS, and testing those hypotheses in valid and reliable
ways; also refers to the organized body of knowledge that results
from scientific study**.

Sekali lagi jelas disini, definisi sains TIDAK LEPAS dari EMPIRICAL
OBSERVATION, yaitu persepsi pancaindera Definisi ini asalnya dari
filsafat Positivisme, landasan dari sains didunia barat, yaitu
masyarakat yang menciptakan sains itu sendiri (filsafat ini
diprakarsai diawal abad ke-20 oleh saintis2 terkemuka, seperti
antara lain, Albert Einstein, Niels Bohr, Heisenberg, dll.). Jadi
terbukti disini, pengertian Audifax akan apa itu yang dinamakan
sains ternyata SALAH KAPRAH dan menyeleweng dari pengertian sains
yang sesungguhnya, seperti yang dimaklumi dalam dunia yang telah
menciptakan sains itu sendiri. Jika ada orang yang ingin
mendifinisikan sains secara lain lagi, yah boleh saja (sah2 saja).
Tapi jangan harap (a) bisa mendapat pengakuan dari dunia sains, dan
(b) bisa mencapai hasil2 seperti apa yang telah dicapai oleh dunia
sains yang sesungguhnya, yaitu hasil2 gilang-gemilang yang dicapai
oleh science & technology yang kita nikmati dewasa ini.

Kebanyakan orang (Indonesia) mengira, aktivitas saintis tidak lain
adalah mengajar. Ini salah-kaprah. Baik dalam sejarahnya sejak
dari Eropa, maupun situasi dewasa ini, para saitis adalah tulang
punggung industri canggih (hi-tech) termasuk industri pertahanan
(defense). Misalnya, bom nuklir dulu juga hasil gagasan dan karya
para saintis kelas wahid yang kebanyakan datang dari Eropa
(sekalipun kepalanya, Oppenheimer, adalah kelahiran Amerika).
Sampai dewasa ini, yang melakukan riset memperkembangkan senjata2
canggih buat pertahanan negara Amerika tidak lain adalah para
saintis. Jadi saintis itu tidak hanya mengajar, tetapi terutama
RISET. Riset inilah ynag merupakan INTI dari Sains dan juga profesi
utama dari seorang Saintis. Aktivitas mengajar adalah cuma salah
satu kewajiban sambilan, yang umumnya justru kurang disukai oleh
para saintis.

Pengertian bahwa sains harus didasarkan atas observasi empiris ini
mempunyai dampak (konsekwensi) yang sangat jauh. Ini disebabkan
terutama oleh karena pengalaman (empiri) seseorang itu terbatas
sekali oleh ruang maupun waktu. Demi memperluas bidang empiri ini,
para saintis HARUS bisa belajar dari para koleganya, yaitu melalui
PUBLIKASI. Dari sini lahirnya tuntutan bahwa publikasi saintifik
itu HARUS bisa dipercaya, tidak berisi angan2 atau pemikiran2 yang
subjektif belaka, yang dampaknya justru akan MENYESATKAN para
kolega, bukannya memperluas bidang observasinya. Bukan saja data2
(hasil observasi) harus objektif dan tidak boleh dipalsukan, tetapi
jika diambil dari data orang lain, maka sumbernya (referensi) harus
jelas dan bisa ditelusuri. Pada akhirnya, semua sumber harus bisa
ditelusuri sampai kepada observasi empiris yang mula2.

Maka itu publikasi hasil2 karya samasekali bukan untuk **pamer**,
apalagi jika yang dipublikasi adalah hasil2 *pemikiran*. Itu
barangkali bisa benar dalam dunia filsafat, tetapi samasekali keliru
dalam dunia Sains. Mempublikasi *pemikiran* tidak ada manfaatnya,
selama itu tidak ada hubungan atau tidak dihubungkan dengan dunia
nyata, yaitu yang bisa dipersepsi secara empiris. Saintis tidak
mempublikasi hasil pemikirannya, melainkan hasil RISET nya, baik
riset metodologi (teoretis) maupun eksperimental, agar hasil2nya
bisa di-MANFAAT-kan oleh para koleganya.

