( Nov 14, 2005 @ 9:57) Hari Mnggu kemarin Elda, anak dari Emmy yang adalah keponakan istri saya, jadi urang awak juo, berlebaran kerumah saya. Dia ini lulusan IPB dengan IP 3.1, sekarang bekerja di sebuah perusahaan Perancis. Dia mengongkosi sekolah adiknya yang mengambil D-3 teknik informatika di Bina Nusantara kedua orang tuanya sedang susah.
Elda: – Cerita dong Angku tentang politik, untuk menambah wawasan Elda. Misalnya apakah orang India lebih tebal rasa nasionalismenya dibanding orang Indonesia.


RM: – Jangan tanya yang sukar-sukar dong. Terus terang Angku tidak tahu apa jawabnya, karena tidak tahu apa tolok ukurnya. Tapi menurut pendapat Angku pribadi, suatu langkah publik apakah nasionalistik atau tidak mari kita ukur hasilnya. Apakah benar menguntungkan bangsa atau menjerumuskan bangsa kearah keterpurukan secara moral – material. Jadi menurut Angku, langkah Robert Mugabe yang merampas tanah pertanian milik orang Eropa bukan langkah nasionalistik. Karena akibatnya Zimbabwe kekurangan pangan dan menjadi bangsa pariah. Begitu pula tidak semua langkah kita dengan semangat
nasionalisme yang menggebu-gebu — benar nasionalistik; contohnya tidak usahlah Angku sebutkan.

Elda: – Elda kok jadi bingung.

RM: – Tidak perlu bingung. Para pendiri republik ini sudah meletakkan rasa nasionalisme yang benar dan kokoh. Budi Utomo 1908 mengenyahkan rasa minder bangsa inlander melalui pendidikan kebangsaan. Sumpah Pemuda 1928 satu nusa satu bangsa satu bahasa adalah wisdom tiada tara. Saat itu diperkenalkan Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan Indonesia merdeka
nantinya, sebuah lagu kebangsaan yang agung.  Proklamasi 17 Agustus 1945 yang singkat dan tegas memberi semangat untuk membela Sang Merah Putih.  Tidak semua bangsa dibekali dengan semangat kebangsaan seperti itu.

Elda: Nasionalismenya bangsa yang cerai berai bagaimana Angku?

RM: – Lain ladang lain belalangnya, kata pepatah.  Terkejut Angku mendapati bahwa di  Federasi Sosialis Yugoslavia (RFSY) nasionalisme adalah TABU alias dirty word. Sebelum cerai berai, RFSY terdiri dari 6 republik yaitu Slovenia, Croatia,
Bosnia-Herzegovina, Serbia, Montenegro, dan Macedonia serta 2 provinsi otonoom yaitu Vojvodina dan Kosovo.  Sebelum dijajah oleh Nazi Jerman, negara-negara itusudah ada. Mereka bersatu padu dibawah pemimpin partizan Josip Broz Tito. Sekalipun sama-sama komunis, Soviet Uni menganggap Yugoslavia sebagai musuh karena negara ini tidak mau didikte, sehingga
tahun 1948 keluar dari Comintern. Supaya kalau diserang ada yang membela, Tito menjadi co-founder dari Gerakan Non-Blok yang diresmikan di Beograd tahun 1961.

Elda: Mengapa nasionalisme disana diharamkan?

RM: – Kenapa nasionalisme tabu (SARA)? Karena nasionalisme berarti nasionalisme bangsa Serbia, nasionalisme bangsa Croat, nasionalisme bangsa Bosnia, dan nasionalisme bangsa Albania (di Kosovo).  Bangsa-bangsa itu merasa berbeda karena memang berbeda sejarah dan karakter manusianya. Bosnia pernah lama jadi jajahan Ottoman dan di-Islamkan. Croatia dan Slovenia sampai akhir Perang Dunia Pertama jadi jajahan Austria-Hongaria. Pada Perang Dunia Kedua, pemerintah Croatia jadi boneka Nazi seperti Vichy di Perancis. Satu-satunya pers komunis yang bebas sebebas-bebasnya dan mengandung pornografi adalah pers
Yugoslavia, tapi pers mentabukan nasionalisme.  Bangsa-bangsa itu bersedia mengikatkan diri dalam federasi karena Tito dan Liga Komunis Yugoslavia menjamin perbedaan bangsa dan bahasa. Bahasa Serbski, Croat (sesungguhnya mirip Serbski), Bosnia, Hongaria (di Vojvodina) dan Albania (di Kosovo) bukan saja diakui keberadaannya, tetapi juga dipakai di sekolah, kantor, radio dan TV. Parlemen federal juga memakai bahasa-bahasa itu secara resmi sehingga perlu ada simultaneous interpretation seperti di PBB saja.  Satu-satunya lembaga yang memakai satu bahasa saja ((bahasa Serbo-Croat) adalah militer atau Jugoslovanska
Narodna Armija (JNA).