Jika seseorang mengaku *saintis* tetapi takut idenya di*bantai* oleh
orang lain, maka baik orang yang mengaku saintis maupun yang
membantai SAMA2 tidak bisa disebut saitis, sebab itikad kedua belah
pihak salah-kaprah dan menyeleweng dari inti dan tujuan publikasi
itu sendiri. Saintis yang tulen justru INGIN hasil2 risetnya
mendapat sorotan dari para koleganya, sebab inti dan/atau landasan
dari kemajuan sains adalah VERIFIKASI dan FALSIFIKASI, yang hanya
bisa dijalankan oleh orang lain.

Jangan kaget, ada banyak (sekali) disiplin atau mata2 pelajaran
universitas yang TIDAK TERMASUK SAINS. Disamping matematika,
filsafat, agama, dan computer science tersebut diatas, juga
Psikologi tidak termasuk sains, sekali lagi, sebab objek dari
psikologi tidak bisa ditangkap dengan pancaindera, dan eksistensinya
tidak terlepas dari sang subjek, jadi tidak memenuhi kriteria dari
apa yang patut disebut sains. Ini terbukti dari pendapat2 ahli2
bahkan profesor psikologi sendiri, seperti antara lain:

<http://www.paulagordon.com/shows/hagen/>
Penilaian dari seorang psikiater AS, Dr. Margaret Hagen:
**PSYCHOLOGY IS NOT SCIENCE**
Boston ÷ Americans strongly believes in psychology — almost half
of
us have had psychotherapy. **The problem is that psychology as a
scientific discipline is in its infancy**, according to experimental
psychologist Margaret Hagen. Margaret Hagen has a Ph.D. in
developmental psychology from the University of Minnesota. She
studies visual perception, searching to understand the relationship
between what we have in our heads and what goes on in the world,
including the relationship between size, distance, shape, slant,
color. She currently teaches at Boston University. She is a prolific
author with a number of books and articles to her credit. Her dog
and cat were welcome participants in this conversation. Science is
based on hypothesis testing, independence from the scientist,
believing things are true only when proven to be true, and clear and
consistent definitions Anything else is **junk science** which she
describes. **Clinical psychology, in my view, is classical junk
science.**

Perhatikan sekali lagi penilaian M. Hagen yang tepat akan apa itu
sains: ** Science is based on hypothesis testing, INDEPENDENT from
the scientist**, TERLEPAS dari sang saintis sendiri, persis seperti
semua definisi2 diatas.

Sekali lagi penilaian dari website yang sekaligus memberikan
pengertian yang benar tentang apa yang disebut sains:

<http://www.grimbeorn.blogspot.com/2003_04_27_grimbeorn_archive.html>
PSIKOLOGI = LOGICAL FALLACY! PSIKOLOGI ADALAH KEKELIRUAN LOGIKA !!!
*** Understanding why psychology is not science requires a short
examination of what science is. The religious view is not in any
danger of being taken for science, as it has no pretenses in that
direction. The religious view takes its authority from faith, which
is ultimately not testable beyond the confines of one man’s heart.
But psychology partakes of studies, not prayer; it holds
conferences, publishes journals, engages in peer review and debate:
how can I hold that it is a thing more like religion than like
physics?
*** Pengertian yang benar tentang apa yang disebut sains:
Science requires that all principles be not only testable, but
FALSIFIABLE. Newtonian physics felt, at the turn of the 20th
century, that it had basically solved all but a few straggling
problems, and was remarkably close to a complete explanation of how
the universe worked. It still viewed atoms as unsplittable, and had
no knowledge of quarks or quantums. When the "new physics" came
along, it undermined the entirety of the discipline as it existed.
Everything had to be cast out or reexamined: a resolution is still
out of reach.
*** Psychology’s bedrock claims are NOT SIMILARLY FALSIFIABLE.
Behavioral psychology claims that the mind is an illusion of the
brain: its evidence is that it can explain behavior by reference
only to chemical properties of the brain, and therefore a mind is
unnecessary. That kind of argument is a LOGICAL FALLACY known as
ARGUMENTUM AD IGNORANTIAM, that is, the ARGUMENT FROM IGNORANCE. The
fact is that behavioral psychology cannot show that there is no
mind, any more than it can show that there is. At the last, it is
engaged in an act of faith, upon which principle no scientific
inquiry is possible.

Singkatnya: psikologi tidak sanggup membuktikan bahwa pikiran itu
tidak eksis, tetapi juga tidak sanggup membuktikan bahwa pikiran itu
benar eksis. Jadi psikologi BUKAN Sains, melainkan Logical Fallacy,
yang sumbernya adalah ketidak-tahuan (ignorance).

Satu lagi pendapat dari pakar psikologi, Profesor Psikiatri Thomas
Szasz:
** Psikologi BUKAN sains, tetapi agama** (Thomas Szasz, M. D.,
Professor of Psychiatry, State University of New York) in
<http://www.angelfire.com/ny5/habc1/habc1art1.html>
*** PSYCHOLOGY IS NOT SCIENCE, not even pseudo-science, it is
religion. It is a belief system with its own set of high priests,
like Carl Jung, the founder of analytical psychology, and also an
admitted anti-Christian. Jung wrote, "Religions are systems of
healing for psychic illness….That is why patients force the
psychotherapist into the role of a priest, and expect and demand of
him that he shall free them from their distress. That is why we
psychotherapists must occupy ourselves with problems which, strictly
speaking, belong to the theologian."
Thomas Szasz, M. D., Professor of Psychiatry, State University of
New York says this about psychotherapy,
"It is not merely a religion that pretends to be a science, it is
actually a fake religion that seeks to destroy true religion."

Saya bisa tambahkan, bahwa salah-kaprah ini bukan hanya terbatas
dalam lingkungan ilmu psikologi dan ilmu2 sosial saja, melainkan
justru dalam ilmu2 teknik. Dimasa yang lalu, contoh yang jelas
adalah kekeliruan orang Indonesia menilai B.J. Habibie sebagai
saintis, padahal tidak ada satu karyanya yang bertaraf sains.
Satu2nya karya yang di-bangga2kan (a.l. dalam biografi atau resume
diwebsitenya) adalah satu REPORT perusahaan MBB, yang notabene hasil
di-coach (di-**latih** atau di***trim**) oleh 6 (baca: enam)
insinyur2 MBB dalam rangka meng-ORBIT-kan Habibie, memenuhi
permintaan resmi dari bapak-angkatnya, Soeharto. Suatu Report itu
TIDAK termasuk hasil RISET, melainkan hasil kerja routine, termasuk
hasil **coach** atau **training**, disamping TIDAK memenuhi kriteria
VERIFIKASI dan proses FALSIFIKASI dari para kolega (untuk memenuhi
syarat itu, karya saintifik HARUS dimuat dalam peer-reviewed
journal!).

Dimasa sekarang, rupanya kekeliruan ini masih tetap saja belum bisa
diluruskan, hingga sangat meragukan sekali, apakah Indonesia bisa
mengejar ketinggalannya dalan IPTEK:

(a) Karya Dr. Wospakrik yang digemparkan oleh media di Indonesia
(a.l. koran Kompas) samasekali bukan karya ILMIAH (SAINTIFIK),
apalagi bisa disebut penemuan ilmiah (invention), sebab tidak
menghasilkan sesuatu pengetahuan yang baru (baca definisi diatas),
melainkan hanya berupa VERIFIKASI matematis dari teori yang sudah
ada. Verifikasi matematis memang perlu (semua teori sains harus
juga benar secara matematis), tetapi matematika BUKAN SAINS (baca
definisi diatas). Suatu riset harus menghasilkan sesuatu yang baru,
yang sebelumnya belum (pernah) ada. Verifikasi memang perlu, tetapi
BELUM mencapai taraf riset.

(b) Usaha2 Profesor Yohannes Surya dengan **Olympiade Fisika**nya,
yang juga digemparkan dan dibangga2kan orang Indonesia, adalah dalam
Chaos Theory, yaitu salah satu bentuk **PSEUDO-SCIENCE**, yang
samasekali BUKAN SAINS, malah digolongkan sama dengan Creationism,
UFOlogy and Sexology, yang TIDAK ADA HARGANYA untuk dipersoalkan
dan/atau dipertanyakan (Not worth asking). Berikut ini buktinya:

(b.1) <http://www4.ncsu.edu/~n51ls801/340scipseudo.html>
(NCSU = North Carolina State University)
LESSONS ABOUT DEMARCATING SCIENCE FROM PSEUDOSCIENCE
It would have been very nice if we could have had a nice, clear,
clean, simple criterion for separating the good stuff from the bad.
We have looked at over a dozen such criteria, and they’re all
rotten, either because they misrepresent science or because they
misrepresent the view being assessed, or both. Two things are clear
from our examination of Scientific Creationism and other views: (i)
the difference between science and pseudoscience is a difference in
degree not a sharp difference in kind; and (ii) there is simply no
substitute for careful and detailed scrutiny of a theory when its
scientific status is in question; sometimes, we must even spend some
of our scarce resources on experimental evaluation of the theory.
Things are even more complicated when it’s not a theory, but a
branch of inquiry whose status is in question. Astrology,
phrenology, Scientific Creationism, and Chinese acupuncture are
theories; unlike them, parapsychology, UFOlogy, sexology, and Chaos
theory are not theories, but branches of inquiry defined by the
questions that they pose. To show that any of THE LATTER ARE
PSEUDOSCIENTIFIC, we would have to demonstrate that THE QUESTIONS
THEMSELVES ARE NOT WORTH ASKING (or, perhaps, that they have no hope
of being answered), and that’s generally very difficult to do.

(b.2) Bahkan boleh dibilang Chaos Theory adalah sebuah NONSENS yang
menurut mode (fashionable Nonsense), yang banyak digagaskan oleh
cendekiawan2 Postmodern untuk menyalah-gunakan (abuse) Sains.
Penggagas2 intelektual ini malah bisa disebut **Intelektuil Palsu
(Impostures)**. Buktinya saya muat dibawah ini:
FASHIONABLE NONSENSE <http://home.tiac.net/~cri/1998/fashion.html>
** Fashionable Nonsense, Postmodern Intellectuals’ Abuse of Science,
Alan Sokal and Jean Bricmont, Picador (St. Martins), 1998, ISBN 0-
312-19545-1, 300pp, hardcover.
This is the English version of Impostures Intellectuelles,
originally published in French in France 1997. Elsewhere I have
commented on Richard Dawkin’s extended review that appeared in
Nature.
** Popularizations of Science may be a cure worse than the disease.
There are a number of fields of Science which are badly popularized
and are quite fashionable – they include Godel’s theorems,
relativity, quantum mechanics (particularly the uncertainty
principle), chaos theory, and catastrophe theory. As such, these
fields (often bastardized) are part of the intellectual culture.

Sebagai penutup, saya peringatkan kepada para cendekiawan Indonesia,
jika kalian benar2 ingin memajukan Indonesia dalam Sains, belajarlah
Sains dalam definisi, jalur, dan lingkungan yang benar, jangan
maunya ikut2an MODE hanya gara2 ingin menonjol membuat sesuatu yang
baru yang se-olah2 berarti, tanpa memiliki SKILL yang memadai buat
menjalankan Sains yang sebenarnya. Bahayanya memang besar dan juga
banyak sekali kesempatan, yang semuanya juga dilahirkan didunia
barat sendiri, tetapi tidak pernah mendapat perhatian dari dunia
sains yang sebenarnya, sebab dianggap NONSENS dan IMPOTEN, tidak
akan sanggup menghasilkan apa2 yang benar2 bermanfaat buat kehidupan
manusia. Salah satu yang juga digemparkan orang2 Indonesia sebagai
**genius** dalam sains yang baru, setanding dengan Einstein dan
Heisenberg (ingat juga kebagnggaan Indonesia akan ke*geniusan*nya si
Habibie), adalah Stephen Wolfram:

<http://www.lurklurk.org/wolfram/review.html>
CRITICAL REVIEW OF STEPHEN WOLFRAM’S "A NEW KIND OF SCIENCE" 12
July
2002
*** With extreme hubris, Wolfram has titled his new book on cellular
automata "A New Kind of Science".
But it’s not new. And it’s not science.
** A more serious example where Wolfram is simply wrong is in his
treatment of CHAOS THEORY. Throughout the book, he equates chaos
theory with the phenomenon of sensitive dependence on initial
conditions (SDIC). This allows him to claim that any randomness that
occurs in a chaotic system is just a consequence of the inherent
randomness in the least significant digits of the initial condition.
In turn, this sets the stage for what he claims is one of his own
major discoveries: that simple programs can inherently generate
complex behavior and randomness.
*** However, SDIC is just one of the attributes of chaotic behavior.
Another important attribute of chaos theory—and indeed the reason
why the field is called "chaos" in the first place—is the
observation that complicated, apparently random behavior can arise
from simple systems (when they are nonlinear). When I made a quick
survey of five books on CHAOS THEORY on my bookshelf, only three of
them mentioned SDIC as part of their definition of chaos, and in
those cases it was only part of the definition.
*** …. This key point undermines the whole of the first half of
the
book, and makes much of the second half sound familiar—when CHAOS
THEORY appeared on the scene, its proponents also made the case for
it being a key ingredient of little understood complex behavior in a
range of fields from fluid dynamics to population biology to
cardiology to economics.