Elda: – Wah, hebat dong ABRI disana.

RM: – JNA didesain untuk membentengi kesatuan negara RFSY dan menahan kemungkinan serangan blok Soviet Pakta Warsawa. Doktrin militer Yugoslavia mirip dengan Hankamrata, hanya saja disana sudah jalan.  Kalau isyarat sudah diumumkan, dalam waktu singkat warga negara yang sudah dilatih sudah tahu dimana mereka akan berkumpul dan mengenakan seragam dan mengambil senjata. Tank, panzer, kapal perang dan pesawat jet tempur dibikin sendiri. Howitzer bisa
dipanggul cocok untuk terrain bergunung, ABRI pernah beli untuk dipakai di TimTim tapi entah mengapa macet. Pesawat jet tempur dari jenis STOL (short take-off and landing) ada yang dapat mendadak keluar dari bukit cadas ditepi jalan raya. Karena doktrin militernya menarik, banyak Pamen ABRI bersekolah staff college disini; termasuk Ibrahim Adjie yang sempat mempersunting seorang wanita Bosnia, kemudian beliau menjadi Pangdam Siliwangi.

Elda: – Bangsa kok hidup tanpa nasionalisme bagaimana ya?

RM: – Sekalipun hidup tanpa nasionalisme (lebih tepatnya ethno-nasionalisme), semangat gotong royong dan solidaritas orang Yugo boleh diacungi jempol. Kalau Elda melintas dijalan raya, boleh jadi Elda memperhatikan hampir semua jembatan ada plakat yang mencantumkan nama-nama pemuda yang telah bergotong royong membangun jembatan itu. Kalau ada bencana badai salju, penduduk setempat membagikan makanan dan minuman hangat kepada pengendara yang terperangkap dalam mobil. Dubes Indonesia Majen Soepardjo Rustam (beliau masih fasih berbahasa Serbski ketika bertemu dengan Angku 15 tahun kemudian), Majen Adnan dan Majen Yono Atmodjo secara hiperbolik menyatakan bahwa orang Yugo lebih Pancasilais daripada orang Indonesia. Angku tidak tahu apakah mereka masih berpendapat seperti itu setelah mendengar kejahatan terhadap kemanusiaan yang dikomandoi oleh Radovan Milosevic dan Jendral Ratko Mladic.

Elda: – Akhirnya kan Rusia dan Yugoslavia hancur berantakan juga.

RM: – Justru nasionalisme merupakan sebab utama pecahnya Yugoslavia dan Uni Soviet. Apakah semangat daerah yang kian mengental di Indonesia tidak nantinya menjilma menjadi ‘nasionalisme Minang, Palembang, Kutai, Sunda, Banten, Banjar, Jatim, Bali, Aceh dan Papua’ ? Kita dapat saja mengatakan hal itu tidak mungkin, karena nasionalisme nusantara sudah mendarah daging sejak dikumandangkannya Sumpah Pemuda 28 November 1928. Tapi siapa yang dapat menjamin rasa sebangsa setanah air tidak akan tererosi searah perjalanan waktu?

Elda: – Untuk mencegah itu apa yang harus kita lakukan, Angku?

RM: – Ya kita harus menentang setiap upaya publik yang akan mempertebal rasa kedaerahan, kalau itu mengikis semangat kebersamaan nasional. Misalnya Professor Doktor Harsya Bachtiar, dekan fakultas sastra UI menentang rencana Presiden Sukarno untuk mendirikan universitas di tiap kabupaten dengan alasan bahwa itu nantinya akan mempertebal semangat mengutamakan putra daerah. Ternyata pendapat orang Minang ini diterima oleh Bung Karno.