Komentar Penutup dari Indoshepherd:
Salah-kaprah orang Indonesia agaknya bukannya sudah membaik, tetapi
sebaliknya malah terjerumus semakin dalam dan dewasa ini sudah
mencapai saat2 kritis, point of no return. Gejalanya, Profesor
Yohanes Surya pun mau coba2 mengikuti jejak Stephen Wolfram, yaitu
MENTERAPKAN ILMU FISIKA dalam problim2 PASAR BURSA dan EKONOMI.
Kritik saya cuma singkat saja, tetapi jelas:

(a) Ekonomi dan Pasar Bursa adalah BIKINAN MANUSIA, jadi tidak
mungkin menjadi salah satu subjek dari SAINS, yang syaratnya harus
membahas ciptaan Tuhan, yang eksistensinya tidak disebabkan oleh
manusia.

(b) Lha wong membuktikan kesanggupannya menerapkan ilmu fisika dalam
bidangnya yang asli/natural saja belum atau tidak sanggup, kok sudah
mau SOK menerapkan pada ilmu ekonomi dan pasar bursa segala? Apa
ini bukannya tekebur dan tidak tahu diri namanya?

Maka itu saya tidak heran dengan berbagai macam aktivitas orang
Indonesia belakangan ini yang sok ilmiah, tetapi justru membuktikan
bahwa mereka tidak mengerti apa itu yang dinamakan ilmu pengetahuan
atau sains. Salah satunya adalah aktivitas Mochtar Riady (bapaknya
James Riady dan pendiri/pemilik perusahaan konglomerat Lippo ynag di-
ban dari Amerika gara2 mau menyogok presiden Clinton) yang sampai
demikian tekeburnya, hingga tanpa kemampuan apa2 berani2 mendirikan
**The Mochtar Riady Centre for Nanotechnology and Bioengineering
(Karawaci, Indonesia)**, malahan berhasil melalui KKNnya diangkat
menjadi staf Rektorat Universitas Indonesia, hal mana dampaknya
justru menjatuhkan martabat UI sendiri. Jika saya yang menjadi
sarjana Indonesia yang benar2 mampu, adalah suatu penghinaan yang
menurunkan martabat saya sendiri untuk melacurkan diri bekerja pada
institut palsu demikian. Komentar saya: Lha wong meniru makro-
teknologi yang konvensional saja kagak becus, kok berani2nya
mendirikan institut buat nanotechnology? Ingin melangkaui
mikroteknologi yang dikuasai oleh Jepang dan Amerika? Ini jelas
gara2 SALAH-KAPRAH, salah-mengerti akan apa yang disebut
Nanotechnology. Apalagi ada yang sampai ingin memenangkan hadiah
Nobel? Walah … walah ….! Membuat karya ilmiah yang bisa
dimuat
dimajalah professional Sains dan Teknologi saja belum/tidak becus,
kok sudah mengimpi pengin meraih hadiah Nobel??? Bangun bung Riady,
bangun! Jangan ngimpi, dan terutama jangan tekebur!

Anjuran saya kepada cendekiawan2 Indonesia yang benar2 memiliki
kemampuan: BOIKOT semua usaha2 saintis2 gadungan macam Mochtar Riady
ini. Anda akan menurunkan derajat sendiri dan menutup jalan
selanjutnya buat karier anda, jika anda sekali salah-jalan dan ikut-
serta dalam usaha2 PSEUDO-SCIENCE macam demikian, persis sama
seperti halnya para saintis muda di Amerika/Eropa yang menutup jalan
kariernya sendiri, jika sekali salah masuk dalam golongan
**Scientific Creationism**. Orang2 demikian ini akan serta-merta
kehilangan kepercayaan dunia sains kepada keilmiahan karyanya, jadi
semacam bunuh-diri dalam kariernya.

(Bersambung kebagian II)